Ketika Guru Rindu Berat

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Kepala SMAN1 Parungpanjang)

Sungguh haru dan romantik melihat curhatan guru-guru SMAN1 Parungpanjang dalam WAGnya. Sejumlah kata dan gambar ditayangkan karena rindu berat ingin kembali belajar tatap muka. Salah besar bila ada sejumlah oknum orangtua siswa yang nyinyir pada guru karena dianggap senang tak mengajar di kelas. Faktanya para guru berada dalam “derita kerinduan” ingin segera ketemu siswanya untuk mengajar tatap muka.

Sejumlah hasli survei menyimpulkan para guru sudah ingin kembali mengajar di sekolah dengan tatap muka. Sekolah kini sepi, ruang kelas bagaikan rumah hantu. Era PJJ/BDR menyebabkan sekolah dan ruang-ruang kelas berdebu, sepi tanpa kemeriahan anak didik. Sejumlah guru dan siswa di sejumlah media sosial pun tidak sedikit yang mengekspresikan kerinduan ingin segera ke sekolah.

Berikut Saya tuliskan sejumlah ekspresi guru yang rindu pada anak didiknya. Adalah Jamaludin Wakasek Sarana SMAN1 Parungpanjang berkata singkat ketika sahabat guru lainnya mengatakan rindu pada anak didiknya. Jamaludin mengatakan, “Iya” Namun kata singkat ini menunjukan seribu rindu dan Ia tak bisa berkata-kata selain dalam ungkapan simple, iya. Jleb, rindunya. Itulah guru, jiwa pedagogiknya mengikat dirinya dengan siswanya

Adalah Eni Lusiati guru Seni Budaya malah membuatkan narasi rindu dalam WAG sebagai berikut : “Rindu senyumu, rindu sapamu , rindu canda tawamu, rindu nakal dan manjamu putra putriku SMAN 1 Parungpanjang. Kapan lagi suasana seperti itu (ceria bersama) ada lagi? Kangen menyapa dengan lembut, kangen menegur yg datang terlambat. Kangen gelendotan manja siswi 2 yang sedang curhat. Kangen nyukur rambut siswa yang gondrong. Ah, semua semakin terasa membuat ku rindu.”

Tak kalah rindu berat Bapak Haerudin seorang guru PKN, menjadi melow. Ia menuliskan sebuah puisi, “ Aku tau aku lemah. Aku tau aku tak berdaya. Bagaimana mungkin aku disebuat kuat. Tatkala menahan rindu saja tak mampu. Kenapa kau hadirkan rasa itu? Kenapa? Tapi, ini bukan salahmu bukan pula salahku. Ini salah dia. Dialah jarak yang memisahkan kita. Yang membuat aku dan kamu tak lagi selangkah seirama dalam suka dan duka. Lantas perlukah aku marah? Tidak! Karna dengan rindu aku selalu mengingatmu dalam doa.

Disusul ekspresi rindu dari Ibu Lita Yulianengsih guru Sejarah Indonesia dan B. Sunda. Ia menuliskan puisi, sebagai berikut : “Ku rindu guru pujaan. Ku Kangen mata pelajaran. Singkirkan penat dirumah. Yang membuat hati gelisah. Suara riuh teman sekelas. Hanya rindu yang tak terbalas. Semoga Covid 19 perglah jauh lepas bebas. Agar aku kembali ke kelas. Banyak pelajaran yang harus ku bahas. Untuk mencapai cita-cita teratas.” Puisi Lita Yulianengsih di ujung kata terakhir ditaburi gambar hati. Menunjukan cinta dan rindu pada siswanya.

Dari sudut lain kerinduan Bapak Aby na Alif Rahman guru PABP kls 11 IPA & IPS mencurahkan kerinduan pada siswanya dengan doa. Ia dengan hati rindu penuh ikhas menuliskan kata-kata doa singkatnya sebagai berikut : “Doa & harapan seorang guru PABP. Allah maha membolak-balikkan keadaan. Mungkin kini kita masih berjauhan, tapi aku yakin Allah juga akan membuat kita berdekatan kelak. Untukmu yang jauh di sana, kuharap engkau selalu menjaga hatimu. Seperti aku di sini yang senantiasa menjaga hatiku”.

Semua guru SMAN1 Parungpanjang nampaknya terpasung kerinduan pada siswanya. Rindu berat yang menyergap para guru dan terekspresikan dalam WAG para guru. Guru-guru SMAN1 Parungpanjang adalah representasi dari guru-guru Indonesia. Faktanya semua guru rindu siswanya. Hidup para guru saat ini terasa “hampa” bagaikan judul lagu karya Ari Lasso. Lirik akhir lagu Ari Lasso mengatakan, “Hampa terasa hidupku tanpa dirimu. Apakah di sana kau rindukan aku. Seperti diriku yang selalu merindukanmu. Selalu merindukanmuuuu..”

Wahai para guru, rindu guru pada siswanya ternyata lebih berat dari Rindu Dilan pada Milea. Sebaiknya para guru sealu mengurai kerinduan dengan metode PDAM. Gunakan jalur WA dengan komunikasi PDAM (Pantau, Dampingi, Apresiasi dan Motivasi) secara virtual. Stoop! Jangan berikan tugas yang menumpuk dan berat bagi mereka. Rindu itu meringankan mereka bukan memberi tugas yang teralu berat.

Menurut Dirjen GTK Dr. Iwan Syahril, Ph.D kurikulm saat ini bukan target utama. Target utama adalah anak tetap sehat di rumah, kolaboratif dengan orangtuanya dalam pantauan guru. Kuatkan momunikasi empatik, apresiatif dan motivatif. Guru adalah sahabat siswa dikala daring atau pun luring. Semoga kerinduan siswa dan guru segera terobati dengan hilangnya Covid-19 dari muka bumi. Tuhan yang maha kasih, dengarlah jeritan kerinduan para guru dan siswa! Usirlah Covid-19 dalam kuasaMu!

Pos terkait

banner 468x60