Sejatinya Berketuhanan Yang Maha Esa Menguat Sejak Remaja

  • Whatsapp
banner 468x60

Pewata: Dwi Arifin

Koran SINAR PAGI (Banyumas)-, Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila yang saat ini bertepatan dengan 75 tahun usia ideologi bangsa. Jurnalis koransinarpagijuara.com membuka interaktif bersama perwakilan kaum milenia Nur Fadilah dari Departenen Kominfo IPPNU SMK Ma’arif NU 2 Ajibarang  dengan tema padangan sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” dikalangan kaum remaja milenia.

Banyak kaum remaja atau milenia yang jauh dari Tuhan-Nya karena pergaulan bebas atau minimnya pengetahuan tentang agamanya. Lalu seperti apa proses remaja milenia idealnya untuk mengenal Tuhan dan ajaran agamanya.

Sebagai remaja yang sudah mengalami masa baligh /dewasa tentunya sudah ada kewajiban untuk beribadah. Proses pengalaman ibadah Dila seperti apa awalnya?…

Yang Dila ingat sejak dini sebelum masuk taman kanak kanak. Suka ikut bangun saat ibu bangun untuk sholat tahajud sekitar jam 3an, padahal Dila tidak tau bacaan sholatnya apa. Tapi ikut aja gerakan Ibu, jadi sifat anak itu lebih mengikuti dari apa yang dilihat dari keteladan orang tuanya. Ada penjelasan juga dari agama “Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya membentuk agamanya. Diayat Al-qur’an  juga mengarahkan sebagai bentuk syukur terhadap bimbingan agama dari orang tua, kita diperintah untuk berbakti padanya. “Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya” [Al-Isra : 23]

Menurut Dila selain dari orang tua dari mana lagi kita agar mendapatkan bimbingan agama yang lebih utuh?…

Saat anak-anak kita diarahkan ikut mengaji di desa oleh orang tua. Lalu saat remaja di sekolah juga ada ektrakulikulier organisasi yang landasannya agama. Kedua hal itu membentuk sejatinya keislaman kita. Karena disana kita menemukan persahabatan sesama muslim yang saling menguatkan. Selain itu juga membaca buku yang bertema agama dapat mengenalkan lebih dalam agama yang kita anut.

Kalau Dila memandang organisasi lain yang sama-sama mengajarkan islam seperti apa padangannya?…

Kalau dilihat dari sejarah pendiri NU dan Muhammadiyah itu memiliki guru yang sama. Jadi kita tidak boleh saling membeda-bedakan apalagi saling mengganggu.

Kegiatan Dila untuk menelusuri islam yang Rahmatan Lil Alamin apa saja?

Sowan ke Ulama di desa. Sowan yang merupakan tradisi santri berkunjung kepada Kyai dengan harapan mendapatkan petunjuk atas sebuah permasalahan yang dialaminya, atau mengharapkan do’a dari Kyai dengan sekedar bertatap muka silaturrahim. Karena ulama itu pewaris para nabi. Kalau kita dekat dengannya kita akan diarahkan untuk dekat dengan Tuhannya.

Padangan Dila tentang diri yang bertuhan seperti apa?…

Kalau direnungi, dari cara pandang medis misalnya kita awalnya sehat, sewaktu bisa saja ditakdirkan sakit. Itu kan kehendak Alloh bukan keinginan kita. Jadi hidup kita ada yang ngatur, itu harus kita terima. Sejatinya semua hanya milik Alloh. Dari sana kita harus sadar bahwa diri ini bukan milik kita. Sewaktu-waktu kita akan kembali kepada sang pencipta dan dimintai pertanggung jawaban tentang untuk apa diri ini kita pakai?…

Padangan Dila tentang milenia dan Ketuhanan Yang Maha Esa?

Sangat penting bertuhan, apalagi kita hidup di negara yang menjadikan hal itu sebagai pendoman mengamalkan pancasila.

Pos terkait

banner 468x60