Memahami Kajian Pancasila Kontemporer Membumikan Ideologi Bangsa

Pewarta: Dwi Arifin

Koran SINAR PAGI (Bandung)-, Saat ini 1 Juni bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, sudah genap 75 tahun usia ideologi bangsa kita. Jurnalis koransinarpagijuara.com membuka interaktif  bersama Idris Apandi M.Pd dari Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Jawa Barat dan Penulis Buku “Kajian Pancasila Kontemporer” dalam rangka memahami dan mengamalkan nilai-nilai pancasila saat ini.

Bapak sebagai widyaiswara berkarya melalui tulisan yang diterbitkan dalam buku dengan judul “Kajian Pancasila Kontemporer”. Awal inspirasinya dan tujuan dari tema yang bapak bahas seperti apa, pak?

Saya menulis buku yang berjudul “Kajian Pancasila Kontemporer”, pertama, dilatarbelakangi oleh pendidikan saya sebagai sarjana pendidikan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Buku ini adalah produk akademik saya sebagai seorang sarjana PPKn.

Kedua, saya menulis buku ini dengan tujuan untuk mendokumentasikan sekaligus menyebarkan ide atau gagasan saya seputar bagaimana implementasi Pancasila dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Harapannya, buku tersebut bisa menambah pengetahuan, wawasan, dan pemahaman masyarakat, khususnya para pendidik dan tenaga kependidikan.

Selama ini ideologi pancasila telah menaungi bangsa, dari sila ke 1-5, paling krisis untuk diterapkan saat ini sila keberapa dan bagaimana solusinya?

Semua sila dalam Pancasila saling berkaitan dan saling melengkapi. Semua sila Pancasila harus dipahami dan dilaksanakan semua bangsa Indonesia. Sebagai bangsa yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, bangsa Indonesia harus mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari, mau bersatu membangun bangsa dan negara sesuai dengan kemampuan masing-masing, mau bermusyawarah untuk mencapai mufakat dalam pengambilan keputusan, tidak memaksakan kehendak atau pendapat, saling menghargai antarsesama, dan mengedepankan keadilan dalam kehidupan sehari-hari. Ini sejatinya Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia. Oleh karena itu, seorang yang Pancasilais, tentunya bisa memahami dan memaknai sila-sila Pancasila dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut perlu terus ditumbuhkembangkan teradap semua bangsa Indonesia sejak dini sehingga terinternalisasi dalam jiwanya masing-masing.

 Sebagai widyaiswara, pandangan bapak tentang perkembangan pendidikan mata pelajaran pancasila yang berubah nama dari periode ke periode seperti apa efektifitasnya saat ini?

Pada kurikulum 2006 (KTSP), nama pelajarannya adalah Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), lalu pada kurikulum 2013 yang diberlakukan saat ini pada jenjang SD, SMP, SMA/SMK, PKn diganti menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Tujuannya agar nama Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia dimunculkan kembali supaya para peserta didik tahu dan memahaminya dengan baik. Setelah itu, mereka dapat melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Adanya Pancasila menjadi bagian dari mata pelajaran PPKn adalah untuk menjadi pembeda dalam pendidikan kewarganegaraan di Indonesia dibandingkan dengan di negara lain, seperti Amerika Serikat yang berpaham sekuler-liberal.

Dengan dimasukkannya kembali Pancasila pada mata pelajaran di sekolah, maka peserta didik diharapkan bisa mempelajari secara khusus materi terkait Pancasila, sehingga mereka mengenal ideologi bangsanya sendiri. Mereka bisa tahu sejarah perumusan, proses penetapan Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara, serta bagaimana implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana pengamalan pancasila yang ideal di jaman sekarang dan langkah menyambut dominasi kaum muda sebagai bonus domografi?

