Dana CSR Tirta Raharja Ditargetkan Membangun Rutilahu Dipelosok Desa

Pewarta: Dwi Arifin

Koran SINAR PAGI (Kabupaten Bandung)-, Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan konsep bahwa perusahaan memiliki berbagai bentuk tanggung jawab terhadap seluruh pemangku kepentingannya. Diantaranya konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas, dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Dikatakan Manajer Junior Humas dan Kesekretariatan Perumda Air Minum Tirta Raharja, Hj. Sri Hartati, ketentuan dan alokasi diperusahaannya dimulai setelah adanya perubahan Badan Hukum, dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) menjadi Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Raharja pada tahun 2019.
Di tahun 2020 ini, imbuhnya, Perumda Air Minum Tirta Raharja memiliki kewajiban setor Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan besaran Rp 4 milyar yang dibayarkan pertriwulan sekali. Jadi tahun ini baru membayar Rp 1 milyar.

Sementara untuk CSR, dia hanya menyebutkan, ketentuan CSR Perumda Air Minum Tirta Raharja tahun buku 2018 telah ditetapkan oleh KepBup/PerBup no. 539/kep.430-perek/2019, tentang penggunaan Pengesahan Laporan Kerja dan Penggunaan Laba Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Raharja tahun 2018.

“CSR berhubungan erat dengan pembangunan berkelanjutan, yakni suatu organisasi, terutama perusahaan, dalam melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata berdasarkan dampaknya dalam aspek ekonomi. Misalnya tingkat keuntungan atau deviden, tetapi juga harus menimbang dampak sosial dan lingkungan yang timbul dari keputusannya itu baik untuk jangka pendek maupun untuk jangka yang lebih panjang,” katanya kepada media online visi.news, Kamis (18/6/2020).

Dengan pengertian tersebut, lanjutnya, CSR dapat dikatakan sebagai kontribusi perusahaan terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan dengan cara manajemen dampak (minimisasi dampak negatif dan maksimisasi dampak positif) terhadap seluruh pemangku Kepentingannya, khususnya di masa pandemi virus corona (Covid-19) ini.

Kepedulian Perumda Air Minum terhadap dampak sosial, katanya, diimplementasikan dengan pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), di wilayah Kecamatan Pasirjambu dan Soreang.
“Karena moto kami adalah memberikan pelayanan terhadap pelanggan juga masyarakat kecil, dan kegiatan itu akan terus kami lakukan secara kontinu,” ujarnya.

Disisi lain kepala desa Cibodas Pasirjambu, Wily Wirasasmita menilai di kampung Papak Manggu ada 31 hektar sawah yang pengairannya bersumber dari sungai Cisondari Gambung yang saat ini difungsikan untuk SPAM PDAM Tirta Raharja. Sebelumnya sudah sering mengalami kekeringan lahan pertanian tersebut. Otomatis harus diperhatikan dampak lingkungan setelah dimanfaatkan sumber airnya.

Terkait adanya dana CSR untuk rumah tidak layak huni (Rutilahu) yang mengalir ke warga desanya. Kades mengungkapkan tahun kemarin ada 5 rumah warga yang mendapatkan bantuannya. Melalui pengerjaan oleh pihak ke 3 untuk setiap rumahnya dapat Rp.15 jutaan. Kalau dilihat dari kondisi warga yang mayoritas petani, saat ini masih banyak rumah yang masuk skala prioritas layak untuk dibantu pemerintah. Kurang lebih ada 50 rumah.

Perlu diketahui pihak PDAM, petani Cibodas ini sangat tergantung sumber air dari gambung. Maka mohon dibantu bagi mereka yang terdampak proyek pemanfaatan air Gambung oleh PDAM dalam jangka panjang. Sebelumnya juga sudah disampaikan ke Bupati tentang dampak ini dan akan ditindak lanjuti, katanya.

Informasi yang dihimpun koransinarpagijuara.com untuk bantuan bersumber dari dana CSR BUMD. Tahapannya dengan cara melalui proses pengajuan kepada pihak terkait. Nanti dari profosal yang masuk dinilai tentang kelayakannya untuk mendapat bantuan, mengacu pada skala prioritas yang akan dimasukan sebagai target penerima manfaat.

(62)