AKSI Modal Utama Pendidikan

Oleh : Dudung Nurulah Koswara
(Kepala SMAN 1 Parungpanjang)

Banyak sekali teori pendidikan bisa kita baca di sejumlah buku. Banyak sekali proyek pendidikan di negeri ini. Termasuk POP yang saat ini masih hangat diperbincangkan. Banyak sekali organisasi terkait pendidikan di negeri ini. Di tengah “keramaian” banyaknya organisasi terkait pendidikan, ada satu organisasi yang sangat strategis.

Organisasi strategis itu bernama Asosiasi Kepala Sekolah Seluruh Indonesia (AKSI). Kepala sekolah adalah entitas manajer pendidikan dan leader di satuan pendidikan. Ia punya kompetensi, memegang anggaran, mengendalikan GTK, punya fasilitas dan memiliki otoritas terkait usaha mengembangkan layanan pendidikan.

Entitas kepala sekolah adalah entitas umumnya berdaya secara kapasitas untuk mengembangkan dunia pendidikan di wilayah satuan pendidikan. Satuan pendidikan adalah unit terpenting di negeri ini terkait layanan pendidikan pada anak bangsa. Satuan pendidikan bagaikan “Kementerian Pendidikan” yang langsung melayani anak didik.

Tidak ada “barang” paling berharga di negeri ini selain anak didik. Mereka adalah pewaris negeri dan calon penghuni masa depan mewakili kita yang kelak sudah tiada. Setiap anak didik adanya di satuan pendidikan. Setiap satuan pendidikan manajernya adalah kepala sekolah. Kepala sekolah dengan potensi para guru dapat menggerakan geliat pendidikan. Sekolah bisa menjadi unit inovasi dan wajah kolaboras segenap potensi pendidikan.

Kau dibagaimanakan dunia pendidikan kita, tergantung guru dan kepala sekolahnya. Tidak usah neko-neko dunia pendidikan kita. Manfaatkan puluhan ribu kepala sekolah sebagai penggerak pendidikan di seluruh tanah air. Bila perlu dana POP semuanya diberikan pada AKSI. Kemudian AKSI menyalurkan dana itu kepada semua anggotanya untuk membangun dunia pendidikan agar lebih baik.

Tentu saja anggaran yang digelontorkan itu harus berdampak dan harus bisa dipertanggung jawabkan. Bahkan bisa dipertanggung gugatkan. Kementerian Pendidikan harusnya berpikir simple dan potong kompas. Sukses dunia pendidikan sangat terkait dengan manajerial dan kepemimpinan para kepala satuan pendidikan. Arahkan, bila perlu “Cuci Otak” semua kepala sekolah untuk bergerak masif membangun pendidikan, mulai dari sekolahan.

Nampaknya tak perlu-perlu mamat, amat maksud Saya terkait ormas penggerak. Cukup kepala sekolah penggerak dimanfaatkan sebaik mungkin. Gelontorkan anggaran POP untuk semua satuan pendidikan yang paling membutuhkan. Jadikan para kepala sekolah sebagai pelaksana program sekolah bergerak. Ormas penggerak Saya pikir tidak penting-penting amat.

Beda dengan peran kepala sekolah negeri dan swasta sangat strategis. Kepala sekolah sangat tahu keadaan guru, keadaan tenaga kependidikan, fasilitasa pendidikan, dinamika prestasi dan prustasinya anak didik. Bahkan kepala sekolah sangat tahu tingkat kompetensi guru di setiap satuan pendidikannya. Komitmen guru terhadap organisasi dan komitmen anak didik pada proses pembelajaran sangat diketahu oleh para kepala sekolah.

Para kepala sekolah adalah “pasukan elite” pendidikan yang dapat dimanfaatkan untuk mempercepat sukses pencapaian tujuan pendidikan. Para kepala sekolah harus digerakan dan diberdayakan lebih maksimal. AKSI adalah rumahnya para kepala sekolah yang pantas dijadikan barisan depan sukseskan pendidikan nasional. Berikan anggaran POP pada para kepala sekolah sebagai hibah pendidikan untuk membangun kompetensi guru dan fasilitas sekolah.

Jangan sampai malah terjadi sebaliknya. Para kepala sekolah dipolitisasi. Dijadikan hamba birokrasi. Dijadikan “robot pendidikan” yang selalu menunggu program dan diprogram atasan. Kepala sekolah harus merdeka, merdeka dari segala hal yang mengganggunya. Jangan sampai ada 64 kepala sekolah mengundurkan diri karena diperas oknum penegak hukum. Kepala sekolah harus digerakan bukan diintimidasi.

Anak didik merdeka terlahir dari guru merdeka. Guru merdeka terlahir dari kepala sekolah yang merdeka. Kepala sekolah merdeka terlahir dari sistem pendidikan merdeka yang menggerakan para kepala sekolah sebagai pasukan pendidikan garis depan. Kementerian Pendidikan harus melindungi para kepala sekolah dari gangguan eksternal yang merugikan pendidikan. AKSI setidaknya harus menjadi rumah kekuatan moral intelektual manajerial para kepala sekolah.

(2)