Jokowi Mendengar PGRI !

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Guru SMA Dan Ketua PB PGRI)

Sebelum Presiden Jokowi mengumumkan dan memutuskan untuk menunda masuknya sekolah. Beliau nampaknya mendengar apa yang disampaikan PGRI. Saat pengumuman penundaan dan mengatakan jangan grusa grusu, substansinya sama dengan seminggu sebelumnya dari pernyataan Ketua Umum PB PGRI yang mengatakan, khusus dunia anak didik harus sangat hati-hati.

Jangan grusa grusu dan harus sangat hati-hati substansinya sama. Plus karakter Presiden Jokowi memang bertipe mendengarkan dan menyerap. Ia melakukan “Blusukan Virtual” dan nampaknya Ia melihat aspirasi para guru dan orangtua sebagaimana yang diaspirasikan PGRI. Ungkapan, “Buat Anak Kok Coba-coba” versi PGRI diksi yang jleb bagi Presiden. Iklan Kayu Putih katanya bisa menangkal corona dan pesan moralnya, cukup trend.

Meteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy menyampaikan terkait new normal, “Risikonya terlalu besar untuk sektor pendidikan, Selain berdampak buruk pada siswa, pemerintah juga akan mendapatkan sorotan buruk”. PGRI jauh-jauh hari mengatakan, “Sekolah berisiko menjadi klaster dan bila anak menjadi korban maka pemerintah dianggap melanggar HAM dan hak hidup anak”.

Debelumnya di www.jpnn.com Selasa, 26 Mei, PGRI mengatakan, “Kita sedang berhadapan dengan penyakit. Sehat adalah utama bagi anak didik. Pemerintah jangan mengorbankan anak didik untuk masuk sekolah. Ingat pesan SRA (Sekolah Ramah anak). Tidak ada spekulasi kesehatan untuk anak didik. Penerapan prosedur kesehatan, shift belajar, mengurangi jam belajar dan segala ikhtiar di luar rumah tidak akan efektif. Anak akan berkerumun dan melintasi sejumlah ruang publik.”

Presiden Jokowi nampak “Sangat Mendengar” cuitan PGRI, dimana entitas organisasi PGRI adalah ekosistem ring pertama dalam dunia pendidikan. Para guru anggota PGRI adalah pelaku, pemeran, pelaksana, pelayan pendidikan. Guru adalah aktor utama dan pertama yang tahu persis beragam dinamika anak didik dan sikon setiap sekolahan. Pihak eksternal di luar guru tentu punya pendapat dan persepsi, namun realitas pendidikan dan anak hanya guru yang lebih tahu.

Guru adalah aktor utama dari ekosistem pendidikan. Jadi bila berbicara new normal atau pemberlakukan masuk sekolah saat pandemi maka hanya guru yang lebih tahu. Pejabat pemerintah, BNPB, pengamat, pakar, profesor dan apa pun namanya tidak akan lebih tahu dari para guru. Guru adalah pelaku dan bagian dari apa yang menjadi kontroversi. Guru adalah entitas yang bisa disebut “Kutahu Yang Ku Mau” terkait new normal di dunia pendidikan.

Presiden mendengar PGRI dan PGRI selalu mendengar apa yang menjadi keluhan para guru. PGRI punya jaringan 34 provinsi, 514 kota dan kabupaten. Dalam waktu yang sangat singkat setiap ada masalah, ada dinamika maka dalam waktu satu jam, segalanya bisa mulai disimpulkan. Apalagi PGRI punya Departemen Penelitian dan Pengabdian Masyarakat dengan mudah dapat mengambil data lapangan terkait fenomena pendidikan.

Jaringan dan struktur organisasi PGRI mulai ranting sekolahan, kecamatan, kokab, provinsi dan pusat, sudah hidup hampir 75 tahun. Tentu presisi, persepsi dan prediksi PGRI terkait fenomena pendidikan sudah terbiasa. PGRI bukan organisasi abal-abal yang lahir dadakan dan “mendadak dangdut” melainkan lahir setahun berbarengan dengan berdirinya NKRI. PGRI adalah organisasi guru, entitasnya hampir 100 persen adalah sarjana.

Unik, hasil survei Departemen Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat PB PGRI didapatkan data bahwa anak didik dan orangtua persepsinya “bertabrakan”. Anak rindu masuk sekolah dan orangtua cemas dan tak setuju anak bila saat ini masuk sekolah. Orangtua mendukung anak tetap di rumahkan. Dengan segala keterbatasanya PJJ bagi orangtua adalah tepat! Sebanyak 85,5 persen orangtua cemas dan khawatir bila anak masuk sekolah.

Departemen Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat PB PGRI berhasil memotret dan mengambil data empirik dari masyarakat pendidikan, anak dan orangtua Ketua departemen Catur Nurrochman Oktavian bersama Dudung Abdul Qodir, Tantan Hadian, Budi Sihabudin representasi guru SD, SMP, SMA dan para pakar di PGRI telah bekerja dengan cepat, tepat dan cermat. Ketua Umum PB PGRI berhasil melakukan MO (mobilisasi orkestrasi) organisasi dalam “melawan” Covoid-19.

Presiden dalam menyerap informasi per detik bisa mendengar asupan dari PGRI. WAG PGRI hampir 24 jam, sambung menyambung diskursus tiada henti terkait dinamika pendidikan non stop! Mengelola negeri ini di bidang pendidikan, tanya PGRI. Termasuk sejauh mana derita guru honorer, kisah pilu guru honorer saat pandemi Covid-19, tanya PGRI. PGRI sangat tahu derita guru honorer, mengapa? Karena di dalam rumah PGRI ada ratusan ribu guru honorer sebagai anggota.

(7)