Nadiem Memohon

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Kepala SMAN1 Parungpanjang)

Video singkat Nadiem Makarim menyebar di dunia maya terkait polemik Program Organisasi Penggerak (POP). Nampak artikulasi yang sangat persuasif disampaikan Nadiem. Ia mengapresiasi NU, Muhammadiyah dan PGRI sebagai potensi besar bangsa yang sudah bergerak di dunia pendidikan sebelum negeri ini berdiri.

Sinergi Kemdikbud dengan “Saudara Tua” NU, Muhammadiyah dan PGRI adalah hal yang sangat wajib. Diantara syarat sebuah organisasi bertumbuh dan berkembang adalah kolaborasi. Realitas “perceraian” antara Kemdikbud dengan tiga ormas terbesar di negeri ini dalam program POP, tentu tak elok dilihat. Bagaikan sinetron, ada apa dengan cinta?

Ada apa dengan POP? Ada apa dengan Kemndikbud? Ada apa dengan NU, Muhammadiyah dan PGRI? Adakah semuanya modus? Faktanya semua organisasi punya visi misi. Plus Kemdikbud pun punya visi misi. Seungguh indah bila visi misi setiap organisasi atau sebuah lembaga, berfokus pada satu tujuan utama sukses bersama dalam bingkai kebangsaan.

Sungguh indah bila setiap geliat, kebijakan dan dinamika pembangunan negeri ini berbasis keadilan dan tak melupakan sejarah. Bung Karno mengatakan “Jas Merah”, Jangan Melupakan Sejarah. Video singkat terbaru Nadiem nampak sangat “merendah” dan bahkan menggali sejarah peran NU, Muhammadiyah dan PGRI yang kontributif sebelum kemerdekaan.

Ia pun menjelaskan Sampoerna Fondation dan Tanoto “Tak Seperser Pun” akan menggunakan dan APBN. Ia memastikan keduanya menggunakan skema pembiayaan mandiri untuk mendukung Program Organisasi Penggerak (POP). Bila ini benar maka nampak lebih baik dan mengurangi konflik modus diantara sesama ormas. Sampoerna dan Tanoto memang sebaiknya melanjutkan “best practice” yang sudah biasa mereka lakukan.

Nadiem menjelasakan, “Berdasarkan masukan berbagai pihak, kami menyarankan Putera Sampoerna Foundation juga dapat menggunakan pembiayaan mandiri tanpa dana APBN dalam POP dan mereka menyambut baik saran tersebut. Dengan demikian, harapan kami ini akan menjawab kecemasan masyarakat mengenai potensi konflik kepentingan, dan isu kelayakan hibah yang sekarang dapat dialihkan kepada organisasi yang lebih membutuhkan.”

Ungkapan “Mengalihkan Kepada Organisasi Yang Lebih Membutuhkan” sungguh indah. Akan lebih indah lagi bila “Kelayakan Hibah” POP ini benar-benar dapat diterima dengan mudah dan tidak jelimet oleh organisasi penggerak. Bila polanya proporsional, aspirasional dan afirmatif pada geliat kehidupan organisasi penggerak yang finansilanya “kembang kempis” sungguh baik. NU dan Muhammadiyah sebagai ormas terbesar dan kuat pun butuh anggaran. Apalagi PGRI tentu membutuhkan anggaran.

Berdamai dengan Covid-19, maksud Saya berdamai dengan Kemdikbud terkait POP bukan hal buruk. Kemdikbud sudah menyadari potensi konflik dalam POP dan mengubah polanya. Lebih “permisi” dan menunduk pada NU, Muhammadiyah dan PGRI. Mengapa tidak rujuk, rekonsiliatif dan berteletubis, berpelukan demi kebaikan pendidikan kita. Anggaran Gajah, Harimau dan Kijang sebaiknya dimanfaatkan secara priority.

Disaat wabah Covid-19 seperti sekarang ini, faktanya publik kita sedang banyak didesak berbagai kebutuhan. Tentu kebutuhan yang korelaitif dengan tumbuh kembang dunia pendidikian dan keselamatan anak didik dan pendidik kita. Bahkan sejumlah sekolah terlihat kusam, kumuh dan beberapa mau ambruk. Ayo gelontorkan anggaran yang ada untuk kebaikan dunia pendidikan.

Ungkapan Nadiem yang mengatakan, “Dengan penuh rendah hati, saya memohon maaf atas segala ketidaknyamanan yang timbul dan berharap agar ketiga organisasi besar ini bersedia terus memberikan bimbingan dalam proses pelaksanaan program, yang kami sadari betul masih jauh dari sempurna.” Nadiem merunduk dengan meminta NU, Muhammadiyah dan PGRI memberi bimbingan. Ini momentum baikan, momentum berpelukan.

Ketika semua menunduk, merunduk tidak menanduk akan lebih baik. Lupakan egoisme organisasi. Lihat fakta lapangan. Apakah lapangan pendidikan kita membutuhkan siraman dana POP? Semua yang di atas jangan egois. Lakukan langkah menyiram pada kebutuhan publik di arus bawah. Anak didik, pendidik, fasilitas pendidikan harus dikembangkan. Apalagi saat Covid-19 seperti sekarang ini.

Mari kita kuatkan kolaborasi, gotong royong dan saling menghormati secara proporsional. Tidak ada seorang manusia yang hebat, sekali pun Menteri atau Presiden. Bahkan tidak ada seorang Nabi pun yang bisa hidup sendirian. Nabi Muhammad saja butuh kolaborasi dengan para sahabat. Apalagi kita, organisasi dan pemerintah.

Kebersamaan idealnya lahirkan kesejahteraan bersama. Jangan sampai malah lahir permufakatan jahat yang melahirkan kesengsaraan bersama! Manusia adalah makhluk modus. Kurangi manuver politik. Kuatkan mentalitas melayani dan menyiram arus bawah yang kehausan dan butuh dukungan berbagai hal. Wong elite baikan, wong alit akan lebih baik.

Pos terkait

banner 468x60