Suara Kadispusipda Jabar, Widyaiswara, Legislator & Milena Di Hari Buku Nasional

Pewarta: Dwi Arifin

Koran SINAR PAGI (Bandung)-, Hari Buku Nasional (Harbuknas) diperingati setiap tanggal 17 Mei. Dengan harapan melalui memperingati hari buku ini akan menyadarkan masyarakat tentang pentingnya membaca, meningkatkan minat dan daya baca untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Barat, Riadi S.K.M., M.P.H menjelaskan Alhamdulillah ada hal positif di masyarakat saat pandemi. Mereka yang kurang aktifitas saat berada di rumah, mereka kembali menghidupkan waktu luangnya dengan lebih fokus membaca buku berkali-kali jadi daya bacanya meningkat. Selain itu juga banyak penerbit buku yang memberikan diskon khusus saat ini menjadi tersalurkan kebutuhan membacanya. Dan untuk tetap memenuhi kebutuhan masyarakat perpustakaan ini memberikan layanan online, siap mendistribusikan buku kepada para pembacanya, jelasnya kepada wartawan sebelum menghadiri rapat paripurna (18-5-2020)

Saat ini juga untuk mengarahkan masyarakat tetap produktif di rumah. Dispusipda sedang menggelar lomba karya tulis ilmiah dengan tema “Perangi Covid 19”. Lomba ini merebutkan hadiah dengan total RP.37.500.000, dari data yang masuk ratusan orang menjadi pesertanya. Lomba ini ternyata selain diminati warga Jawa Barat ada juga dari warga yang berada di Singapura, Malaysia, Kalimantan dan lainnya.

Pada kesempatan mensosialisasikan hari Buku Nasional ini, Wakil Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat, Ir. H. Abdul Hadi Wijaya, M.Sc menyampaikan sudah saatnya intansi pemerintah mentranformasikan diri untuk sektor perpustakaan literasi yang terus berkembang di Jabar. Saya sering ketemu dengan duta baca yang usia muda mereka ini aktif dalam bidang sosial menularkan semangat baca bermodalkan wawasannya yang luas. Ini menjadi bukti hasil positif dari berliterasi

Selama ini program literasi sudah heboh dengan game mix dan tersosialisasikan lebih luas, cuman perlu ada pendalaman tentang program tersebut. Melalui semakin banyaknya generasi muda yang terlibat dan masyarakat yang lebih aktif. Dan inovasi yang menyesuaikan kondisi masyarakat sehingga generasi bangsa terfasilitasi untuk kebutuhan informasinya.

Misalnya sekarang banyak generasi muda yang lebih dekat dengan internet, maka tampilan buku harus hadir melalui layanan digitalnya. Kedepannya program literasi ini harus saling terintegrasi antara dinas pemuda dan olah raga, dinas perpustakaan daerah dan dinas pendidikan. Melalui dinas itu, Pemerintah provinsi menghadirkan ruang baca menyediakan konten yang positif.

Dan bagi pembisnis harus bisa inovasi mengalihkan pasar bukunya ke digital. Dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 3 tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan. Pemerintah provinsi komitmen mendukung dengan anggaran dan kegiatan yang menumbuhkan minat hingga daya baca.

Intinya pada hari buku nasional ini perlu ada refleksi. Karena kualitas hidupnya sebuah bangsa tergantung dari kualitas berliterasinya. Maka banyak-banyaklah membaca agar wawasan luas pola pikir kita upadate, hingga mudah untuk terus berkarya.

“kalau misalnya kita dewan kurang peduli terhadap membaca, kita akan tertinggal informasi. Jadi idealnya kita harus menjadi teladan dan lebih agresif dalam menumbuhkan budaya baca. Jadilah orang yang lebih tau terlebih dahulu, miliki bekal literasi untuk menemukan solusi”

Disisi lain Widyaiswara Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Idris Apandi M.Pd mengungkapkan saat ini buku dan minat baca belum menjadi kebutuhan masyarakat. Karena mereka menilai buku merupakan barang mewah dan mahal. Maka penting semua bergerak untuk menyadarkan tentang budaya baca sebagai bentuk mencintai ilmu dan buku. Minimal satu bulan satu buku. Baik membaca melalu hard copy atau soft copy. Dan kalau sudah terbiasa membaca dengan modal ilmu yang diperoleh kita berlatih menjadi penulis, ucapnya sosok yang dikenal para guru sebagai mesin penulis.

Di hari buku ini, generasi mileniapun memiliki pandangan khusus tentang buku. Neng Rifa aktifis duta baca Jawa Barat memandang buku ini bisa masuk kebutuhan tersier karena dengan buku mampu meningkatkan jati diri dan prestasi yang biasanya diraih oleh orang yang memiliki kompetensi. Tapi buku juga bisa masuk kelompok primer karena merupakan kebutuhan sehari-hari untuk kesehatan akal kita.

Walaupun banyak buku yang hadir dengan tampilan digital, tapi buku yang manual lebih menyenangkan untuk dibaca, karena aroma kertas dan suasan membuka halaman ke halaman yang berbeda-beda. Jadi buku manual kehadirannya tetap lebih menarik sangat dibutuhkan dan tidak akan tergantikan oleh jaman.

Bagi generasi muda yang belum cinta buku, maka belajarlah mencintai satu buku. Misalnya belum cinta buku yang bernuansa paham haluan kanan, latihlah mencintai buku paham kiri. Kalau belum terbiasa cinta buku, harus dipaksakan dulu untuk menjadi kebiasaan hingga kebutuhan. Karena pada dasarnya kodrat manusia memerlukan pendidikan formal ataupun non formal seperti membaca buku agar mudah tumbuh beradaptasi dengan lingkungan untuk menjadi manusa yang berguna atau bermanfaat bagi lingkungan sosialnya.

(52)