Inspirasi Hardiknas: Mengkolerasikan Ilmu Matematika Ke Konsep Kehidupan

Penulis: Dias Ashari (Mahasiswi Farmasi Universitas Halim Sanusi PUI Bandung)

Tepatnya tanggal 02 Mei 2020 kemarin, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional ( HARDIKNAS). Hari yang telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia ini guna untuk memperingati hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara sebagai tokoh pelopor pendidikan di Indonesia.

Tentu saja perkembangan pendidikan di Indonesia tidak lepas dari peran seorang guru. Mereka yang senantiasa mendidik meskipun bukan anak kandungnya. Mereka rela mengabdi untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Betapa peran mereka sangat penting sebagai ujung tombak peradaban sebuah bangsa dan negara.

Dari ratusan bahkan ribuan guru tentu saja akan memiliki karakter dan cara mendidik yang berbeda pula. Namun jika mengutip salah satu dialog yang ada dalam film Bollywood yaitu Hicki, maka ada empat macam tipe guru. Pertama, seorang guru yang normal hanya mengajari anda. Kedua, seorang guru yang baik hanya mengerti anda. Ketiga, jika ia guru yang hebat, maka dia akan menunjukkan kepada anda bagaimana cara menerapkannya. Keempat, akan tetapi beberapa guru bisa menginspirasi kami. Nah, dan point keempat inilah yang punya dampak besar bagi para muridnya.

Begitupun bagi penulis, seorang guru yang bernama Faqih Ahmad Muzakky adalah sosok yang banyak memberikan inspirasi bagi muridnya. Sebagai dosen matematika disalah satu kampus swasta yang ada di Bandung, dirinya tak hanya mengajarkan soal materi saja. Namun lebih dari itu, dirinya kerap mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang dapat diambil dari teori matematika. Kemudian bagaimana dirinya mampu memberikan pandangan yang luas tentang matematika dalam kehidupan. Begitupun setiap pengalaman yang diceritakan semasa kuliah S1 yang ia tempuh di Malaysia, selalu membuat penulis takjub dan kagum akan sosoknya.

Tak seperti dosen kebanyakan, yang pada awal pertemuan kuliah akan langsung membahas mengenai silabus yang akan ditempuh selama satu semester. Dirinya malah bertanya pada mahasiswa terkait ekspektasi yang ingin didapat setelah selesai mempelajari matematika. Para mahasiswa tentu saja memiliki jawaban yang berbeda. Ada yang ingin pintar matematika, ada yang butuh matematika guna menunjang terkait jurusan kuliah yang diambil. Selain itu ada pula yang mengatakan bismillah sebagai bentuk ekspektasi.

Dirinya hanya tersenyum atas jawaban kami yang kurang tepat. Ia menjelaskan bahwa matematika itu bukan soal mendapatkan nilai, namun bagaimana kita dapat mengkolerasikan ilmu matematika dengan konsep kehidupan. Ia pun sering mengajarkan kepada mahasiswa untuk selalu mengasah logika agar lebih luas memandang dunia.

Dirinya pernah berkata bahwa matematika itu bukan untuk dihafal namun bagaimana kita bisa menggunakan logika kita. Hafalan hanya bersifat sementara dan tak jarang mahasiswa akan lupa terkait materi yang telah diajarkan satu semester tersebut. Benar-benar pernyataan yang menohok bagi penulis.

Berbicara soal mengasah logika memang bukan perkara yang mudah. Hal tersebut dikarenakan sistem pendidikan Indonesia menerapkan pola yang kurang tepat bagi anak didiknya. Selama menginjak SD hingga SMA, kita jarang dibiasakan atau dirangsang untuk menggunakan logika. Hal ini terbukti dari satu pertanyaan sederhana mengenai Ibu Kota Indonesia. Semua anak didik pasti tahu dan akan menjawab kota Jakarta. Tanpa disadari sebuah pertanyaan ini hanya mengunci logika berpikir, karena dalam otak kita hanya mentok memikirkan jawaban itu saja. Padahal jika pertanyaannya dirubah menjadi Ibu Kota di seluruh dunia. Pola seperti ini akan menggali rasa ingin tau yang dalam terkait suatu hal. Kemudian wawasannya akan terbuka karena diarahkan pada pertanyaan yang lebih luas. Otomatis jika sudah seperti ini anak didik terbiasa untuk mengasah logikanya.

Dari beberapa materi yang penulis dapat selama mengikuti perkuliahan matematika adalah konsep mengenai teori bilangan, Chinese Reminder Theorem, Himpunan, Bahasa Matematika, Sistem Persamaan dan Pertidaksamaan, Turunan, Limit dan Fungsi. Semua materi tersebut memiliki peranan yang berbeda dalam kehidupan. Misalnya dengan mempelajari teori bilangan ada salah satu konsep GCD ( Greates Common Divisor) yang mana cara untuk menemukannya ada beberapa langkah. Hal inipun berlaku saat kita menemukan atau mengalami permasalahan dalam kehidupan. Ketika kita tidak menemukan solusi dilangkah pertama, maka kita harus mencoba lagi menggunakan langkah kedua, ketiga dan seterusnya.

Begitupun dengan himpunan yang mengajarkan kepada kita untuk mencari perkumpulan yang tepat jika ingin menjadi orang yang berguna. Kemudian bahasa matematika dapat dikolerasikan dengan hubungan komunikasi antara manusia. Ketika komunikasi berjalan baik maka tidak akan ada perselisihan. Sistem Persamaan dan Pertidaksamaan mengajarkan kita untuk menghargai perbedaan yang ada. Turunan mengajarkan kita untuk bisa mengontrol perubahan nilai output setiap perubahan input. Kemudian masih banyak lagi manfaat ilmu matematika ini dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pembelajaran matematika ini pula Faqih sering memberikan sedikit refleksi bagi mahasiswanya dengan bermain game. Lagi-lagi game ini pun bukan game biasa, melainkan mengajarkan kita untuk melatih jiwa leadership agar mahasiswa dapat melanjutkan memimpin negara ini dengan lebih baik. Kadang ketika ada issue terhangat yang terjadi di Indonesia, dirinya sering membuka sesi diskusi diantara mahasiswanya.

Sesi terakhir perkuliahan ditutup dengan presentasi mahasiswa terkait beberapa materi yang ada dalam silabus. Sebelum tampil tentu saja mahasiswa diajarkan mengenai cara presentasi yang baik. Dimulai dari pembuatan power point, cara berpenampilan dan cara menyampaikan materi. Bagi dirinya inilah yang paling penting bagi mahasiswa, tak hanya hard skill saja yang diajarkan, namun mahasiswa pun harus belajar dan mengasah soft skillnya karena inilah yang banyak dibutuhkan ketika terjun di lapangan.

Semoga pendidikan di Indonesia terus maju dan berkembang dengan kehadiran sosok guru-guru yang dapat menginspirasi anak didiknya. Inilah yang justru banyak dibutukan oleh seorang anak didik. Sebagaimana Faqih yang dapat mengubah paradigma mengenai matematika. Kini matematika bukan lagi musuh yang menakutkan. Namun harus dijadikan teman untuk membantu memecahkan persoalan kehidupan. Menemukan cara yang tepat dalam mengajar adalah nilai yang mahal. Maka dari itu temukanlah agar dapat melakukan perubahan.

(8)