Menelusuri Romantisnya Gadis Muda Bersama Buku Yang Dicintainya

Pewarta: Dwi Arifin

Koran SINAR PAGI (Bandung)-, Buku dan dunia menulis sangat erat dengan kaum hawa. Khusus mereka yang peduli tentang pendidikannya memiliki waktu dan ketergantungan terhadap buku menjadi ciri khas wanita yang cerdas. Banyak hal romantis antara sisi kehidupan mereka bersama buku. Seperti dua gadis muda yang sama-sama murah senyum yaitu Risna Oktafiani dan Rifa.

Risna Oktapiani sang santri Madrasah Aliah Persis Katapang pernah bercerita kepada media publikasi ini. “Awalnya, sejak SD Risna sudah dikenalkan dengan cerita-cerita di dalam buku oleh kedua orang tua. Ya, semacam dongeng kancil. Setelah itu ketika masuk MTs, Risna sangat senang pergi ke perpustakaan sekolah untuk membaca buku. Selain tempatnya yang sangat sepi, disana juga risna bisa menambah banyak ilmu. Awalnya Risna senang membaca novel, bahkan hampir semua novel yang tersedia di perpustakan sekolah sudah habis di baca. Hingga akhirnya Risna memiliki inspiratif untuk menulis, karena kekaguman Risna pada sebuah novel di perpustakaan sekolah yang berjudul “Perempuan Mencari Tuhan.” Namun, semua itu bisa Risna mulai semenjak memasuki kelas 10. Risna mengikuti ekskul jurnalistik yang dibina oleh Ibu Eva. Selain ingin menjaadi penulis, Risna juga sangat ingin memiliki perpustakaan kecil di rumah sendiri. Semuanya di mulai disini, hoby dan bakat Risna diluapkan ketika kelas 11 menuju semester 2.

Santri MA Persis 60 Katapang yang memiliki ciri khas pemalu, namun murah senyum, kaya dengan perbendaharaan kata, dan  memiliki daya tarik untuk akrab dengan teman dekat maupun teman barunya. Sebelum berhasil menulis buku hingga bisa diterbikan oleh penerbit, Risna sempat ikut beberapa lomba dengan berbagai aturan kepenulisan, mengikuti berbagai group Watshapp tentang dunia menulis untuk belajar online dan aktif di Komunitas Penulis Nusantara saat itu. Mulai dari sana bakat menulisnya tumbuh berkembang dan berbuah.

“Senang dan terharu  juga, akhirnya bisa membuat kedua orang tua bangga dengan terbitnya buku ini. Pas Risna ngasih buku ini pada orang tua, mereka terlihat sangat bahagia dan terharu karena perjuangan risna selama ini akhirnya tercapai. Melalui buku ini, Risna ingin membuktikan bahwa Risna bisa berkarya, menunjukkan bahwa santri juga bisa berkarya, bermanfaat untuk orang lain dan belajar mandiri untuk menghasilkan uang melalui keahlian menulis. Honor nulisnya masuk ke rekening Mama, ya meskipun hanya dapat 15% dari setiap pembelian buku. Tapi Risna yakin, inilah jalannya menuju arah yang jauh lebih sukses di kemudian hari. Sedikit demi sedikit Risna juga harus menabung untuk biaya kuliah, karena Risna tidak ingin terus menyusahkan kedua orangtua Risna. Dan semoga dengan bakat yang berupa nikmat terbesar dari Allah ini menjadi jalan menuju kesuskessan dunia dan akhirat.”

Saat ditanya niat dan tujuan membuat karya tulis berupa buku, Risna menjawab, “Kita harus melihat kepada para ulama persis yang ternyata telah mengenal dunia literasi. Banyak buku-buku yang diterbitkan, contohnya Bulughul Maram A.Hassan, karya-karya Ustadz Aceng Zakariya, bahkan sekarang sudah banyak lagi buku yang ditulis oleh Dewan Hisbah Persis. Sebenarnya yang membuat Risna ingin menjadi seorang penulis itu karena kita hidup di dunia tidak selamanya, kita tentu akan mati meninggalkan semuanya, kecuali amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do’a anak yang sholeh. Dan Risna ingin, Risna tetap bermanfaat untuk bumi Allah melalui sedikit ilmu yang Risna bagi melalui tulisan. Dan benar-benar berharap bahwa tulisan itu bisa menjadi amal jariyah untuk Risna, kedua orangtua dan para guru yang telah mendidik Risna sampai saat ini.”

Dalam obrolan terahir, Risna menyimpulkan bahwa menulis itu menyenangkan. Kita melatih menegement psikologi pembaca melalui kalimat demi kalimat. Prosenya juga melatih kesabaran dan komitmen tentang target yang harus kita tuju. Misalnya, buku ini kan jumlah halamannya 287, kalau diinget-inget ini dimulai ketika bulan februari hingga beres di bulan juni. Walau sesibuk apapun, kita harus bisa membagi waktu secara efektif. Jangan lupa dengan kegiatan sekolah, di rumah, dan ibadah juga jangan sampai terbengkalai. Tapi jadikanlah bahwa hal ini yang akan terus mendekatkan kita pada Allah.

Ya… kalau lagi jenuh, Risna suka ke mushola/masjid untuk mengikuti kajian, atau baca buku diperpustakaan jadi jenuhnya juga tersalurkan dengan baik. Karena kedua tempat itu juga yang membuat Risna nyaman sampai saat ini, ungkapnya

Pada sisi lain, Rifa duta baca Dispusipda Jawa Barat, di hari buku nasional yang lalu, sebagai generasi milenia, dia memiliki pandangan khusus tentang buku. Neng Rifa aktifis yang menikmati dunia literasi ini memandang buku sebagai sesuatu yang sangat erat dengan hari-harinya. Buku bisa masuk kebutuhan tersier karena dengan buku mampu meningkatkan jati diri dan prestasi yang biasanya diraih oleh orang yang memiliki kompetensi. Tapi buku juga bisa masuk kelompok primer karena merupakan kebutuhan tiap hari khusus untuk kesehatan akal kita.

Dengan berkembangnya teknologi. Walaupun banyak buku yang hadir dengan tampilan digital, tapi buku yang manual lebih menyenangkan untuk dibaca, karena aroma kertas dan suasan membuka halaman ke halaman yang berbeda-beda. Jadi buku manual kehadirannya tetap lebih menarik sangat dibutuhkan dan tidak akan tergantikan oleh jaman. Rifa sering lebih menikmati buku-buku itu saat malam hening, menjadi teman setia saat sepi yang memberi pengetahun hingga suasana baru.

Rifa mengajak bagi generasi muda yang belum cinta buku, maka belajarlah mencintai satu buku. Misalnya belum cinta buku yang bernuansa paham haluan kanan, latihlah mencintai buku paham kiri. Kalau belum terbiasa cinta buku, harus dipaksakan dulu untuk menjadi kebiasaan hingga kebutuhan. Karena pada dasarnya kodrat manusia memerlukan pendidikan formal ataupun non formal seperti membaca buku agar mudah tumbuh beradaptasi dengan lingkungan untuk menjadi manusa yang berguna atau bermanfaat bagi lingkungan sosialnya.

(19)