Agroforestri Dengan Kopi Arabika Dan Tanaman Pangan

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh : Sugama

Pertumbuhan penduduk yang tinggi dan tidak terkontrol akan menimbulkan banyak masalah pada pengelolaan lingkungan dan kehidupan masyarakat pada umumnya. Pertambahan penduduk seyogyanya diatur sedimikian rupa dan dibarengi dengan perkebangan fasilitas pendukung untuk kehidupan yang memadai, berupa penyediaan sarana dan prasarana untuk pemenuhan kebutuhan pokok dalam kehidupan, seperti kebutuhan sandang, pangan dan papan (pemukiman).

Pertambahan penduduk ini mengakibatkan Laju konversi lahan pertanian menjadi besar, diperkirakan mencapai 100.000 ha/tahun, akibatnya lahan pertanian luasnya semakin menyempit. sehingga penguasaan lahan oleh petani luasnya semakin kecil. Kondisi ini akan menyebabkan kesejahteraan para petani menjadi semakin berkurang, karena pada lahan yang sempit usahatani menjadi tidak efisien.

Akibat semakin menyempitnya lahan pertanian, mendorong petani banting setir untuk mencari penghidupan pada sector yang lain. Untuk petani yang tidak punya keahlian yang lain selain bertani, terpaksa menyambung hidup dengan mencari lahan baru di kawasan hutan. Pada akhirnya mengakibatkan peningkatan jumlah penduduk yang berada di dalam maupun di sekitar kawasan hutan.

Masyarakat yang berada di dalam dan di sekitar kawasan hutan menunjang kehidupannya dengan bertani. Melakukan pembukaan lahan hutan untuk dijadikan lahan tanaman pangan seperti padi (Oryza sativa), jagung (Zea mays), kacang tanah (Arachis hypogaea), dan sayur-sayuran yang mempuinyai nilai ekonomi tinggi, seperti kentang, Tomat, cabe, dan lainnya.

Pembukaan lahan hutan umumnya dilakukan dengan cara penebangan pohon kayu-kayuan dan pembakaran semak belukar, serta sisa-sisa tanaman hutan, sehingga lahan hutan menjadi rusak (kritis) karena kehilangan penutupan vegetasinya. Kondisi ini mengakibatkan fungsi hutan sebagai penahan air, pengendali erosi, siklus hara, pengatur iklim mikro, sumber plasma nutfah dan retensi karbon semakin berkurang.

Padahal sebagaian besar wilayah kawasan hutan tersebut adalah Daerah Pegunungan, yang merupakan Daerah Tangkapan Air (water Catchment Area), sebagai hulu sungai-sungai yang besar yang mempunyai arti penting, sebagai penunjang kehidupan manusia dan hewan di bawahnya. Lahan kritis sebagai akibat pembukaan lahan tersebut tidak jarang mengakibatkan bencana, baik kekeringan pada waktu musim kemarau, ataupun bencana banjir dan longsor diwaktu musim hujan.

Tidak dipungkiri juga usaha tani sayur-sayuran yang memiliki nilai ekonomi tinggi, merupakan usah tani yang intensif dengan input penggunaan pupuk kimia dan obat-obatan yang tinggi. Penggunaan bahan kimia yang besar sepanjang musim tanam selain akan mengakibatkan turunnya kualitas kesuburan tanah juga akan mengakibatkan pencemaran lingkungan, baik tanah, air, maupun udara.

Salah satu upaya untuk mengatasi kebutuhan akan lahan pertanian dengan tetap mempertahankan fungsi hutan dan lingkungan adalah melalui penerapan sistem agroforestri. Dengan penerapan agroforestri diharapkan mampu menjadi media untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mengatasi masalah global, seperti penurunan kualitas lingkungan, kemiskinan, dan pemanasan global.

Model agroforestri yang sudah berkembang di Indonesia khususnya di Jawa Barat salah satunya yaitu Agroforestri berbasis kopi. Model Agroforestri ini mampu menyediakan layanan ekosistem yang hampir sama dengan ekosistem hutan pada umumnya dan sekaligus pada saat yang sama juga dapat memenuhi kepentingan sosial, ekonomi dan ekologi (konservasi lahan).

