Menguatkan Semangat Beramal Dibulan Dzulhijjah Menuju Puncak Ibadah Kurban

Pewarta: Dwi Arifin

Koran SINAR PAGI (Kabupaten Bandung)-, Pemuda Al-Ma’arif menyelenggarakan kajian rutin dengan tema “ Berilmu Sebelum Berkurban” bekerjasama dengan Mejelis Syubbaanul Uluum. Dalam rangka menyambut awal bulan dzulhijah dan kedatangan momen hari raya idul adha & ibadah qurban.

Acara berlangsung pada 13:00-15:00WIB di Masjid  Al- Ma’arif Kampung Cingcin Kolot Rt.1 Rw.10 Desa Cingcin Soreang. Kehadiran Ustadz Ruslan Gunawan S.Ag disambut antusias oleh masyarakat muslim-muslimah dan kaum muda.

Pada awal dakwahnya, Ustadz Ruslan menyampaikan ibadah kurban merupakan ibadah agung, ditentukan waktunya yang berlangsung setiap tahun. Sesuai tema kajian beberapa jam kedepan, kita akan membahas tentang  ilmu untuk persiapan berkurban tahun ini. Kajian hari ini berbeda dengan kajian yang biasa berlangsung karena hari ini. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada hari dimana suatu amal salih lebih dicintai Allah melebihi amal salih yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (meninggal saat jihad)” (HR.Bukhari).

Jadi amalan menuntut ilmu pada ahad ini yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim merupakan amalan yang istimewa bernilai lebih besar dan lebih dicintai Alloh, ucapnya kepada jam’ah yang hadir (26-7-2020)

Selanjutnya Ustadz Ruslan membaca ayat tentang berkurban:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah” (Q.S. Al-Kautsar Ayat 1-3)

Abdulloh Bin Abbas dalam kitab tafsir Ibnu Kasir menjelaskan bahwa ibadah sholat dan kurban merupakan ibadah yang berlangsung setiap tahunnya. Kalau kita pada hari raya tersebut sholat maka berkurban juga harus. Jangan sampai ada pandangan kalau ibadah kurban sifatnya hanya satu kali seumur hidup.

Yang istimewa pada amalan kurban ini. Jika satu kepala keluarga berkurban maka semua anggota keluaga ikut serta memperoleh pahalanya. Dahulu Rosululloh sempat berkurban dan meniatkan satu kurban untuknya dan satu hewan yang disembelihnya untuk umatku yang tidak mampu berkurban.

Tahun ini yang tidak mampu membeli hewan kambing berumur 2 tahun, maka bisa yang lebih muda dan murah harganya. Untuk kurban domba bisa yang baru berumur minimal 6 bulan. Kalau kita tidak memiliki hewan jantan maka boleh yang betina. Terus kalau beli hewan kurban jangan nawar, kalau bisa lebihin. Karena pada dasarnya kita bertransaksi dengan Alloh. Jadi ketakwaan itu sekemampuannya

Lalu bagaimana pak Ustadz jika dibandingkan lebih baik mana dari berkurban sapi dari 7 orang atau satu ekor kambing untuk satu orang?

Dalam kitab Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah menyimpulkan 1 ekor domba lebih baik untuk berkurban dari pada memilih satu sapi untuk 7 orang.

Lalu bagaimana kalau tidak ada domba, sapi atau onta bolehkan hewan lain?

Syaikh Utsaimin mengungkapkan misalnya kerbau itu boleh karena banyak kesamaan dengan ciri hewan kurbankan. Kan di Arab itu ga ada kerbau karena ga ada sawahnya.

Terus kalau kurban menyembelih sendiri atau boleh sama orang lain. Nabi mencontohkan dengan menyembelih hewan kurban dengan tangannya sendiri.

Ustadz Ruslan juga menjabarkan tentang hewan yang cenderung tidak boleh dikurbankan seperti hewan buta matanya. Hewan pincang kakinya Hewan sakit atau kurus tak berdaging. Hewan yang terputus sebagian atau seluruh telinganya.

Intinya dari berkurban nanti, siapa yang mengagungkan syiar islam, maka dia mampu bertakwa. Jadi melalui berkurban ini, sebagai bentuk kita mendekatkan diri kepada Alloh,

Sungguh bulan dzulhijjah ini dimuliakan Alloh. Ada perbedaan dengan bulan lain, karena ada rangkaian ibadah. Berkumpulnya amalan mulai dari shaum arafah, sholat idul adha, ibadah haji dan berkurban.

Pada ahir dakwahnya Ustadz Ruslan mengingatkan agar  panitia kurban saat pandemi harus mengikuti protokol kesehatan yang disosialisasikan Kemenag Provinsi Jawa Barat.

“Kurban ini sebagai bentuk syukur, lalu menghidupkan sunah nabi Ibrahim, wujud berbagi kepada sesama dan langkah mendekatkan diri kepada Alloh mencapai ketakwaan” ucapnya menyampaikan pesan hikmah dari berkurban

Informasi yang dihimpun koransinarpagijuara.com, dari Ustadz Dadan ketua panitia kurban masjid Al-Ma’arif. Saat ini warga yang menitipkan hewan kurbanya tercatat sudah 5 ekor sapi. Tahun ini tidak ada halangan pelaksanaan kurban. Dewan Kemakmuran Masjid berharap semoga amal ibadah kita nanti diterima Alloh Subhanahu wa ta’ala”

(16)