Sekolah Unggul Versi Namin AB

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Kepala SMAN1 Parungpanjang)

Jujur Saya tidak mengenal dengan baik siapa Namin AB? Namun saat Saya berselancar dalam dunia maya, Saya menemukan pemikirannya terkait bagaimana membangun sekolah unggul. Pemikirannya layak diresume untuk disebar ulang. Sekolah unggul tentu sangat kontributif lahirnya lulusan yang unggul. Tidak mudah menjadi sekolah unggul, apalagi sekolahnya penuh masalah dan keterbatasan.

Sekolah penuh masalah dan penuh keterbatasan jangan jadi penghalang untuk tetap bergerak, merayap atau pun meloncat agar lebih baik. Sebelum Saya jelaskan pemikiran Namin AB, Saya sitir pendapat Dirjen GTK Dr. Iwan Syahril Ph.D. Ia mengatakan pentingnya mental “Kenyamanan Dalam Ketidaknyamanan”. Para pecundang tidur dalam kenyamanan dan para pemenang bangun, terjaga dan kreatif dalam ketidaknyamanan.

Selanjutnya Iwan Syahril mengatakan pentingnya energi mau. Kemauan yang kuat yang ada dalam diri setiap orang akan membuatnya bergerak. Bila mental mau sangat kuat dan menguasai diri maka seseorang akan berusaha mewujudkannya. Bisa jadi seseorang terus berpikir, mencari solusi, mencari jejaring, mencari bantuan, mencari dana dan berikhtiar tiada henti untuk mewujudkan kemauannya. Ada tantangan dan ada kemauan tinggi bisa menstimulus geliat positif.

Terkait membangun sekolah unggul sebelumnya sudah Saya sarikan dari pemikiran Prof. Dr. Arief Rachman, sosok senior yang terkenal dan beken. Kini Saya sarikan dari pemikiran guru muda yang belum terkenal bernama Namin AB. Namin AB adalah motivator muda terkait dunia pendidikan dan banyak memberikan pencerahan pada para guru dan kepala sekolah. Motivasi dan narasi motivatif adalah sebuah teori yang bisa kita jadikan rujukan. Teori itu mudah, mempraktekannya sangat tak mudah.

Pemikiran Namin AB terkait sekolah unggul yang pertama adalah PPDB tanpa seleksi. Mendaftar di sebuah sekolah sebaiknya tanpa seleksi. Sekolah unggul adalah sekolah yang pada tahap Inputnya (saat masuk) tidak melakukan seleksi dalam hal berkaitan nilai atau kemampuan tertentu. Sekolah unggul dalam tahap inputnya hanya melakukan pementaan tentang kemampuan peserta didik. Pemetaan penting, bukan seleksi. Pemetaan untuk mengetahui modal awal potensi anak didik.

Kedua sekolah harus menerima semua anak didik dengan berbagai karakter. Sekolah unggul adalah sekolah yang bisa memanusiakan manusia, menerima segala keterbatasan yang dimiliki oleh calon siswa baru. Anak didik autis, slow learner, fast learner dan siswa-siswa dengan keunikan lainnya bisa diterima. Sekolah harus inklusif, yaitu sekolah yang menerima keberagaman kemampuan siswa. Kita mengenal tentang teori dari Gardner tentang Multiple Intelligence. Sekolah unggul adalah sekolah yang bisa mengembangkan segala potensi yang dimiliki oleh peserta didik.

Ketiga Sekolah mendahulukan nilai-nilai akhlak. Sekolah unggul bukanlah sekolah elit, biayanya mahal, gedungnya mentereng dan berderet mobil guru dan kepala sekolah. Sekolah yang unggul adalah sekolah yang mengutamakan nilai-nilai akhlak dalam budaya sehari-harinya, sekolah yang dalam tujuan akhirnya adalah menjadikan pribadi-pribadi berakhlak mulia. Guru memuliakan anak didiknya, anak didik santun pada gurunya. Itulah sekolah berkarakter.

Keempat sekolah memiliki agenda rutin pelatihan guru. Salah satu penentu sekolah unggul adalah adanya guru-guru yang berkualitas. Sekolah Unggul adalah sekolah yang memiliki agenda rutin dalam kegiatan pengembangan diri guru-gurunya. Terkait Manajemen Kelas, Administrasi Mengajar, Komunikasi Efektif, Strategi Mengajar, Pelatihan Menulis dan sejumlah hal penting terkait keperluan profesi guru.