Definisi agroforestri yang dipopulerkan oleh World Agroforestry Centre (ICRAF) yaitu: “Agroforestri adalah suatu nama kolektif untuk sistem penggunaan lahan, yang dalam prakteknya tanaman keras berkayu ditanam bersamaan dengan tanaman pertanian, dan/atau hewan, dalam suatu unit pengelolaan lahan yang sama. Terintegrasi dalam suatu bentuk pengaturan spasial atau urutan temporal. Di dalamnya terdapat interaksi faktor ekologi dengan ekonomi antara komponen tanaman berkayu dan non kayu”

Definisi terebut mengandung pengertian :
1. Agroforestri setidaknya melibatkan dua atau lebih spesies tanaman yang salah satu diantaranya adalah tanaman berkayu,
2. Hasil (output) yang diperoleh dari sistem agroforestri lebih dari satu
3. Menghemat biaya produksi (input)
4. Siklus yang terjadi pada sistem agroforestri selalu lebih dari satu tahun,
5. Proses ekologi dan ekonomi dalam sistem agroforestri lebih kompleks dibanding sistem monokultur.

Model Agroforestri berbasis tanaman kopi yang banyak dilakukan petani di daerah Jawa Barat biasanya melibatkan minimal tiga jenis tanaman. Pohon kayu-kayuan sebagai pohon pelindung, tanaman kopi sebagai tanaman industri, serta tanaman pertanian, saperti tanaman palawija dan sayur-sayuran. Model tersebut selain dapat menghemat biaya produksi juga dapat menekan pertumbuhan gulma.

Pohon kayu-kayuan dan tanaman kopi muda tidak perlu mendapatkan pemeliharaan khusus, dengan pemeliharaan untuk tanaman pertanian, pemupukan dan pembersihan gulma, sekaligus juga memelihara tanaman kopi dan pohon kayunya. Sisa panen biomassa tanaman pertanian juga dapat dijadikan sebagi pupuk hijau. Model Agroforestri ini juga dapat menekan resiko kerugian, sebab petani dapat mengandalkan tanaman yang lainnya, bila tanaman yang satu mengalami kerugian.

Model tanaman monokultur yang banyak dilakukan petani memang sangat menguntungkan, tetapi membutuhkan biaya tinggi, perhatian ekstra dan tenaga, serta resiko kegaglan yang besar. Bila sedang booming petani bisa mendapatkan keuntungan tiga sampai empat kali lipat. Dan sebaliknya bila sedang merugi petani dapat kehilangan uang ratusan juta rupiah, sehingga untuk memulai usaha kembali akan kehabisan modalnya.

Agroforestri berbasis kopi mempunyai peran dalam konservasi tanah, air dan keanekaragaman hayati, penambahan unsur hara, modifikasi iklim mikro, penambahan cadangan karbon, menekan serangan hama dan penyakit kopi dan peningkatan pendapatan petani. Selain itu agroforestri berbasis kopi juga berperan dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Adaptasi perubahan iklim pada agroforestri berbasis kopi diwujudkan dalam bentuk konservasi lahan, air dan biodiversitas serta pengendalian iklim mikro, sedangkan mitigasi dalam bentuk penambahan cadangan karbon sehingga emisi CO2 dapat dikurangi.

Mengingat sangat besarnya peran Agroforestri berbasis tanaman kopi bagi perbaikan konservasi lahan kawasan hutan dan untuk meningkatkan taraf kehidupan ekonomi masyarakat hutan dan sekitar hutan pada umumnya. Model usaha tani tersebut perlu dapat perhatian yang lebih besar dari pemerintah untuk mengembangkannya dan membina masyarakat sekitar dan dalam kawasan agar menjadi sadar dan mengangap penting untuk melakukannya.

Dilain fihak masyarakat juga akan diuntungkan bila melakukan usaha model Agroforestri tersebut, baik dari segi pembiayaan yang lebih hemat maupun resiko kegagalan yang lebih kecil. Harga kopi di pasaran juga relative lebih stabil dibandingkan harga sayur-sayuran, bahkan harganya cenderung meningkat dengan dikenalnya Kopi hutan dari Jawa barat ke manca Negara.

Pos terkait

banner 468x60