SPP Gratis, Kado Kenormalan Baru !

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Guru SMA Dan Ketua PB PGRI)

Ridwan Kamil memang luar biasa. Setelah menjadi Gubernur terbaik melintasi Anies Baswedan, Ganjar Pranowo dan Khofifah Indar Parawansa dalam menangani Covid-19, kini Ia pun memberi kado bagi masyarakat Jawa Barat. Kado apa? SPP untuk jenjang SMA/SMK/SLB gratis. Ini luar biasa, menjawab keinginan masyarakat Jawa Barat.

Dalam jejaring medsosnya Ridwan Kamil menuliskan, “Walau ekonomi jatuh oleh covid, namun Pemprov Jabar sesuai komitmen tetap menganggarkan Rp.1,42 Trilyun untuk Sekolah Gratis berupa pembebasan biaya Iuran Bulan Peserta Didik (IBPD) atau dulu disebut SPP.” Dari sudut pandang “meringankan” masyarakat ini sangat-sangat baik.

Selanjutnya Ia menuliskan, “Untuk siswa sekolah swasta dan MA diberi bantuan walau tidak penuh. Juga siswa tidak mampu yang bersekolah di swasta akan diberi bantuan penuh. Untuk Mahasiswa Jabar kuliah di Jabar, ada beasiswa total 50 Milyar. Silakan cek untuk detailnya ke PT masing-masing.”

Ada ungkapan motivatif dari Aris Ahmad Jaya, “Bisa Tapi Sulit”. Era Covid-19 ini memang membuat semua umat manusia serba sulit, ribet dan bahkan parno. Namun itulah sebuah kehidupan dinamikanya kadang melintasi masa-masa sulit. Tapi kita semua harus bisa! Orang Sunda mengatakan, “Sabisa Bisa Kudu Bisa Pasti Bisa”.

SPP gratis bagi jenjang pendidikan menengah, plus beasiswa bagi mahasiswa adalah sebuah modal. Semoga Jabar Juara Lahir Batin bukanlah hanya selogan, melainkan kelak akan terwujud. Dimulai dari pendidikan. Sejahtera anak didik adalah modal mendasar perbaikan pendidikan. Perbaikan pendidikan adalah modal strategis.

Semoga tidak ada lagi “Anak Ditagih SPP” oleh TU atau gurunya. Ini gangguan psikologis yang sangat menyakitkan bagi anak didik. Apalagi anak didik tak mampu. Saat anak didik tak mampu dan di tagih, apalagi diumumkan, sungguh “kekerasan” luar biasa bagi anak didik. Selamat tinggal “derita” anak ditagih SPP.

Urusan biaya pendidikan adalah urusan orangtua, urusan orang dewasa bahkan urusan “politik” bukan urusan anak didik. Menyakiti anak didik adalah diantara dosa terbesar umat manusia. Anak didik tidak bisa sekolah atau terdiskriminasi di sekolah karena kesulitan bayar SPP adalah dosa para pemimpin. Pemimpin politik dan pemimpin satuan pendidikan.

Disisi lain gratisnya SPP sekolah negeri semoga tidak makin “membunuh” sekolah swasta. Negeri minded kemungkinan akan semakin menjadi-jadi. Melihat prediksi dan realitas demikian maka tatakelola sekolah swasta harus makin baik. Jangan asal mendirikan sekolah. Kalahkan sekolah negeri, lakukan lompatan dan ciptakan branding atau kebaruan yang diharapkan para orangtua.

Bagi sekolah swasta terbaik, punya khas dan lulusannya selalu lebih baik dari lulusan sekolah negeri, akan tetap bertahan. Dunia memang sebuah ajang kompetisi, siapa yang tak mampu bersaing maka akan ditinggalakan kehidupan. Sekolah yang hanya asal sekolah, sekolah asal akan tutup. Era disrupsi, jangankan sekolah, perusahan besar dan pernah berjaya saja ambruk.

Kita tahu koran dan majalah cetak pernah berjaya! Kini ambruk dan sebentar lagi akan lenyap. Kita masih ingat produk Kodak, Nokia, telepon kabel rumah? Kini tiada lagi, wafat dalam gerusan era disrupsi. Itulah kehidupan. Siapa yang kreatif, inovatif, masif dan agresif dalam menjawab tantangan perubahan yang akan bertahan. Entitas mainstream akan wafat sebelum waktunya. Perubahan memang kejam bagi yang tak adaptif.

Semoga Ridwan Kamil setelah memberi “Kado” kenormalan baru atau kado AKB, sejumlah perbaikan lainnya menyusul. Diantaranya adalah perbaikan nasib guru GTT, guru honorer. Semoga kelak di Jawa Barat tidak ada lagi guru bergaji di bawah UMR/UMK/UMP. Plus semoga Ridwan Kamil bisa komparasi kesejahteraan guru dan pengawas ke tetangga yakni DKI Jakarta dan provinsi Banten.

Tahun sebeumnya Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Jawa Barat juara umum lomba GTK berprestasi. Padahal Jawa Barat kesejahteraan guru, kepala sekolah dan pengawas tidak lebih dari atau jauh berbeda dari DKI Jakarta dan Banten. Namun faktanya DKI Jakarta dan Banten kalah oleh GTK Jawa Barat. Jabar Juara Lahir Batin dalam dimensi pendidikan bisa dipertahankan dengan topangan kesejahteraan anak didik, guru, kepala sekolah dan pengawasnya.

Ada sebuah ungakapan modus yang mengatakan, “Kepala daerah yang sangat memperhatikan anak didik, guru, kepala sekolah dan pengawas selalu menjadi yang terbaik dan cita-citanya selalu terwujud”. Ungkapan ini terlihat “modusan” namun faktanya 99 persen benar. Puluhan kepala daerah terbaik, selalu memprioritasakan pendidikan dan GTKnya.

Ingat Pak Ridwan Kamil! Agar Jabar Juara Lahir bathin, Saya kasih stimulus khusus. Ada aspirasi “Tri Merdeka” khusus bagi guru. Apa Tri Merdeka? Tri Merdeka adalah kondisi merdeka lahir batin para guru, agar Jabar Juara Lahir Batin menjadi fakta abadi, yakni: 1) merdeka kompetensi, 2) merdeka finansial dan 3) merdeka apersiasi. Ini syarat dasar bagi dunia pendidikan.

Bila semua guru Jawa Barat sudah merdeka kompetensinya, finansial dan selalu diapresiasi, maka masalah pendidikan akan cepat berakhir. Bila semua guru Jawa Barat kompeten, sejahtera tidak ada lagi guru sengsara dan semua gurunya dimuliakan, terlindungi, maka Jawa Barat akan melenggang kangkung, selalu menjadi yang terbaik. Sebuah iklan mengatakn, “Tetap Yang Terbaik!”.

Jawa Barat punya potensi yang sangat dahsyat. Dahsyat bersama, bersama dahsyat, bareng-bareng dalam komando Sang Gubernur Terbaik. Rakyat bagaikan air yang mengalir mengikuti kontur tanahnya. Para pemimpin harus cerdik membuat aliran dan kanal terbaik agar potensi Jawa Barat mengalir deras. Jepang memulai kebangkitan dimulai dari guru!

Pos terkait

banner 468x60