Kelima sekolah mampu mensejahterkan gurunya. Kesejahteraan guru adalah hal penting bagi sekolah unggul. Kesejahteraan guru akan berdampak pada peningkatan kualitas sekolah. Banyak guru yang memiliki komitmen tinggi dalam mewujudkan visi dan misi sekolah. Tentu komitemen guru terhadap organisasi itu terkait kesejahteraan diri dan keluarganya. Guru sejahtera lebih mungkin mensejahterakan anak didiknya. Sangat tak mungkin guru tidak sejahtera melayani anak didik dengan baik..

Keenam sekolah memiliki hubungan baik dengan orangtua, guru dan pengelola sekolah. Sekolah dan orang tua harus saling bersinergi, karena bagaimanpun tidak akan ada sebuah program yang bisa berhasil, jika apa yang dilakukan di sekolah dengan keinginan orangtua berseberangan. Kolaborasi orangtua, guru dan pengelola sekolah harus mesra. Orangtua harus punya rasa memiliki sekolah dengan baik. Guru pun harus punya rasa menyayangi anak didik sebagaimana perlakuan dan harapan orangtuanya.

Ketujuh sekolah memiliki budaya unggul (Kebiasan-Kebiasan Baik). Kebiasan-kebiasan baik (Habits) wajib dimiliki oleh sekolah unggul, karena ini akan menjadi brand sekolah tersebut. kebiasan-kebiasan baik ini tercermin dalam budaya sekolah. Budaya sekolah akan menjadi bekal penting bagi masa depan anak-anak, karena kelak mereka akan membiasakan hal-hal yang baik dari pengalaman baik di sekolah. Kebiasaan baik ini akan menjadi media membentuk anak bersama-sama melakukan kebaikan.

Kedelapan sekolah menjadikan membaca dan menulis agenda wajib bagi guru-guru. Buku sudah sepatunnya dijadikan sahabat terbaik guru. Guru harus terus mengasah kemampuan dirinya. Jika kesempatan untuk mengikuti pelatihan sangat jarang maka solusinya adalah dengan cara membaca buku-buku inspiratif yang berhubungan dengan profesinya. Hadirkan buku-buku populer. Kepala sekolah membuat kebijakan, bahwa setiap guru wajib meresensi buku minimal 1 buku dalam sebulan, kemudian hasil resensi tersebut di kaji dalam rapat bulanan. Sekolah literatif, guru literatif, anak didik mengikuti.

Kesembilan sekolah mementingkan kebersihan dan kesehatan sekolah (Sekolah Hijau). Tempat yang paling nyaman untuk belajar adalah tempat yang bersih dan sehat. Sekolah unggul biasanya secara fisik bisa sangat terlihat, walaupun gedungnya tidak mentereng, bertingkat-tingkat dan tidak ber AC, tapi sekolah tersebut terlihat asri, nyaman, hijau dan bersih. Sekolah dan anak didik harus mampu menjaga hubungan baik dengan alam. Guru dan anak didik harus nyaman karena sekolah sehat, bersih dan menghijau.

Kesepuluh sekolah mau berbagi kesuksesan dengan sekolah lain. Sekolah unggul bukanlah sekolah unggul sendirian. Sekolah unggul sebaiknya bisa menjadikan sekolah lain terbawa unggul. Sekolah unggul “tidak pelit” ilmu, untuk membagikan kesuksesannya dengan sekolah-sekolah lain. Sekolah unggul artinya mampu menebar aura keunggulannya pada sekolah lain. Demikian sepuluh ciri sekolah unggul versi Namin AB dengan sedikit ubahan diksi dari penulis dengan tidak menguarangi substansi.

Sekolah unggul adalah harapan pemerintah, masyarakat dan semua pihak. Kepala sekolah, guru, tata usaha dan semua warga civitas akademika memiliki beban moral dan mental untuk mengusung sekah unggul. Sebaiknya warga sekolah tidak hanya sebatas bekerja formalistik bekerja standar dan menggugurkan tugas. Melainkan semuanya harus seirama bekerja melampaui tuntutan tugas formalnya demi mewujudkan sekolah unggul.

Sekolah unggul tidak total identik dengan sekolah favorit, pencapaian prestasi akdemik, pencapaian lulus ke PT, guru dan kepala sekolahnya sejahtera, bangunan mewah di tengah kota. Sekolah unggul bisa juga identik dengan sekolah yang paling membuat anak didik bahagia, terlibat, tersalurkan dan berkembang potensi dirinya. Sekolah unggul muaranya adalah di wajah anak didik. Bukan di kepala sekolah, guru, TU, komite sekolah dan hal kebendaan lainnya.

(199)