Melihat Pesan IDAI

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Guru SMA Dan Ketua PB PGRI)

Judul di Kompas.com “Ikatan Dokter Anak Anjurkan Sekolah Tidak Dibuka sampai Desember 2020”. Ini menarik, urusan kesehatan pasti para ahli kesehatan yang lebih tahu. Termasuk urusan menjaga kesehatan anak Indonesia dapat dipastikan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) akan lebih tahu.

Ibarat urusan mendidik anak sekolah pasti guru yang lebih tahu. Mau Presiden, Menteri, Gubernur dan Profesor doktor sekali pun urusan mendidik anak pasti guru yang lebih tahu. Guru melekat dekat dengan dinamika tumbuh kembang anak. Begitu pun urusan kesehatan anak pasti IDAI lebih melekat pada “grafik” kesehatan anak.

Bila menurut IDAI anak sebaiknya bersekolah mulai bulan Desember, ini patut dijadikan pertimbangan. IDAI bukan ikatan dukun dan ahli nujum, data lapangan dan realitas empirik terkait kesehatan anak tentu ada dalam cacatan mereka. Pemerintah, khususnya Menteri pendidikan setidaknya mendengarkan dua entitas penting. IDAI dan entitas suara guru secara nasional harus dipertimbangkan.

Hasil survei KPAI menunjukan guru dan orangtua setuju bila anak didik tetap belajar di rumah. Pola belajar di rumah tentu harus lebih fleksibel. Segala kekurangan dan keterbatasan daya dukung PJJ saat awal harus diperbaiki. Semoga anak bisa belajar di rumah sebagai “Madrasah Pertama” sebelum masuk di madrasah kedua, yakni sekolahan kelak, saat wabah sudah pergi.

Sisi lain Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sendiri menegaskan bahwa tahun ajaran baru 2020/2021 akan tetap dimulai pada 13 Juli 2020. Ini masalah “administrasi” tahun ajaran baru. Bagi Saya tahun ajaran baru adalah hal teknis, namun hal klinis terkait kesehatan anak itu yang utama. Silahkan saja tahun ajaran baru, mau Juli tau Januari. Hal yang utama adalah menjaga anak didik agar tidak jadi korban wabah.

Saya pun mendapatkan sejumlah japri dari para orangtua. Ada yang memperlihatkan gambar gagalnya menjaga kesehatan anak seperti di Korea Selatan, Finladia dan sejumlah negeri lainnya. Saya pun mendapatkan japri bahwa ada sejumlah orangtua yang akan “membandel” pada pemerintah akan tetap memasung anaknya di rumah bila memaksa anaknya tetap harus masuk sekolah saat wabah masih belum jelas hilang.

Dinamika survei, orangtua, IDAI, KPAI, organisasi profesi guru dan persepsi publik dapat menjadi “asupan” bagi pemerintah untuk berhati-hati dalam melayani anak didik terkait hak pendidikannya. Jangan sampai demi hak pendidikan anak kurang hati-hati terkait hak kesehatan dan keselamatan anak.

Mayoritas anak memang rindu sekolah dan ingin ke sekolah. Sudah Saya tulis sebelumnya anak didik “Ingin ke sekolah” bukan “ingin bersekolah”. Namanya juga anak, pasti tak harus sama keinginannya dengan orangtua. Kalau sama berarti sudah dewasa.

Pro kontra antara anak didik dan orangtua terkait masuk sekolah adalah “kemesraan” domestik antara anak dan orangtua. Hal yang harus menjadi pertimbangan utama adalah masukan dari IDAI. Anak untuk saat ini lebih baik tetap belajar di rumah. IDAI setuju dengan apa yang Saya tuliskan sebelumnya terkait salah satu cara PJJ dengan menggunakan modul, atau E modul. Plus sejumlah cara lain yang lebih efektif.

Bisa juga pembelajaran sangat-sangat disederhanakan. Bukan target akademik dan kurikulum yang harus utama melainkan target “belajar hidup sehat” dan belajar beradaptasi memahami kehidupan yang sebenarnya. Dalam berbagai penelitian hasil akademik berbau angka itu hanya menentukan 20 persen kesuksesan. Sisanya 80 persen sukses ditentukan oleh attitude. Atittude saat ini terkait kemampuan mental dan beradaptasi dalam menghadapi dinamika kehidupan.

Mata pelajaran “Covid-19” saat ini menjadi mata pelajaran semua anak didik dan umat manusia di dunia. Mata pelajaran Covid-19 adalah mata pelajaran kontesktual banget. Mata pelajaran Covid-19 dalam kehidupan manusia saat ini harus dibaca, dipahami, dimaknai dan ditindaklanjuti dalam aksi adapatasi yang menyelamatkan kehidupan semua. Mata pelajaran Covid-19 bagaikan mata pelajaran atau mata kuliah 24 SKS. Bagaikan 24 jam mata pelajaran setiap hari.

Membaca judul “584 Anak di Indonesia Positif COVID-19 dan 14 Meninggal Dunia, IDAI Sebut Paling Tinggi Se-Asia” dalam Liputan6.com. Sungguh menyedihkan. Semoga paparan wabah pada anak tidak terus berkembang. Anak adalah pelanjut masa depan kehidupan.

Orangtu yang wafat masih ada pengganti generasi. Anak yang wafat karena wabah adalah para penerus masa depan. Mereka harus selamat dan hak hidupnya di masa depan harus kita jamin. Orangtua, guru dan semua pihak terkait harus punya agenda yang sama yakni kselamatan anak adalah segalanya. Buat Anak Kok Coba-coba!

(3)