Hasil Rapat Kades Cibodas Klarifikasi Tentang Berita Kebakaran Hutan

Pewarta: Dwi Arifin

Koran SINAR PAGI (Kabupaten Bandung)-, Informasi yang beredar di media tentang kebarkaran hutan di desa Cibodas Pasirjambu. Langsung diklarifikasi oleh Kepala Desa Cibodas, karena terkesan memojokan Bumdes dan Pemerintah Desa. Selain itu dari fakta lapangan dan hasil rapat jika dibandingkan dengan informasi yang beredar tidak sesuai, jauh berbeda. Mulai kronologis, lalu dari jumlah pohon yang terbakar dan luas areanya.

“Tidak benar kebakaran 3 hektar. Memang benar telah terjadi terbakarnya ilalang dan rumput kering pada lahan tanah kas Desa Cibodas, atau tepatnya di blok Injeuman Papakmanggu. Namun, bukanlah tiga hektar melainkan sekitar 1.050 meter persegi dan atau sekitar 75 tumbak dengan perkiraan sekitar 30 pohon yang terbakar api. Hal tersebut dijelaskan oleh H. Oo Rosidin selaku ketua Bumdes Cibodas yang langsung melakukan pengukuran lahan yang hangus.

Kejadian tersebut menurut saksi mata  Herman, terjadi pada hari Senin, 27 Juli 2020 sekitar pukul 14.00 wib, dan beliau berusaha sendirian memandamkan api supaya tidak membesar. Masih menurut saksi mata bahwa pada saat kejadian ada saudara Eyang Memet tepat berada di lokasi, dan titik api awalnya lebih dekat dengan beliau.

Kepala Desa Cibodas, Willy Wirasasmita pada hari Selasa, 28 Juli 2020 telah melakukan Rapat Koordinasi dengan Lembaga Desa, Tokoh Masyarakat, unsur Babinkamtibmas, Babinsa serta Jajaran Polsek Pasirjambu guna membahas kejadian tersebut. Adapun hasil dari pada rakor tersebut bahwa intinya tidak ada unsur kesengajaan terlebih intruksi baik dari Kepala Desa maupun Ketua Bumdes untuk melakukan pembakaran. Kita ikut menanam masa kita yang bakar, yang benar saja?

Begitu juga dari pihak Kepolisian yang juga hadir Kanit Intel dan Kanit Reskrim belum pasti diketahui penyebabnya. Namun, yang jelas lahan yang terbakar tidak seperti yang diberitakan seluas tiga hektar. Dan harusnya pihak yang seolah-olah paling tau tentang kejadian dilokasi, lalu menyebarkan informasi ke media, tapi ketika diundang rapat. Kenapa tidak hadir?…

Dan media juga sebaiknya ketika memperoleh informasi diwilayah desa. Untuk melengkapi bahan beritanya, coba sempatkan tanyakan atau wawancara langsung ke kepala desa, sebelum dipublikasikan. Karena kades sangat tau tentang desanya.

Perlu diketahui Desa punya program Silase. Proses fermentasi, rumput-rumputan atau hijauan lainnya diolah menjadi pakan ternak yang mengandung nutrisi tinggi untuk menambah nafsu makan ternak saat musim kemarau dan pakan ini lebih tahan lama sehingga bisa menjadi alternatif pakan saat musim paceklik. Rumput itu pada dasarnya sangat bermanfaat, apalagi musim kemarau.

Dan desa juga sudah melestarikan lingkungan dengan program terasering dengan memaksimalkan penanaman pohon keras, pohon buah dan sayuran. Terasering ini terbukti berfungsi menahan air, sehingga mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan, sehingga penyerapan air oleh tanah maksimal. Dengan demikian erosi berkurang.

(62)