Kondisi saat ini, banyak warga masyarakat Indonesia termasuk generasi muda yang tidak hapal sila-sila Pancasila, sehingga hal ini menjadi sangat ironis. Walau Pancasila bukan hanya untuk dihapal, tetapi setidaknya bisa menghapal Pancasila menjadi ciri sebagai bangsa yang peduli terhadap ideologi bangsanya sendiri. Mengapa banyak masyarakat yang tidak hapal sila-sila Pancasila? Karena Pancasila pascalahirnya arus reformasi seolah dianggap sebagai suatu hal yang tabu untuk dibahas atau dikaji, karena dianggap sebagai indoktrinasi dan propaganda dari penguasa orde baru, padahal Pancasila adalah nilai-nilai yang digali oleh para pendiri bangsa, khususnya Ir. Soekarno dari kepribadian bangsa Indonesia sejak zaman kerajaan.

Sosialiasi Pancasila kepada generasi muda yang saat ini disebut sebagai generasi Z tentunya memerlukan strategi atau cara yang sesuai dengan karakter atau gaya hidup mereka. Bentuknya bukan hanya ceramah-ceramah atau diskusi-diskusi saja yang membuat mereka bosan, tetapi perlu memanfaatkan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), karena generasi muda saat ini sudah sangat akrab dengan teknologi digital dan media sosial.

Berbagai kegiatan pun dapat dilakukan sebagai sarana sosialisasi dan penanaman Pancasila kepada gerenasi muda seperti melalui kegiatan olah raga, seni, budaya, lomba karya tulis, lomba pidato, lomba membuat poster, lomba membuat video singkat, dan sebagainya, sehingga Pancasila yang sakral tersebut terasa sebagai nilai-nilai yang membumi, mudah dipahami, dan tentunya menyenangkan bagi mereka.

Dan hal yang paling utama agar para generasi muda bisa mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari adalah perlunya keteladanan (role model) dari pada pemimpin, tokoh masyarakat, dan para orang dewasa, sehingga apa yang dilakukan oleh mereka bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda sebagai aset penting menyambut Indonesia Emas 2045, dimana bangsa Indonesia memiliki bonus demografi yang menjadi modal penting dalam pembangunan dan peningkatan daya saing bangsa Indonesia dalam percaturan global.

Apa harapan bapak dan langkah bapak setiap menyambut hari pancasila atau saran bapak khusus lingkungan pendidikan dalam merayakannya?

Harapan saya dalam rangka memperingati hari lahirnya Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni sejak tahun 2017 adalah agar hal tersebut bukan hanya sekadar acara seremonial saja, tapi harus mampu menyentuh hati sanubari dan jiwa setiap bangsa Indonesia. Pancasila bukan hanya sekadar dibaca pada saat upacara atau dihapal, tetapi bisa terinternalisasi dalam jiwa setiap bangsa Indonesia yang tercermin dalam sikap, perkataan, dan perbuatannya berdasarkan nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah hidup berbangsa dan bernegara.

Pancasila jangan dijadikan sebagai hal yang elitis, sehingga jauh dari kehidupan bangsa Indonesia, tetapi harus “dibumikan” sehingga bangsa Indonesia dari berbagai kalangan tahu dan menyadari terhadap pentingnya Pancasila sebagai landasan dalam pembangunan bangsa dan negara.

Semoga peringatan hari lahir Pancasila menjadi momentum bagi setiap bangsa Indonesia untuk mengingat kembali perjuangan yang begitu heroik yang dilakukan oleh para pendiri bangsa. Untuk bisa mengibarkan bendera merah putih sebagai lambang negara Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat melalui proklamasi 17 Agustus 1945 bukan hal yang mudah. Hal tersebut harus ditebus oleh berbagai pengorbanan keringat, harta, bahkan nyawa, sehingga generasi bangsa saat ini bisa menghargai jasa-jasa para pahlawan bangsa dan melanjutkan cita-cita perjuangan melalui berbagai macam pembangunan.

Selain itu, momentum peringatan hari lahir Pancasila semoga menjadikan setiap bangsa sebagai duta-duta Pancasila dalam lingkungannya masing-masing, sehingga Pancasila bisa membumi, terinternalisasi, dan lestari di seluruh wilayah NKRI.

(93)