Khataman Alquran 28.215 Kali, Jateng Raih Rekor Dunia Indonesia (Muri) Ke-9496

  • Whatsapp
banner 468x60

Pewarta: Dwi Arifin

Koran SINAR PAGI (Semarang)-, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng) menerima penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) ke-9496, atas rekor penyelenggaran khataman Alquran terbanyak, dengan jumlah khataman Alquran sebanyak 28.215 kali yang diikuti 14.353 peserta.

Penghargaan diberikan perwakilan Muri, Ari Andriani kepada Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen, di rumah dinasnya, Jl Rinjani, Semarang, Selasa (9/6/2020), disaksikan Ketua Umum Muri Jaya Suprana melalui virtual.

Selain itu, Muri juga menganugerahkan penghargaan kepada Jam’iyah Mudarasatul Quran Lil Hafidzah (JMQH) yakni perkumpulan tadarus Alquran, yang anggotanya terdiri atas para penghafal Quran putri.

Pendiri MURI, Jaya Suprana dalam kegiatan Penyerahan Rekor MURI Secara Virtual, mengatakan, anugerah Rekor Muri diberikan tidak hanya karena jumlah peserta khataman yang diikuti dari seluruh Nusantara, tapi juga pesan yang disampaikan. Bahwa dalam situasi pandemi covid-19, upaya spiritual untuk memutus rantai penyebarannya juga perlu dilakukan.

“Khataman Quran dengan peserta belasan ribu orang dari seluruh nusantara ini sebelumnya belum pernah ada. Tidak hanya belum pernah di Indonesia, tapi juga di dunia. Maka ini harus menjadi contoh bagi yang lain,” katanya.

Pendidikan Daring

Wakil Gubernur Jawa Tengah H Taj Yasin Maimoen mengucapkan terima kasih kepada Muri yang telah memberikan perhatian kepada Pemprov Jateng maupun JMQH, atas kegiatan yang diselenggarakan. Spiritnya untuk memanjatkan doa kepada Tuhan agar wabah covid 19 segera berlalu.

“Kita memang mendorong, mensupport agar ini bisa terlaksana dengan baik. Alhamdulillah 27 Ramadhan kemarin kita melaksanakan khataman yang diselenggarakan lewat daring. Kami memantau yang menyimak, yang mengikuti itu banyak. Tidak hanya dari Indonesia tapi juga dari luar negeri banyak,” jelasnya.

Wagub berharap, kegiatan khataman itu dapat menjadi inspirasi bagi banyak pihak, untuk cerdas menyikapi wabah covid-19 seperti yang dicontohkan dari sifat Rasullullah. Meski di masa pandemi, ternyata belajar mengajar, menghafal Al-Qur’an, dan bersilaturrahim masih bisa dilaksanakan.

“Penting bahwa apa yang diajarkan Rasulullah yang memiliki sifat  fathonah atau cerdas dalam menyikapi hal apapun itu, bisa tercapai. Itu yang kita dorong. Artinya, pondok pesantren, yang banyak orang mengatakan, Pak kami kesulitan untuk melakukan pendidikan daring, ternyata bisa dilakukan,” tandasnya.

Ketua JMQH Pusat Nyai Hj Maftuhah Mainan Abdillah berharap, JMQH memiliki visi dan misi melahirkan penghafal Alquran yang konsisten dan konsen. Mereka juga terus memperjuangkan Alquran supaya syiar di mana pun berada, yang berangkat dari rumah, keluarga, dari Jawa Tengah serta seluruh Indonesia.

“Khataman Alquran itu dilakukan di rumah masing-masing hafizah secara virtual,” ujarnya.

Pos terkait

banner 468x60