Menelusuri Ahir Kisah Cinta Si Makhluk Kecil Corona

  • Whatsapp
banner 468x60

Disuatu Negeri antah berantah yang tak bernama itu hiduplah satu keluarga yang bernama Corona. Seorang laki-laki dewasa bernama Covid dan istrinya Natula ini sangat menanti keturunan yang tak bisa mereka dapatkan. Entah bagaimana mereka hidup dalam dunianya yang sangat luas tak terbatas. Hidup berdua dengan istrinya selama ribuan tahun sedikit membuat ia bosan. Hanya berdua saja di Negri ini? tentu saja hal itu membuat Covid mencari banyak cara untuk mendapatkan keturunan dari istrinya.

“Apakah kau tak bosan hidup berdua saja denganku?” tanya Covid pada istrinya.

“Tentu saja aku bosan Covid. Tapi bagaimana caranya kita bisa mendapat keturunan seperti para mahkluk bumi itu?”

“Bagaimana jika kita pergi saja ke arah tenggara langit bumi untuk mencuri salah satu anak dari mereka?”

“Itu tidak mungkin Covid?! Mereka bukan makhluk seperti kita yang tak nampak, bagaimana mungkin nanti anak itu hidup bersama kita?”

Covid berfikir apa yang dikatakan istrinya itu memang benar. Keluarga Corona hanyalah makhluk hidup yang tak terlihat oleh makhluk lain. Covid menyerah dengan usahanya, tapi ia juga semakin tahun semakin bosan dengan kehidupannya ini.

Seperti biasa mereka hanya berkeliling saja menyusuri setiap sudut dunianya. Tak ada yang aneh, tak ada yang berbeda, semua tetap sama seperti yang mereka lihat. Benang-benang hijau yang mereka panen sudah nampak banyak buahnya. Di tahun ini mereka siap memanen buah benang hijau itu untuk 50 tahun kedepan karena buah benang hijau ini akan kembali berbuah setiap 50 tahun sekali.

“Natulaa… Natula… kemarilah” teriak Covid dari dalam hutan benang hijau itu.

Natula segera bergegas dengan kesal karena mendengar teriakan suaminya yang mengganggu pekerjaannya.

“Ada apa Covid?! Berisik saja kau menggangguku!”

“Wawww….” tanpa menunggu Covid menjawab, Natula sudah terlebih dahulu takjub melihat satu buah benang hijau itu bercahaya.

“Buah benang apa itu?” tanyanya penasaran.

“Entahlah Natula, aku mendapatkan buah benang hijau ini saat aku menyentuh penasaran sebuah bulatan kecil yang tak pernah aku lihat.”

“Ini sangat luar biasa, apakah ini keberuntungan untuk kita?”

“Sepertinya.” Mereka tertawa.

Setelah selesai memanen ribuan ton buah benang hijau, mereka segera pulang dengan membawa buah benang hijau bercahaya itu. Buah itu di putar-putarnya tapi tidak ada yang aneh. Sungguh membuat penasaran saja.

Setiap hari mereka merawat buah itu, di mandikannya oleh air manila sehingga tampak lebih bercahaya.

“Biarlah aku yang merawatnya, siapa tahu ini adalah sebuah keberuntungan besar untuk kita Covid.” Natula tersenyum bahagia.

“Andai saja kita memiliki keturunan yang banyak, tentu kita akan jauh lebih beruntung Natula. Aku ingin Negriku ini seperti Negri bumi yang dihuni oleh banyak makhluk, mereka selalu terlihat bahagia.”

“Jangan berandai-andai seperti itu Covid, itu sungguh tidak baik.” Natula menasihatinya dengan lemah lembut.

“Sungguh? Kau ingin memiliki banyak keturunan?” buah itu semakin bercahaya.

Covid dan Natula merasa kebingungan, mereka mendengar suara yang entah datang dari mana. Natula merasa ketakutan dan mendekati Covid.

“Tenanglah, biar ku cari tahu siapa itu”

“Siapa kau? Muncullah dihadapan kami jika berani!”

“Aku disini” cahayanya semakin menerangi rumah keluarga Corona.

“Apakah kau yang berbicara, buah benang hijau?”

“Ya, ini aku. Jangan takut, apakah kalian sedang mengalami masalah?”

“I…iya. Kami sangat menginginkan keturunan seperti makhluk bumi.”

“Makhluk bumi?! Hahaha… ini sangat mudah bagi makhluk dunia Corona.” Ucapan buah benang hijau itu sangat membuat Covid dan Natula merasa penasaran.

“Mudah?”

“Pergilah kalian ke langit Negri bumi, lalu bukalah gerbang besar itu dengan kekuatan kalian dan hancurkan isinya.”

“Untuk apa kami harus mengahancurkan mereka? Mereka tak akan mampu melihat kami”

“Karena itulah salah satu kekuatannya. Kalian memang tak nampak sehingga mudah sekali untuk menghancurkan mereka. Ingat kuncinya, satu makhluk bumi mati maka akan lahir seratus makhluk golongan kalian. Semakin banyak kalian mematikan makhluk bumi, maka akan semakin banyak pula keturunan kalian yang lahir. Rusaklah paru-paru milik mereka!”

“Benarkah? Baiklah akan kami coba!”

