Salah Satu Kepala Desa Jelaskan Tempat Karantina Tempat Untuk Menakuti Pemudik

Pewarta : Ok

Koran Sinar Pagi,Kab,-Tulungagung, – Menindaklanjuti info Masyarakat warung kopi yang buka 24 jam di dekat Tambangan Jeli Kecamatan Karangrejo yang ramai dikunjungi muda mudi di tengah wabah Covid – 19 yang tak indahkan atau yang tidak taati peraturan itu milik salah satu Kepala Dusun.   Saat dinyatakan kebenaran oleh Team Sinar Pagi (20/04) memang benar jam menunjukan pukul 23.00 wib warung tersebut masih rame pengunjung.

Laporan masyarakat (21/04) kita sampaikan ke Suratman selaku Kepala Desa Jeli menanggapi laporan tersebut dan memanggil salah satu Kasun untuk segera mengambil sikap terkait aduan masyakarat tersebut namun bukan halnya segera ditanggapi Kasun tersebut mengatakan “Tapi itu menyediakan Pabrik ya tapi tutupe gak malam lo mas ya gimana”. Suratman menyahut atas jawaban Kasun “Pokoknya namanya aturan ya aturan ya sudah kalau sudah gini ditutup dulu jangan ini itu aturan ya dilaksanakan”.

Perihal lainpun sempat kita pertanyakan terkait pembuangan limbah masker dari masyarakat dan tempat karantina di desa dan bagaimana juga terkait limbah sampah yang ada di karantina yang dikarenakan di Desa tidak punya TPS.

Suratman Kepala Desa Jeli Menambahkan pernyataannya “Tempat karantina itu sebenarnya untuk tempat menakut nakuti pemudik. Tempat kemarin itu sebenarnya disini tapi sudah di pindahkan ke SD tempatnya saya usahakan semaksimal mungkin supaya lebih baik lagi. Kalau terkait limbah sampah, masyarakat disini sudah terbiasa membuang di liang tanah lalu dibakar” Ujarnya.

Dengan Penjelasan Kepala Desa perihal tersebut juga kita sampaikan kepada Puskesmas Jeli Kecamatan Karangrejo yang berkaitan dengan layaknya tempat karantina, tempat pembuangan sampah di karantina, bagaimana penularan Covid-19 dan bagaimana seharusnya penyemprotan disinfektan tersebut.

Alhasil disitu bertemu dengan Bidan PONKESDES yang juga berperan membantu Desa menjaga tempat karantina dari Desa Sukorejo yang sedang mengirim laporan ke Puskesmas Jeli Mengatakan “Kepala Puskesmas tidak ada ditempat. Kalau permasalahan tempat karantina katakan layak atau tidak layaknya seperti itu yang beralaskan tikar menurut saya tidak layak disitu ada kipas angin saja juga tidak boleh padahal sekarang juga sudah ada edaran kalau boleh karantina dirumah. Kalau masalah sampah di karantina ya kalau bisa dibuang di sampah secara baik, kalau masalah penularan itu bisa lewat air liur, bersalaman maka dari itu saling menjaga jarak. Tapi Virus Covid-19 itu mati kalau terkena panas sinar matahari jadi kalau masalah penyemprotan siang hari tidak apa tapi semprotkan dirumah tapi kalau dijalan kurang efektif lebih semprotkan malam hari,” ujarnya.

Pengamat PKTP Perkumpulan Komunitas Tulungagung Peduli Susetyo Nugroho juga unjuk bicara ditengah wabah Covid-19 disini Mengatakan “Dalam hal pembuatan barak (karena tidak memenuhi syarat sebaga tempat karantina) lebih banyak madharatnya dari pada manfaatnya, karena disitu malah mereka dipaksa untuk berinteraksi dengan sesama penghuni dan apakah MCK nya memenuhi syarat? Apakah tujuan menakut nakuti pemudik seperti yang diutarakan Kades juga banyak manfaatnya? bukankah hal tersebut sudah diatur oleh pemerintah pusat bahwa larangan mudik diperuntukkan untuk pemudik yang berasal dari daerah Zona Merah dan daerah yang menerapkan PSBB, jadi tidak di gebyah uyah juga karena SOP barak tersebut tidak jelas. Hal ini malah menimbulkan kecurigaan tentang efektifitas penggunaan anggaran Desa yang mencapai 25%-30%, bukankah anggaran tersebut bisa dialihkan sebagai anggaran edukasi & penguatan ketahanan pangan/pemberian obat obatan penambah imunitas termasuk menenangkan masyarakatnya supaya tidak panik sebaiknya seluruh masyarakat bisa bersama sama mengawasi penggunaan anggaran diluar blt/pkh” ujar Susetyo Nugroho.

(16)