Kepala Sekolah Adalah Penentu !

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Forum Komunikasi Kepala Sekolah 69 Jawa Barat)

Menjadi kepala sekolah pada umumnya adalah karir puncak bagi para guru. Kepala sekolah bukan tugas tambahan, kepala sekolah adalah jabatan strategis yang diraih oleh para guru terpilih untuk menjadi tugas utama. Menjadi pimpinan satuan pendidikan, menjadi manajer dan menjadi “provokator” pembelajaran bagi satuan pendidikan yang dipimpinnya, itulah kepala sekolah.

Pada umumnya kepala sekolah memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin di bidang pengajaran, pengembangan kurikulum, administrasi kesiswaan, administrasi personalia staf, hubungan masyarakat, penjamin mutu dan penjamin kedaulatan sekolah. Tak mudah menjadi seorang kepala sekolah, Ia adalah “Kadisdik Kecil”. Bagaikan para guru wali kelas adalah kepala sekolah kecil, kepala sekolah adalah Kadisdik kecil.

Setiap kepala sekolah harus punya kebaruan dan daya sengat bagi motivasi warga civitas akademika satuan pendidikan di mana Ia ditempatkan. Kepala sekolah setidaknya harus menjadi EMASLIMEEL (Edukator, Manajer, Administrator, Supervisor, Leader, Inovator, Motivator, Entrepreneur, Entertainer dan Literator). Ini tak mudah bahkan sangat tak mudah! Kepala sekolah khusus di Jawa Barat harus punya misi Jabar Juara.

Pokoknya setiap kepala sekolah “wajib” membangkitkan potensi sekolah dimana Ia ditugaskan. Ragam kultur sekolah, grade akreditasi sekolah, budaya daerah, jumlah guru dan jumlah anak didik serta letak sekolah adalah modal awal akan dibagaimanakan sebuah sekolah. Arnold Toynbee mengatakan, teori Cahallange And Response. Artinya setiap tantangan dan bahkan derita adalah modal kemajuan.

Prof.Rhenald Kasali menyatakan, “Mentalitas SDM kita tak cukup punya kemampuan untuk keluar dari zona nyaman. Tanpa keterampilan itu, perusahaan-perusahaan Indonesia akan “stuck in the middle,” birokrasi kita sulit “diajak berdansa” menjelajahi dunia baru yang penuh perubahan, dan kaum muda sulit memimpin pembaharuan”. Prof.Rhenald menghendaki SDM kita terbiasa “berdansa” dengan zona tak nyaman.

Faktanya SDM kita mayoritas inginnya zona nyaman, aman, tentram, adem ayem. Padahal dalam teori kemajuan zona nyaman itu “membunuh” kreatifitas, inovasi dan invensi. Namun disisi lain penempatan para kepala sekolah pun harus proporsional, beretika zonasi, beretika Covid-19 dan bebas kepentingan politik. Kepala sekolah adalah ASN, ditempatkan dimana pun harus semangat dan gembira. Hidup hanya sementara, apalagi jabatan kepala sekolah. Bahkan para kepala daerah pun sangat sementara.

Ada pepatah mengatakan, “Lakukan kebaikan, kebaruan dan inovasi sekecil apa pun”. Sebagai guru yang sudah bertransformasi menjadi kepala sekolah tentu sudah sangat paham entitas anak didik dan pendidik. Kepala sekolah Bukan Tugas Tambahan melainkan tugas utama yang membawa misi Jabar Juara Lahir Batin. Dahulu dalam Permendiknas no 28 Tahun 2010 memang kepala sekolah adalah tugas tambahan. Kini dalam Permendikbud No 6 Tahun 2018 kepala sekolah bukan lagi tugas tambahan. Bukan tambahan melainkan utama.

Dalam Permendikbud No 6 tahun 2018 dikatakan Kepala Sekolah adalah guru yang diberi tugas untuk memimpin dan mengelola satuan pendidikan. Kepala sekolah sudah bukan guru lagi. Definis guru dengan kepala sekolah berbeda. Dalam Permendikbud No 6 tahun 2018 dijelaskan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, serta menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Ada tiga entitas atau ekosistem pendidikan, karenanya pendidikan akan lebih baik. Ketiganya adalah : 1) guru, 2) kepala sekolah dan 3) pengawas sekolah. Ketiga “pekerja pendidikan” ini harus sangat diperhatikan oleh pemerintah. Kesejahteraan, kompetensi, perlindungan dan apresiasi harus menjadi bagian dari ketiganya. Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah yang “dimanusiawikan” akan dapat bekerja dengan baik.

Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah adalah pelayan bagi sukses anak didik. Ketiganya harus berhamba pada kepentingan masa depan anak didik. Terutama para guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah harus mampu berkolaborasi menciptakan satuan pendidikan yang membentuk karakter anak didik. Karakter dan mentalitas anak didik adalah utama.

Berbagai hasil penelitian menyimpulkan sukses masa depan seseorang 80 persen karena mentalitas dan karakter, bukan angka-angka akademik semata. Pola pendidikan kita terkadang memuja angka, apalagi dahulu zaman UN. Ini sangat bahaya! Terutama para kepala sekolah harus menjadi pemimpin pemelajaran yang memelajarkan anak secara karakter dan akademik. Menciptakan iklim sekolah yang menguatkan mental, pikir dan amal mulia tentu tak mudah.

Prof.Dr.Ibarhim Bafadal mengatakan, “Tidak ada anak yang tidak bisa dididik, yang ada guru yang tidak bisa mendidik, tidak ada guru yang tak bisa mendidik, yang ada kepala sekolah yang tidak bisa membuat guru bisa mendidik”. Kepala sekolah menjadi inti perubahan dan perbaikan dunia pendidikan kita. Tugas berat dan tugas tak nyaman ada dipundak para kepala sekolah. Kepala sekolah adalah nakhoda pemelajaran di satuan pendidikan. Ombak besar dan luasnya samudra pendidikan adalah challenge.

Kembali Saya ingatkan dengan kata Prof. Rhenald Kasali, Ia mengatakan, “Kata orang bijak, keajaiban jarang terjadi pada mereka yang tak pernah keluar dari “selimut rasa nyamannya.” Keajaiban itu hanya ada di luar zona nyaman yang kita sebut sebagai zona berbahaya (a danger zone). Zona berbahaya ini seringkali juga dinamakan sebagai zona kepanikan (panic zone). Tetapi untuk menghindari kepanikan, para penjelajah kehidupan telah menunjukkan adanya zona antara, yaitu zona belajar (learning zone atau challenge zone).

Satu lagi pemikiran Prof.Dr.Mohamad Surya, beliau menyatakan, “Jadilah binatang jalang jangan jadi binatang peliharaan”. Prof.Dr.Mohamad Surya ingin menyampaikan pesan kepada para guru dan kepala sekolah bahwa menjadi guru dan kepala sekolah “peliharaan” tidak akan menjadikan kita bertumbuh dan terbang lebih jauh. Diam terpasung dalam sangkar emas zona nyaman, berputar-putar bagaikan hamster bahaya!

Jadilah penjelajah, karena jasa penjelajah Samudra dunia diketahui bulat tidak datar. Pahami dunia secara kaffah dengan memutarinya. Bukankah Nabi Muhammad menjelajah ke Madinah demi sebuah perbaikan adab dan peradaban Arab Quraisy? Nabi Muhammad tingalkan zona nyaman kaum Quraisy yang penuh dengan intrik politik Quraisian. Para kepala sekolah harus membawa spirit kenabian, pembawa perubahan walaupun hanya seayat!

Pos terkait

banner 468x60