Hutan Mangrove Sebagai Perisai Pantai Dan Sumber Ekonomi Bagi Masyarakat

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh : Sugama

(Disarikan dari Teleconfren “Ngobrol Pagi” IPKINDO DPW JAWA BARAT, Kamis, 30/4/20.)

Hutan mangrove atau sering disebut juga dengan nama hutan bakau adalah hutan yang tumbuh di air payau, dan dipengaruhi oleh pasang – surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat terjadinya pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk – teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun disekitar muara sungai di mana arus air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.

Ekosistem hutan mangrove bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya abrasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup ditempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan mangrove karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.

Menghadapi lingkungan yang ekstrem di hutan mangrove, tetumbuhan beradaptasi dengan berbagai cara. Secara fisik, kebanyakan vegetasi mangrove menumbuhkan organ khas untuk bertahan hidup. Seperti aneka bentuk akar dan kelenjar garam di daun. Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi fisiologis.

Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp.), yang biasanya tumbuh di zona terluar, mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya gelombang. Jenis-jenis api-api (Avicennia spp.) dan pidada (Sonneratia spp.) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari udara.

Pohon kendeka (Bruguiera spp.) mempunyai akar lutut (knee root), sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok; keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur, sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis vegetasi mangrove memiliki lentisel, lubang pori pada pepagan untuk bernapas.

Hutan mangrove merupakan ekosistem yang sangat produktif yang menyediakan banyak manfaat untuk lingkungan maupun manusia. Hutan mangrove sebagai Sumber Daya Alam (SDA) mempunyai fungsi dan manfaat yang sangat penting bagi ekosistem wilayah pantai. Tidak hanya berperan sebagai pelindung pantai dari ancaman abrasi, gelombang pasang, tsunami dan instrusi air laut saja, tapi juga dapat menambah daratan baru karena mampu “menjebak” sedimen untuk tetap berada dalam kawasan mangrove.

Selain itu hutan mangrove berfungsi sebagai tempat mencari makan, tempat berlindung, “tempat asuhan” dan tempat memijah berbagai jenis ikan, udang, kepiting dan kerang-kerangan. Hal ini karena tumbuhan mangrove memiliki beberapa jenis akar napas untuk mengambil oksigen dari udara. Juga sebagai penghasil “detritus”, yaitu luruhan daun mangrove yang jatuh menjadi bahan makanan biota perairan.

Dari aspek sosial ekonomi, tumbuhan mangrove dapat dimanfaatkan untuk kayu bakar, tiang pancang, bahan pangan, farmasi, pengawet, pewarna dan ekowisata yang berbasis perlindungan SDA. Serta untuk Pemberdayaan masyarakat lokal dan pembangunan sadar lingkungan melalui edukasi. Jika memenuhi syarat kelayakan, maka pemanfaatan untuk tujuan ekowisata sangat direkomendasikan.

Hutan Wisata Mangrove Karangsong Kab.Indramayu, Jawa barat.

Ekosistem mangrove memang istimewa, unik dan eksotis. Mangrove tumbuh di atas tanah berlumpur di daerah pantai atau muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Pada pantai yang terlindung oleh pulau dan tiupan angin, ditemukan mangrove yang relatif luas, contohnya di Pantai Utara (Pantura) Jawa.

Namun sebaliknya pada pantai yang curam dan terbuka dari gempuran arus, gelombang dan angin, maka hutan mangrovenya relatif sedikit, seperti di Pantai Selatan (Pansela) Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

Demikian berharganya hutan mangrove bagi kelestarian wilayah pesisir, maka seyogyanya kita lestarikan. Biarkanlah hutan mangrove menjadi ekosistem “utuh”, yaitu stabil, seimbang dan produktif, yang mampu menghidupi biota perairan pesisir hingga berlimpah. Menjadi habitat satwa yang mampu menghidupinya. Menjadi penyangga kelestarian wilayah pesisir dan menjadi “shelter” bagi ikan yang bermigrasi.

Oleh karenanya pendayagunaan hutan mangrove yang tidak bijak, seperti untuk tujuan pertanian, pemukiman, pertambakan, pangkalan pendaratan ikan dan kegiatan usaha lainnya harus “ditimbang” baik buruknya agar tidak menguntungkan satu pihak tetapi merugikan pihak lain.

Penyusutan luas hutan mangrove, berdampak terhadap menurunnya kelimpahan sumber daya ikan ekonomis penting, dimana pada gilirannya nanti akan mengurangi hasil tangkapan nelayan dan tentu dapat menurunkan kesejahteraannya.

Dalam upaya mempertahan eksistensi dan menjaga kelestarian hutan mangrove, beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan sebagai berikut;

– Masyarakat dan perangkat desa pesisir agar diberi pemahaman bahwa betapa pentingnya keberadaan hutan mangrove bagi suatu kehidupan. Selanjutnya secara bersama-sama siap bersedia menjaga dan memelihara hutan mangrove.

– Tingkatkan kapasitas Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) serta Kelompok Tani Hutan agar berperan aktif dalam melestarikan hutan mangrove.

– Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten-Kota melakukan pengukuran dan penandaan (pasang patok), dimana letak batas-batas sepadan pantai dan sepadan sungai agar tidak terjadi penyerobotan lahan.

– Lakukan rehabilitasi ekosistem mangrove dengan penanaman mangrove pada jalur hijau atau sepadan pantai dan sungai.

– Memberi batas kawasan mangrove yang berada di luar sepadan pantai dan sungai, sekaligus melakukan penanaman atau rehabilitasi.

– Melakukan penambahan area hutan mangrove secara kontinyu dengan cara penanaman melalui dana swadaya, program pemerintah, Corporate Social Responsibility (CSR) Perusahaan atau sumber pendanaan lain yang syah.

Dengan adanya kepedulian pemerintah daerah dan kesadaran dari masyarakat setempat dalam menjaga, mengelola, dan memelihara kelestarian hutan mangrove ini, niscaya manfaat hutan mangrove dalam melindungi pesisir pantai dan semua kehidupannya serta kehidupan manusia sendiri akan terus dapat dirasakan. Hutan mangrove ini pun secara ekonomi memberikan kehidupan kepada masyarakat sekitar.

Pos terkait

banner 468x60