Benar saja gerbang besar Negri bumi tidak terkunci dengan kuat sehingga mudah bagi Covid dan Natula melesat ke dalam pusatnya. Hilir mudik makhluk bumi berjalan di dalamnya, perbandingannya berbeda jauh dengan negri mereka sekitar 0,1 berbanding seribu. Perlahan mereka mengikuti petuah dari buah benang hijau bercahaya itu kemarin. Mereka bersembunyi pada sebuah makanan seorang pemuda dewasa. Setelah pemuda itu memakannya, mereka dengan mudahnya masuk ke dalam paru-paru pemuda itu dan merusak saraf-saraf di dalamnya serta menyumbat jalan masuk oksigen. Tidak lama kemudian, pemuda itu batuk-batuk dan suhu badannya sangat panas. Temannya yang berada di sana merasa khawatir dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Namun naas ternyata rencana mereka sangat berhasil dan melahirkan 100 makhluk kecil yang memiliki bentuk serupa dengan Covid dan Natula. Bukan main, mereka sangat senang. Satu makhluk Negri bumi mati menumbuhkan 100 keluarga baru Corona.

“Permainan ini sangat asik Covid, aku sangat menyukainya.” Natula tertawa terbahak merasa puas dengan apa yang ia lihat.

“Tunggu sayang, jika dengan dua makhluk keluarga Corona saja dapat mematikan satu makhluk bumi, maka akan lebih mudah dan lebih cepat dengan kemampuan 100 anggota baru keluarga kita.”

“Haha… itu sangat mengasyikkan sekali. Baiklah mari kita mengeksekusi kembali. Biarlah makhluk Negri bumi merasakan apa yang pernah kita alami.”

Semenjak kejadian matinya seorang pemuda itu, hari per harinya makhluk di Negri bumi mati dengan cara yang sama. Raja Negri bumi tidak tinggal diam, ia memerintahkan pada seluruh rakyatnya untuk tetap di tempat kediamannya, jangan pernah keluar sampai kondisinya kembali aman dan tetap berdo’a dengan lebih mendekatkan diri pada Allah sang Maha Kuasa. Sebagian rakyatnya masih ada saja yang tidak mematuhi perintah raja, hingga akhirnya raja memutuskan untuk berdiskusi dengan para pihak penjaga gerbang besar Negri bumi.

“Jika kondisinya tetap seperti ini, baginda mesti melakukan sesuatu!” ucap salah satu penjaga gerbang besar negri bumi. Raja cemas jika hal ini di biarkan, seluruh rakyatnya akan mati dengan cara yang mengenaskan.

“Aku tahu, yang melakukan ini adalah moyangnya Negri Corona. Mereka sudah mengincar makhluk Negri bumi dari ribuan silam. Hanya dua pilihan yang bisa di lakukan, kerja sama seluruh makhluk bumi untuk melakukan lockdown dengan menjaga jarak seperti yang telah di lakukan pada masa sahabat Rasulullah Saw. yaitu Umar bin khattab. Atau dengan cara yang lain yaitu aku mesti mengerahkan kekuatan besarku.”

“Itu terlalu berbahaya baginda raja?!”

“Ini demi rakyatku. Lagi pula tim medis pun sudah kelelahan dengan kondisi saat ini. Kita tidak bisa diam!”

Anak panah yang melesat pada arahnya akhirnya mendapat balasan. Setelah raja dan para penjaga gerbang di Negri bumi kembali menyerukan pada seluruh makhluk bumi untuk tetap diam di rumahnya masing-masing sementara waktu, akhirnya bisa terlaksana.

“Ayahanda, maaf kami sudah pasrah dan tak ingin lagi menyerang makhluk bumi. Imun yang mereka miliki kini sudah semakin kuat setelah penjaga gerbang besar itu memberi banyak imun pada mereka.”

“Sepertinya kita memang mesti menyudahi permainan ini. Covid sudah terlalu lemah karena siraman sanitizer besar-besaran yang dilakukan pasukan Negri bumi. Sebagian dari kita juga mati terkena sanitizer tersebut. Lagian kita pun sudah tidak bisa lagi merusak paru-parunya secara langsung, kekuatan yang telah diberikan buah benang hijau itu melemah dan mereka sudah tidak bisa saling menyebarkan virus kita,  karena mereka melakukan kekuatan lockdown besar-besaran. Sekarang sebaiknya kita Kembali ke Negri keluarga corona, kita bangun kehidupan baru disana” Ucap Natula menjelaskan.

“Baik Ibunda.”

Kekuatan yang di kerahkan raja Negri bumi itu akhirnya bisa menuntas habis virus keluarga Covid. Saat ini kondisi Covid pun melemah dan makhluk bumi pun bisa kembali beraktifitas seperti biasa. Atas kejadian itu, banyak hikmah yang bisa mereka dapatkan salah satunya kebersamaan mereka semakin erat dan bersatu untuk mencapai tujuan yang sama. Begitupun dengan keluarga Covid, mereka banyak juga mendapatkan hikmah, bahwa sesuatu keinginan yang di capai dengan cara yang salah hanya akan mendapatkan kesengsaraan belaka.

Jangan lupa ambil hikmahnya ya, kuncinya adalah do’a dan ikhtiar dengan cara bersatu menyerang Covid-19 ini dengan tetap diam di rumah, ibadah di rumah, dan belajar di rumah untuk sementara waktu. Semua ikhtiar ini untuk kita semua juga. Semoga bumi pun lekas sembuh dan makhluk bumi (Manusia beriman) bisa melaksanakan puasa Ramdhan seperti biasanya.

(Penulis: Risna Oktapiani, penulis muda dari karyanya yang berjudul “Di Balik Skenario”  https://www.tokopedia.com/guepedia/dibalik-skenario IG @bismillah_mujahidah)

Pos terkait

banner 468x60