Fenomena Eksistensi Kaum Filantropi Persepsi Bahasa Jurnalistik

  • Whatsapp
banner 468x60

Penulis: Dwi Arifin ( Duta Perpustakaan Dispusipda Jabar 2017)

Banyak para dermawan atau lembaga penyalur bantuan pemerintah yang ingin berfoto saat memberikan bantuan. Hal ini tergantung dari berbagai kepentingannya. Namun ada hal yang menarik saat penerima bantuan yang dikatagorikan prasejahtera, kurang mampu, atau miskin menerima bantuan. Seolah-olah simbol bahwa tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah.

Dan ada yang lebih menyakitkan lagi, mereka penerima bantuan harus rela terpaksa mengucapkan kalimat secara tulisan terucap. “Saya Tidak Mampu, Saya Penerima Bantuan”. Bantuan sembako itu memang menguatkan jasmaninya, tapi bisa saja bantuan itu melemahkan mentalnya. Bukankah didalam jasmani yang kuat harus ada mental juga yang sehat?…

Kalau dilihat sejarah orang bijaksana, lebih ingin menyembunyikan amalnya. Seperti membagikan sembako disaat dini hari langsung didepan pintu rumah penerimannya. Atau memberikan melalui lembaga sosial agar didistribusikan dengan menyebutkan atas nama hamba Alloh. Maka lembaga sosial penting untuk meningkatkan kepercayaan hingga partisipasi publik.

“Kalau dapat penghargaan, atau dapat hadiah dengan nilai kebutuhan tersier atau sekunder difoto pasti bahagiannya jadi lebih. Kalau nerima bantuan kebutuhan primer kan biasa saja. Ga perlu difoto-foto harusnya. ”

Kalau diamati secara psikologis, orang itu tidak mau disebut tidak mampu, atau harus dicap miskin untuk memperolah bantuan. Apalagi jika kedua orang tuanya yang menerima diketahui anak-anaknya otomatis jiwa anak-anak bisa kurang percaya diri dalam pergaulan atau direndahkan teman-teman sebayanya.

Dari berbagai masukan yang dihimpun berdasarkan fenomena sosial. Bagus dan patut dicontoh oleh media atau perorangan. Harus bisa menahan hingga menghapus eksistensi sang dermawan yang gemar dengan mengekploitasi kaum miskin dengan memposting saat serah terima. Memposting bantuan kepada orang yang membutuhkan kemudian kita memajang foto dan videonya itu gak enak banget kelihatnya kalau bahasa jurnalistik eksploitasi kondisi kemiskinan.

Namun, inilah petaka menjadi miskin di negeri yang kaya ini. Mereka harus memasang wajah lesu, sedih bahkan kalau bisa paling menyedihkan untuk bisa membuka hati para juru selamat (kaum filantropi)

Jadi kalau sudah bantu orang mau diposting gak usah dengan wajahnya, apalagi di “lusuh-lusuh” atau dipercantik dikasih baju tertentu yang bernilai promosi atau kampanye. So please… orang-orang yang sedang membutuhkan saat ini atau orang-orang yang ekonominya masih belum sejahtera bukan alat untuk mempercantik sebuah pajangan di media sosial. Foto-foto tersebut juga secara tajam bisa menyakiti kaum miskin lainnya karen mereka hanya menonton orang yang sama-sama miskin mendapatkan bantuan, sedangkan dirinya tidak menerima padahal lebih berhak.

Generasi muda harus punya tingkat kritis yang sampai jauh itu. Meskipun tujuannya untuk kebutuhan media atau konsep supaya banyak yang nolong tapi gak gitu juga. Harus mampu memakai cara lain yang tidak terkesan merendahkan atau hingga menyakiti calon penerima. Kedua hal itu memiliki celah bisa menghapus mengurangi pahala sang dermawan

Mungkin bisa jadi orang tersebut menerima ketika di posting foto/videonya tapi bagaimana dengan keluarganya, anaknya, mungkin bisa jadi malu atau merasa makin minder di lingkungan mereka.  So please stop eksploitasi kondisi kemiskinan seseorang.

Ya, ahirnya kita harus saling meningkatkan kepekaan dalam setiap amal. Agar dalam beramal harus lebih adil, lebih saling membahagiakan hingga saling memuliakan. Maka penting kesadaran hingga niat yang seimbang. Bagi sang dermawan harus sadar tanpa mereka (perima bantuan), orang yang berharta tidak memiliki amal berbagi yang menjadi bukti keimanan. Orang yang biasa menerima harus sadar bahwa sang dermawan perlu perlindungan kita melalui do’a-do’a.

Dan mereka sang dermawan akan lebih senang melihat dikemudian hari sang penerima mampu menjadi sang pemberi. Sehingga kedepannya orang itu berlomba-lomba untuk saling melayani bukan minta dilayani. Karena hal itu diantara puncak dari keadilan sosial. “Ingatlah keadilan itu tumbuh karena banyak orang yang ingin melayani bukan karena banyaknya orang yang menuntut hak dilayani”

Pos terkait

banner 468x60