Zenal Aripin Ketua PGRI Termuda

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Saya ikut bangga melihat sebuah gambar perjuangan PGRI dalam “melawan” Covid-19. Usaha melawan Covid-19 diinisasi oleh seorang pemimpin PGRI termuda di Kabupaten Subang. Beliau bernama Zenal Aripin. Dalam gambar yang Saya terima terihat Ia membawa spanduk bertuliskan, “Berbagi Masker, PGRI Cabang Cibog”

Sudah sejak lama Saya merindukan geliat dari pengurus PGRI setingkat cabang. Mengapa? Karena sesungguhnya nafas dan kehidupan PGRI itu adanya di cabang. Bukan di PB PGRI, bukan di PGRI Provinsi atau pun di PGRI kota dan kabupaten. Kunci kehidupan PGRI ada di jenjang cabang. Guru-guru anggota PGRI itu adanya di cabang.

Saya apresiasi dan kagum pada Ketua PGRI Cabang Cibogo Kabupaten Subang. Ia adalah Ketua Cabang PGRI termuda di Kabupaten Subang. Bahkan mungkin guru termuda di Jawa Barat yang bisa menjadi Ketua PGRI setingkat Cabang. Ia adalah generasi milenial. Ini sangat baik untuk kaderisasi di PGRI. Ia seusia Mendikbud Nadiem Makarim.

Kehadiran Zenal Aripin setidaknya memberi jawaban atas “stigma” pada organisasi PGRI yang identik dengan organisasi yang diurus oleh orang-orang senior atau sudah berumur. Bahkan PGRI ada yang mengartikan Pensiunan Guru Republik Indonesia. Sejumlah “ninyiran” faktual ditujukan pada PGRI. Ini kritik positif.

Kehadiran Zenal Aripin sebagai Ketua Cabang di PGRI Kabupaten Subang sejak tahun 2016 sungguh menarik. Zenal Aripin berhasil dan berprestasi dalam mengelola organisasinya, selama tiga tahun kepemimpinannya Ia memperoleh piagam penghargaan sebagai organisasi yang baik dalam mengelola keuangan dan hal lainnya.

Sisi lainnya, konon katanya Ia pun mendapatkan tantangan yang luar biasa dari para seniornya. Ia dianggap terlalu muda dan diragukan kepemimpinannya. Ia hanya guru biasa, bukan kepala sekolah, bukan pengawas, bukan pejabat struktural pendidikan dan bukan siapa-siapa. Ia hanya guru murni. Faktanya Ia adalah pemilik organisasi PGRI. Bukankah PGRI adalah organisasi guru?

Ia pun menyindir bank BJB. Ia mengatakan, “Ketika BJB masih berpikir untuk menangguhkan angsuran kredit, PGRI Cibogo sudah beraksi melawan Covid-19. Pembagian masker gratis pada masyarakat adalah tugas kita. Kalau bukan kita siapa lagi? Bergerak dan lakukan perlawanan pada Covid-19 meski pun kecil”.

Sungguh apa yang diakukan sosok guru murni Zenal Aripin layak ditiru oleh guru-guru yang lainnya. Semoga PGRI kedepan identik dengan pemimpin-pemimpin muda. Kalau di tubuh PGRI dminan pemimpin sudah berumur ini bahaya. Mengapa bahaya? Karena akan ada gangguna kaderisasi. Gap generasi di PGRI cukup kental.

Sebagai Ketua Pengurus Besar PGRI dan guru murni Saya berharap akan ada Zenal Aripin yang lain di setiap cabang. Bahkan sangat penting para guru muda itu mulai aktif dan dominan di jenjang PGRI kota, kabupaten, provinsi dan PB PGRI. Saya ajak para senior di PGRI agar mundur teratur memberi peluang pada guru-guru muda potensial seperti sosok Zenal Aripin.

Guru muda persiapkan diri mengurus organisasi PGRI. Para pengurus senior mulai membuka pintu lebar agar yang muda siap menggantikan. Hidup di zaman revolusi insustri 4.0 dan era disrupsi konon katanya organisasi gesit menentukan kemajuan. Tentu saja yang gesit adalah yang muda potensial. Tentu yang muda pun menimba pengalaman dari yang tua.

PGRI saatnya didominasi guru muda potensial demi masa depan yang lebih baik. PGRI sebaiknya kolaborasi proporsional dan aspirasional. Kolaborasi dengan semua pihak. Proporsional dalam struktur kepengurusan dengan memperhatikan dominasi guru muda, 30 persen guru senior dan perwakilan perempuan.

Semoga gagasan PB PGRI pada tahun depan akan memilih Ketua PC PGRI terbaik dan akan mendapatkan penghargaan dari Presiden RI di HUT PGRI terwujud. Rencananya setiap PGRI Provinsi menyeleksi dan mengirim satu orang ketua PC terbaik. Setidaknya saat HUT PGRI ada 34 Ketua PC terbaik perwakailan dari setiap provinsi.

Pos terkait

banner 468x60