Gerakan Tanam Dan Pelihara Pohon (GTPP)

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Forum Kepala Sekolah 69 Jawa Barat)

Menarik Surat Edaran nomor 522.4/17/Rek yang ditanda tangani Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Surat edaran itu membawa pesan tentang “Pelaksanaan Gerakan dan Tanam Pelihara Pohon di lahan Kritis” kabupaten kota se Jawa Barat. Ini sangat positif dan akan sangat membantu “menyehatkan” lingkungan kehidupan kita.

Ini adalah himbauan kepada seluruh warga Jawa Barat agar melakukan gerakan menanam pohon. Gerakan menanam pohon ini adalah sebah gerakan berbuat, gerakan melakukan hal positif. Menanam dan memelihara adalah mentalitas positif, sangat positif. Sangat berbeda dengan perilaku memetik, mencabut, menumbangkan dan menebang. Terasa konsumtif dan seolah meniadakan.

Gerakan menanam pohon adalah sebuah upaya yang sangat baik. Bahkan diksi menanam itu sangat positif, identik dengan berbuat sesuatu yang positif untuk masa depan dan orang lain. Bentuk perbuatan positif sederhana yang sangat kontributif menciptakan kesehatan lingkungan adalah menanam pohon. Dunia tanpa pohon akan terasa gersang dan panas. Pohon bermanfaat bagi kesehatan lingkungan, menyaring udara dan mengindahkan alam.

Gubernur Jawa Barat menghimbau menanam pohon bagi ASN, orang yang menikah, para wisudawan/wisudawati, orang yang ulang tahun, kenaikan pangkat ASN/TNI/Polri, masyarakat yang memperpanjang STNK, badan usaha yang punya IMB dan bagi warga yang tidak punya tanah maka dapat berhubungan dengan Kantor Cabang Dinas Kehutanan / Penyuluh Kehutanan. Koordinasi dengan KCD Kehutanan dalam gerakan menanam pohon akan lebih tertib.

Anjuran Gubernur Jawa Barat, sepemikiran dengan keinginan Saya. Namun penanamannya di sekolahan. Sudah seminggu kami diskusi tentang pentingnya menanam pohon. Namun konsennya adalah di lahan sekolahan. Sekolah menurut Ki Hajar Dewantara adalah taman siswa dimana sekolah dapat menjadi taman atau tempat bermain siswa. Saya punya keinginan sekolah dijadikan bagaikan hutan.

Setiap lahan sekolah yang memungkinkan diisi dengan tanaman. Ratusan pohon sebaiknya memenuhi sekolahan dan membuat sekolah jadi hijau dan adem. Ini akan sangat sejuk bagi anak didik, pendidikan dan warga civitas akademika. Sekolah yang terlalu banyak bangunan, pengaspalan dan jarang ada pohon sungguh akan berdampak pada mental penghuninya. Sekolah sebaiknya tidak identik dengan hutan beton melainkan hutan mini yang penuh pepohonan.

Seiring dengan harapan Gubernur Jawa Barat tentang himbauan menanam pohon pada semua warga yang tertulis di atas, lebih utama lagi dimuai dari sekolahan. Sekolah, terutama yang ada di kota wajib melakukan inovasi hijau. Sulitnya lahan dan padatanya penduduk di kota semakin membuat lahan hijau terasing dari pandangan kita. Sekolah bisa memulai dengan menghijaukan diri. Tanami, manfaatkan setiap lahan dan ruang dengan sejumlah tanaman atau bunga.

Termasuk sekolah yang berada di pedesaan dan daerah panas sebaiknya lahan dipenuhi tanaman pohon yang hijau. Kesehatan udara, lingkungan yang adem dan menghijau akan kontributif pada karakter penghuninya. Saat ini anak didik sedang PJJ atau daring, sebaiknya momentum ini dimanfaatkan untuk menghijaukan sekolah. Saat anak masuk sekolah untuk tatap muka karena Covid-19 sudah pergi ,biarkan anak didik kaget melihat sekolahnya menghijau bagaikan hutan.

Bisa jadi Covid-19 tidak akan datang lagi bila masyarakat kita punya “pola hidup hijau” banyak menanam dan memelihara pohon, bunga dan jenis tanaman lainnya. Bisa dimulai mental menanam dengan gerakan menanam dan memelihara pohon atau tanaman di sekolah. Setiap anak didik atau setiap kelas punya peliharaan pohon. Betapa indahnya bila setiap sekolahan dari kejauhan terlihat hijau dan bangunanya tersembunyi kerena pepohonan.

Pos terkait

banner 468x60