Menyibukan Diri Untuk Menghasilkan Karya Dari Gudang Ilmu Saat Pandemi

Pewarta: Dwi Arifin-Risna

Koran SINAR PAGI (Bandung)-, Di tengah pandemik covid-19 di tahun ini tentunya tidak boleh menjadi alasan turunnya minat bakat dalam jiwa literasi. Banyaknya waktu luang dan beraktivitas di rumah mestinya itu menjadi ajang masyarakat untuk mengembangkan karya-karya terbaiknya, salah satunya dengan menulis.

Mengangkat judul untuk sebuah karya di tengah pandemik ini justru lebih banyak yang bisa di torehkan. Diantarnya oleh Idris Apandi M.Pd yang telah menorehkan ide serta gagasan di tengah pandemi ke dalam sebuah buku berjudul “Membaca ayat-ayat corona”. Mari simak interaktif bersama Indris Apandi di halaman Ruang Publik media cetak dan online Koran SINAR PAGI tentang buku yang baru diterbitkannya:

Apa latar belakang/tujuan Bapak dalam menulis buku dengan judul “Membaca ayat-ayat corona” ?

Tujuan saya menulis buku yang berjudul “Membaca ayat-ayat corona” ini karena saya ingin mendokumentasikan ide dan gagasan yang berkaitan dengan kondisi pandemik yang terjadi sejak beberapa bulan yang lalu sampai sekarang. Harapannya supaya dapat dibaca oleh banyak orang dan bisa memberikan manfaat dalam memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada warga bagaimana cara menyikapi kondisi pandemik yang masih terjadi, khususnya dalam konteks pendidikan.

Dalam buku tersebut banyak tulisan yang berkaitan antara pandemi covid-19 dengan masalah pendidikan seperti pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan sebagai upaya menyiasati pembelajaran tatap muka yang sudah dilarang dalam kondisi seperti ini. Walaupun dengan kondisi pandemik ini, pembelajaran harus tetap dilaksanakan supaya peserta didik itu tetap mendapatkan layanan pendidikan seoptimal mungkin.

Di buku ini juga saya tulis bagaimana skenario pembelajaran di era pandemik, memberiĀ  contoh skenario/rencana pembelajaran, pengembangan materi atau bahan ajar, contoh soal-soal yang bisa diadopsi oleh para guru atau dikembangkan oleh para guru sesuai dengan kelasnya masing-masing. Buku ini bisa menjadi referensi khusus guru untuk kegiatan belajar mengajarnya.

Berapa lama proses menyalurkan ide sampai menjadi buku?

Saya sudah mulai menulis dari tahun 2006 (menulis artikel), namun mulai merambah dalam menulis buku itu di tahun 2013. Sekarang pun saya kembali menulis buku yang berjudul “Membaca ayat-ayat corona” selama 3 bulan belakangan ini dan terbit di bulan Juni. Untuk artikel, saya sudah menulisnya kurang lebih 850 artikel dan untuk buku sudah 45 judul.

Selain melalui buku, tulisan bapak dapat dikonsumsi oleh publik baca melalui apa saja?

Untuk artikel, kita bisa pilih ingin menerbitkan dimana? Baik di media cetak (koran, majalah, buku) atau di media online (blog, medsos). Dalam menulis artikel itu harus kontekstual/hangat. Tulisan saya sudah sangat banyak dan mudah diakses oleh mereka yang memilki smart phone.

Bagaimana menghadapi kondisi remaja/masyarakat yang kurang dalam berliterasi?

Sekarang kan pemerintah sedang mengadakan gerakan literasi baik itu literasi di sekolah maupun di masyarakat. Namun disini yang menjadi sasarannya adalah generasi muda supaya mereka memiliki wawasan yang luas. Ada peribahasa yang mengatakan bahwa “Buku adalah gudangnya ilmu dan membaca adalah kuncinya”. Buku itu tidak akan berarti apa-apa jika tidak di baca, karena masalahnya kurangnya minat baca di masyarakat.

Membaca buku bagi kebanyakan orang itu hanya untuk mengundang rasa kantuk karena mereka tidak terbiasa dan tidak merasa butuh dengan apa yang mereka baca. Maka harus ada keteladanan dari orang sekitarnya untuk menumbuhkan budaya baca.

Harapan bapak dari setiap karya terbaik dalam memajukan kembali dunia literasi?

Saya berharap bisa tetap berkarya sepanjang hayat saya. Dengan karya-karya kita itu bisa memberikan manfaat untuk orang lain.

(19)