Tri Merdeka Guru

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Guru SMA Dan Ketua PB PGRI)

Guru adalah profesi paling terhormat karena Ia melahirkan semua orang terhormat. Ditangan guru lah semua orang bisa baca, menulis dan berhitung. Calistung sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Potensi calistung yang bertumbuh pada anak didik itu terkait jasa para guru. Sukses berawal dari calistung.

Saat ini sedang trend merdeka belajar. Merdeka belajar adalah konsep menciptakan sebuah proses belajar yang mampu melahirkan anak didik lebih berkembang. Sukses dan kemerdekaan hidup terkait dengan merdeka belajar. Kemerdekaan dalam belajar akan melahirkan sejumlah kreatifitas, inovasi, kolaborasi dan prestasi.

Di tengah euphoria dan visi merdeka belajar kita lupa, pemerintah pun lupa ada dimensi kemerdekaan lain yang harus dipenuhi dahulu. Apa itu? Tiada lain adalah visi Tri Merdeka. Apa itu Tri Merdeka? Tri Merdeka adalah pentingnya tiga dimensi kemerdekaan bagi para guru. Pertama merdeka finansial. Kedua merdeka kompetensi, dan ketiga merdeka apresiasi.

Guru yang merdeka finansial tidak mungkin nyambi jadi GTO (Guru Tukang Ojek), GTP (Guru Tukang Pulsa), GTBB (Guru Tukang Barang Bekas) dan sejumlah profesi lainnya. Dapat dibayangkan bila guru nyambi jadi tukang barang bekas. Ia menunggu barang bekas yang dibuang anak didiknya. Guru itu harus bermartabat, Ia harus sejahtera.

Guru merdeka kompetensi adalah guru yang profesional. Ia punya potensi luar biasa dan sangat menguasai peran dan tanggung jawabnya sebagai seorang guru. Ia memiliki kemampuan belajar jauh melintasi anak didik dan masyarakat pada umumnya. Guru merdeka kompetensi adalah guru yang multitalenta. Selain empat tuntutan kompetensi profesinya.

Guru merdeka apresiasi adalah guru yang diperlakukan terhormat saat Ia berprestasi. Setiap guru yang berkinerja istimewa, layak mendapatkan apresiasi dari atasan, birokrasi pendidikan dan pemerintah. Guru-guru terbaik harus diberi peluang melejitkan karirnya. Bila masih ada guru malah dipersekusi, dikriminalisasi, dipolitisasi dan dimutasi sungguh tuna adab.

Guru yang merdeka finansial, merdeka kompetensi dan merdeka apresiasi akan berpeluang kuat menjadi guru merdeka, guru penggerak, dan guru berprestasi. Guru-guru seperti ini akan mendorong lahirnya sekolah merdeka dan sekolah penggerak. Merdeka belajar hanya tercipta dari realitas yang dilatarbelakangi oleh Tri Merdeka.

Guru yang tak kekuranagn materi jauh akan lebih mungkin mengembangkan diri dalam bentuk belanja profesi. Belanja profesi adalah sebuah pengorbanan finansial untuk meningkatkan kapasitas dirinya. Hanya guru-guru yang tidak masalah dengan finansialnya jauh akan lebih fokus dalam melayani anak didik. Guru yang perut keluarganya lapar, tak mungkin pokus.

Guru yang kekurangan kompetensi profesinya akan jauh meyesatkan anak didik. Mendidik gagal, gagal mendidik dan mengajar sangat bahaya. Lebih bahaya dari gagal panen seorang petani. Gagal panen rugi semusim, gagal didik bahaya bagi masa depan anak didik dan bagi orang lainnya. Guru tidak kompeten risiko tinggi!

Guru kekurangan apresiasi bisa apatis. Guru pun manusia. Ia butuh distimulus dan diberi motivasi agar potensi dan prestasinya bertumbuh. Kepala satuan pendidikan akan sangat menentukan bagaimana performa prestasi guru. Kepala satuan pendidikan yang apresiatif jauh akan lebih membangkitkan motivasi berprestasi para guru. Apalagi bila dari pemerintah.

Tri Merdeka Guru adalah sebuah keniscayaan. Semua teori, visi, tujuan pendidikan nasional akan menjadi hambar dan sulit dicapai bila para guru masih tri masalah bukan Tri Merdeka. Merdeka gurunya, merdeka anak didiknya, merdeka sekolahnya dan terciptalah merdeka belajar. SDM Unggul Indonesia Maju, berbasis Tri Merdeka Guru!

Pos terkait

banner 468x60