Menghadapi Covid-19 Dengan Kesehatan Mental Yang Baik

  • Whatsapp
banner 468x60

Penulis: Andre Akbar Hidayatullah (Mahasiswa, Perwakilan Duta Baca/Literasi Kabupaten Bogor, Jawa Barat)

Sebagian besar masyarakat dunia percaya, bahwa awal penyebaran virus corona atau Covid-19 bermula pada akhir 2019 kompilasi seseorang terjangkit virus Covid-19 dari hewan yang diperdagangkan di pasar makanan laut Huanan, kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Kisah ini kemudian berkembang menjadi tragedi yang memilukan dalam sejarah umat manusia zaman kiwari (saat ini). Hingga penyebarannya terus meluas ke penjuru dunia (kompas.com).

Menurut WHO (World Health Organization) atau Organisasi Kesehatan Dunia meenyebutkan bahwa korban dari pandemi Covid-19 di dunia hingga periode 12 April 2020 lebih dari 1,7 juta jiwa yang terdampak akibat virus ini, yang berimplikasi kepada menurunnya tingkat perekonomian suatu negara (kompas.com).

Oleh sebab itu, menurut EIU (The Economic Intelligence Unit) atau Badan Analis Ekonomi Negara, menyatakan seluruh negara yang tergabung dalam anggota G-20 termasuk Indonesia merevisi target pertumbuhan ekonomi mereka pada tahun 2020 akibat pandemi Covid-19 ini. Bahkan mengatakan hanya 3 (tiga) negara saja yang dapat memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup baik. Ketiga negara tersebut, China, India dan Indonesia (cnnindonesia.com).

Sementara, menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia hingga 12 April 2020, kasus Covid-19 di Indonesia sudah mencapai lebih dari 4000 (empat ribu) kasus yang masing-masing 300 (tiga ratus) lebih pasien dinyatakan sembuh, 300 (tiga ratus) lebih dinyatakan meninggal dunia. dan lebihnya masih dalam penanganan medis secara intensif (katadata.co.id)

Dalam kasusnya, pandemi Covid-19 sudah melanda dunia lebih dari 4 (empat) bulan terakhir. pandemi ini bahkan membuat beberapa sektor industri seperti, pariwisata, ekonomi, olahraga  dan industri non formal lainnya menjadi tidak berjalan dengan baik atau tidak mampu beroperasi secara maksimal, yang berimplikasi atau berdampak kepada masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Beberapa negara di seluruh dunia sudah menerapkan beberapa kebijakan untuk menghalau pergerakan virus tersebut. Tentu dengan kebijakan yang berbeda-beda, mulai dari lockdown, social distancing, physicial distancing dan lain sebagainya.

Kebijakan penanganan dampak  Covid-19 masing-masing berbeda disetiap negara yang terdampak, beberapa negara memberlakukan sistem lockdown, sementara beberapa negara tidak menerapkan kebijakan tersebut, termasuk Korea Selatan. Hal ini sudah dikaji, dikarenakan masyarakat dibeberapa belahan dunia memiliki karakterisik yang berbeda-beda. Mulai dari kedisplinan, budaya dan sosial. Oleh sebab itu, keputusan Presiden menyampaikan  bahwa “ semua sudah kita kaji. baik dari sisi sosial, budaya serta kedisplinan”(detik.com).

Oleh sebab itu, Negara Kesatuan Republik Indonesia sendiri mengenalkan gerakan dengan hastag #dirumahaja untuk dapat menekan atau mengurangi laju persebaran virus ini. Hal ini sebagai wujud dari kampanye atau himbauan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk tetap bekerja atau beraktivitas untuk sementara waktu dirumah, dengan harapan mampu menekan angka persebaran Covid-19 di Indonesia.

Sementara, masyarakat yang memiliki kepentingan darurat. Seperti pekerjaan yang tidak mengizinkan para pekerjanya untuk bekerja dirumah, dihimbau untuk menggunakan masker ketika hendak keluar rumah, saat berada ditransportasi umum serta menghimbau para pekerja dan masyarakat untuk rajin mencuci tangan sesuai protokol dan prosedur kesehatan yang berlaku. Hingga pemerintah menerapkan sistem PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) per 15 April 2020 dalam hal meminimalisir dampak dari penyebaran Covid-19.

Secara ekonomi, masyarakat Indonesia memiliki mata pencaharian yang bersifat heterogen. Hal ini yang membuat pemerintah cukup sulit membuat kebijakan terkait lockdown, ataupun tunjangan bagi masyarakat ekonomi kelas bawah yang terdampak dan kehilangan mata pencaharian.

