Harbuknas: Menelusuri Kisah Inspiratif Penulis Buku “Itikaf Literasi”

Pewarta: Dwi Arifin

Koran SINAR PAGI (Bandung)-, Hari Buku Nasional (Harbuknas) diperingati setiap tanggal 17 Mei. Dengan harapan melalui memperingati hari buku ini akan menyadarkan masyarakat tentang pentingnya membaca, meningkatkan minat dan daya bacanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pada sisi lain budaya baca yang berbuah karya tulis menjadi pendapatan bagi para penulisnya. Mari kita simak interaktif bersama Widyaiswara, penulis buku, dan anggota pendidikan Jawa Barat, Idris Apandi M.Pd tentang karya tulisnya “Itikaf Literasi”.

Untuk mengawali masuk kedunia tulis menulis apa yang perlu dipersiapkan?…

Saya ini kan suka menyikapi isu terbaru, aktual, atau bersikap kristis semua itu jadi modal ide menulis. Seperti buku yang berjudul Itikaf Literasi itu menarik karena ada momen yang mendukung ialah hadirnya bulan ramadhan. Buku ini membahas syariah, pengalaman religi hingga kondisi sosial kemasyarakatan.

Jalur penerbitan apa yang ditempuh?

Jalur penerbitan indie. Kita desain dulu covernya dan kita promosikan di media sosial, melalui judul dan covernya akan menjadi daya tarik awal pembaca atau calon pembeli.

Dari banyaknya buku yang bapak tulis, Buku apa yang sangat diminati pada momen saat ini?

Kalau dibandingkan antara buku yang sifatnya menumbuhkan keterampilan, peningkatan kualitas ibadah dan fiksi. Buku berisi pembelajaran untuk memiliki keterampilan sangat dicari dan banyak yang beli. Seperti buku saya yang membahas pembuatan soal HOT, cara menulis ilmiah, atau publik speaking.

Idris Apandi M.Pd mengungkapkan saat ini buku dan minat baca belum menjadi kebutuhan masyarakat. Karena mereka menilai buku merupakan barang mewah dan mahal. Maka penting semua bergerak untuk menyadarkan tentang budaya baca sebagai bentuk mencintai ilmu dan buku. Minimal satu bulan satu buku. Baik membaca melalu hard copy atau soft copy. Dan kalau sudah terbiasa membaca dengan modal ilmu yang diperoleh kita berlatih menjadi penulis, ucapnya sosok yang dikenal para guru sebagai mesin penulis.

(28)