New Normal, New Karakter

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Guru SMA Dan Ketua PB PGRI)

Dalam bahasa sederhana new normal adalah era baru, kehidupan baru, karakter baru, performa baru dalam bentuk adaptasi terhadap tantangan wabah Covid-19. Siapa yang mampu berdampingan dengan Covid-19 maka aktivitas akan bisa berjalan. Siapa yang berdamai dengan Covid-19 maka kehidupan akan berlanjut.

Mengapa dari “perang” melawan Covid-19 berubah jadi “berdamai” dan “berdampingan”? Peperangan itu setidaknya terbagi kedalam beberapa keadaan. Pertama peperangan dimenangkan. Kedua kalah dalam peperangan. Ketiga berdamai dengan musuh. Keempat perang tiada akhir, saling memusuhi.

Nampaknya wabah Covid-19 ini belum bisa dikalahkan. Malah banyak korban, belum ada vaksin, terus menyebar dan diprediksi masih lama. Bila vaksin belum ditemukan dan wabah masih lama, maka dipastikan gaya lockdown atau PSBB akan menghancurkan perkekonomian negara. Hancur ekonomi negara, sama dengan kalah perang.

Pemerintah mengambil langkah prioritas. Sehat itu memang lebih penting dari ekonomi. Namun bila ekonomi ambruk maka pelan tapi pasti akan merambat ujung-ujungnya pada kesehatan semua. Masyarakat akan kekurangan logistik, pengangguran dimana-mana, dimana-mana masalah dan akhirnya masyarakat menjadi tidak sehat.

Tidak sehat mental, tidak sehat ekonomi dan tidak sehat fisik. Kalkulasinya sama-sama saja, tinggal masalah waktu saja. Pemerintah nampaknya mengambil simpulan “melanjutkan kehidupan” dengan segala risiko yang akan ditanggung. Risiko “meninggalnya” ekonomi secara politik lebih berbahaya dari meninggalnya ribuan rakyat, demi jutaan rakyat yang lain.

Sehat no 1. Nyawa no 1. Namun dalam ketatanegaraan dan eksistensi sebuah bangsa dan negara ekonomi dan pemerintahan menjadi no spesial di atas no 1. Risiko herd immunity, jumlah korban bertambah dan segala kemungkinan buruk akan diambil pemerintah. Pepatah bijak mengatakan, “Setiap langkah pasti ada yang diinjak”. Pemerintah pasti akan melangkah, bila perlu “menginjak” hak hidup manusia demi manusia yang lebih banyak.

Masih ingat dalam sejarah ketika pasukan Jepang banyak “memangsa” perempuan Indonesia dikenal dengan istilah Jugun Ianfu. Maka Bung Karno melakukan sebuah langkah yang mengorbankan rakyat Indonesia. Apa yang dilakukan Bung Karno? Tiada lain adalah mengumpulkan para pelacur. Memanfaatkan para pelacur sebagai “mangsa” tentara Jepang. Risiko ini diambil dalam upaya menyelamatkan yang lebih prioritas, yakni para gadis.

New normal menurut psikolog Yuli Budirahayu adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan menerapkan protokol kesehatan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19. New normal adalah langkah pahit yang harus diambil karena Covid-19 masih tak bisa pergi. Mengapa? Karena masyarakat kita tak bisa semua diam. Covid-19 pun dipastikan “laten”, Ia bagai bom batok. Tak terlihat dan bisa meledak kapan saja.

New normal adalah new karakter. Bangsa dan masyarakat kita harus ubah pola. Ubah kebiasaan, ubah mental menjadi new karakter. Karakter baru yang adaptasi terhadap bahaya laten Covid-19. Adaptasi ketat, dalam rangka melanjutkan produktifitas disamping melakukan penghindaran diri dari wabah Covid-19. New normal adalah berusaha menormalkan diri pada kondisi bahaya.

Pada dasarnya Saya setuju new normal bagi manusia dewasa yang harus “menyelamatkan” diri dari kebutuhan bertahan hidup. Manusia dewasa harus kerja, produktif sekali pun dalam ancaman “makhluk ghoib” bernama Hantu Corona. Berbagai layanan publik harus berjalan walau dengan protokoler kesehatan yang ketat. Pusat pemerintahan, pusat bisnis, pusat industri, pusat peribadatan, produksi dan kebutuhan pokok harus aktif.

Kecuali dunia pendidikan di dalamnya ada anak didik. Anak didik adalah makhluk yang belum dewasa. Ia bukan warga negara yang harus produktif membangun ekonomi dan melayani publik. Anak didik adalah objek layanan bukan pelayan, bukan produsen. Maka anak didik menurut Saya harus dibedakan. Tetap belajar dan tetap tidak keluar dari rumah sebagai “bunker” pertahanan. Pada dasarnya kita sedang “perang” melawan Covid-19. Anak didik harus diamankan dahulu.

Apa pun yang terjadi, anak tak boleh menjadi korban dalam sebuah peperangan. Tentara, prajurit, pasukan perang dan orang-orang yang terlibat dalam sebuah peperangan biasa menjadi korban perang. Korban perang itu pahlawan dan pasti orang dewasa. Anak-anak tidak! Ia harus diamankan dari sebuah konflik atau sebuah perlawanan. Walau pun “konon” Covid-19 pun punya karakter tak suka anak. Covid-19 lebih menyuai orangtua yang punya penyakit bawaan.

New normal terkait kesiapan karakter. Bisakah rakyat kita berubah karakter dari pola santai, sembarangan, cuek dan bermental terserah menjadi disiplin dan sehat? Pasti sulit! Namun bila nyawanya terancam dimungkinkan rakyat kita akan melakukan upaya adaptasi. Tentu ada yang mampu beradaptasi ada yang gagap dan gagal. Ini risiko yang akan diambil pemerintah dan kita semua. Wabah Covid-19 bukan lagi buah simalakama, melainkan dunia simalakama. Diam di rumah tidak bekerja kelaparan, keluar rumah cari makan bisa “dimakan” monster Covid-19.

Akhirnya filosofi “Sabisa Bisa Kudu Bisa, Pasti Bisa” diambil pemerintah dalam bahasa new normal. Sebisa mungkin kita harus hidup bersama hidupnya Covid-19 disamping kita. seolah-olah hidup normal dalam ketidaknormalan. Kalau Covid-19 belum pergi, masih ada disekitar kita, semoga posisi kita dengan Covid-19 bagai air dengan minyak. Tak menyatu. Amiiiin YRA.

Pos terkait

banner 468x60