Kampanye atau himbauan seperti yang dicanangkan oleh Pemerintah seperti hastag #dirumahsaja menimbulkan beberapa pendapat, baik yang setuju maupun tidak dikarenakan mata pencaharian atau pendapatan masyarakat yang terdampak akibat wabah Covid-19 ini.

Menyikapi permasalahan tersebut, pemerintah dengan seluruh stakeholder bekerjasama untuk saling membantu mengatasi dampak dari wabah Covid-19 ini, semisal, pengusaha, pegiat sosial/aktivis sosial, media, hingga tenaga medis sebagai garda terdepan dalam penanganan virus ini, termasuk masyarakat yang terdampak secara ekonomi. Hal ini harus dilakukan tidak hanya penanganan pasien secara medis, akan tetapi melalui bantuan-bantuan sosial lainnya. Seperti kebutuhan pangan dan bantuan uang tunai bagi masyarakat ekonomi bawah. Hal ini sudah direalisasikan serta keringanan beban biaya-biaya hidup lainnya bagi korban yang terdampak. Oleh sebab itu, masalah sosial di Indonesia terkait kebutuhan yang mendasar sudah mulai direalisasikan dan mulai teratasi secara bertahap.

Sementara, terkait aktivitas bagi kalangan masyarakat ekonomi kelas menengah dan atas, dihimbau untuk beraktivitas dirumah. Banyak sekali aktivitas yang dapat dilakukan seperti merawat diri dengan cara mengonsumsi memakan makanan yang bergizi, memiliki banyak waktu luang dengan keluarga yang sebelumnya tidak dimiliki dikarenakan aktivitas yang begitu padat dengan cara  membersihkan rumah bersama, berdiskusi terkait pekerjaan, dan masalah-masalah yang selama ini belum teratasi baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan pekerjaan. Dimana hal tersebut diharapkan mampu meningkatkan harmonisasi internal dari keluarga itu sendiri.

Sementara, untuk generasi millennial atau generasi usia produktif yang kisaran usia berada diantara 16-30 tahun dapat mempelajari pengetahuan dan wawasan baru dengan berbagai kesempatan seperti seminar online, membaca buku, dan menambah atau mempelajari hal baru sebagai bekal kompetensi dalam industri 4.0  terkait kebutuhan dunia kerja yang sifatnya dinamis.

Terkait pandemi Covid-19 banyak sekali berita-berita bohong atau hoax di internet selama wabah ini. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia menyatakan bahwa survei yang dilakukan pada tahun 2019 menyatakan bahwa  penduduk Negara Indonesia  64,8% masyarakatnya menggunakan internet sebagai media berkomunikasi. Sementara di daerah urban, dari 64,8% kontribusi penggunaan Internet di Indonesia, di Pulau  Jawa memiliki 55% kontribusi nasional. Sementara di Provinsi Jawa Barat menyumbang 16% kontribusi penyumbang Internet dalam skala nasional, hal ini memberi referensi dan pandangan kepada kita semua bahwa masyarakat Indonesia mayoritas menggunakan internet dalam kehidupannya sehari-hari (kompas.com).

Oleh sebab itu, keterkaitan penggunaan internet sebagai media berkomunikasi membuat masyarakat Indonesia dan generasi millennial memiliki minat membaca yang rendah, serta diperburuk bahwa menurut hasil survei wabah hoax nasional yang diinisasi oleh  Masyarakat Telematika Indonesia pada 2019 lalu, menyatakan bahwa masyarakat Indonesia sangat rentan sekali terkena atau menerima berita yang tidak dapat diketahui sumbernya atau yang sering kita dengar, yaitu hoax. Dari hasil survey tersebut kita bisa  berpendapat bahwa media sosial adalah tempat yang berpotensial besar dalam penyebaran berita-berita palsu atau hoax.

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia telah memblokir 250 (dua ratus lima puluh) situs penyebar berita-berita bohong, alias hoax ini. Demi kenyamanan dan keakuratan informasi yang diterima oleh masyarakat (katadata.co.id).

Berkaitan dengan hal tersebut, UNESCO menyatakan bahwa Indonesia berada diurutan kedua dari bawah dalam hal literasi dunia, artinya minat membaca masyarkat Indonesia sangatlah rendah, bahkan cenderung memprihatinkan. Masyarakat Indonesia hanya memiliki 0,001% minat membaca, itu artinya 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca (kompas.com).

Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh sebuah universitas yang bernama Central Connecticut State University pada bulan Maret 2016 lalu mengatakan bahwa Indonesia dinyatakan menduduki peringkat 60 dari 61 negara soal minat membaca. Hal inilah yang membuat masyarakat Indonesia dengan sangat mudah menerima dan mencerna informasi yang belum tentu tingkat kebeneran (reliable) dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini yang membuat rasa khawatir di tengah-tengah masyarakat semakin berlebihan ditengah pandemi Covid-19. Termasuk tingkat kekhawatiran yang berlebihan ini membuat kita cenderung merasa stress secara mental.

Menurut Shinya MD (2007) mengatakan bahwa selaian makanan yang sehat dan bergizi, serta istirahat dan olahraga yang teratur, bahwa ada hal yang tidak kalah penting dalam memiliki kondisi tubuh dan imun yang baik. Yaitu, merasa bahagia, baik secara mental dan fisik serta mampu mengelola rasa stress dengan baik.

Terlebih, saat seseorang merasa bahagia, tes darah akan menunjukan sistem kekebalan yang sangat aktif. Oleh karena itu enzim pangkal akan bekerja secara maksimal, seseorang yang merasa bahagia kemungkinan besar dapat memproduksi enzim pangkal sangat banyak untuk dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh atau imunitas.

Sementara, menurut Daradjat (1990) mengatakan bahwa apabila kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari, kita akan menemui macam-macam individu dengan kepribadian yang berbeda-beda. Ada yang terlihat selalu gembira dan bahagia apapun keadaannya. Sebaliknya, ada pula seseorang dalam hidupnya suka mengganggu, melanggar hak dan ketenangan orang lain, serta hidupnya dipenuhi kegelisahan, kecemasan, menipu dan sebagainya.

Gejala-gejala yang menggelisahkan masyarakat itulah yang mendorong para ahli Psikologi yang menumbuhkan satu cabang dari studi Psikologi, yaitu kesehatan mental. Dalam hal ini, bahwa menghadapi dan menangani virus Covid-19 harus memiliki kesehehatan mental yang baik, agar aktivitas dan kegiatan yang kita lakukan tetap berjalan maksimal.

Singkatnya, orang yang memiliki kesehatan mental yang baik adalah orang yang dapat berpikir positif terhadap apapun permasalahnya dan ingin terus membantu orang lain, serta masyarakat sekitar untuk dapat menemukan suatu jalan keluar dari suatu permasalahan yang sedang dhadapi.

Maka dari itu, penulis dapat menyimpulkan bahwa masyarakat Indonesia dalam  menghadapi kasus Covid-19 banyak sekali menerima informasi-informasi dari media sosial. Terkait penanganan korban, korban yang terinfeksi dan meninggal dunia. Oleh sebab itu, faktanya banyak sekali berita-berita bohong di media sosial terkait hal tersebut, dan didukung dengan data yang akurat bahwa minat membaca Indonesia sangat kurang dan cenderung lebih banyak menghabiskan waktu berinteraksinya di media sosial. Sehingga, membuat masyarakat Indonesia memiliki khawatir berlebih terhadap penyebaran pandemi Covid-19, dikarenakan minimnya pengetahuan yang edukatif terhadap penanganan pandemi Covid-19. Sehingga, pencegahan yang seharusnya dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu, justru tidak berjalan secara maksimal dikarenakan faktor eksternal tersebut.

Serta  hal yang tidak kalah penting, saran penulis untuk kita semua dan penulis sendiri agar masyarakat Indonesia dapat memiliki kesehatan mental yang baik dalam menghadapi Covid-19 dengan cara memulai dari diri sendiri terlebih dahulu, mentaati peraturan pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam penanganan wabah ini. Serta, menghimbau agar setiap lapisan masyarakat memeriksa kembali sumber informasi yang diperoleh dari berbagai media sosial terkait penyebaran virus, jumlah dan tingkat kematian korban, hingga kesembuhan para pasien dimasing-masing daerah yang terdampak.

Sehingga, dalam kehidupan sehari-hari kita saat menghadapi virus corona atau Covid-19 ini dengan memberikan informasi yang terpercaya dari berbagai sumber ternama ke berbagai pihak atau ke kerabat terdekat.

Hal tersebut dengan tujuan agar terhindar dari rasa khawatir yang berlebih yang akan berdampak pada pikiran kita dan menimbulkan perasaan stress atau cemas yang justru menurunkan tingkat imunitas tubuh. Sehingga berimplikasi atau berdampak pada tingkat produktivitas kita menjalankan kegiatan sehari-hari.

banner 728x90

Pos terkait

banner 468x60