UN Dihapus, So What?

Oleh : Riastuty NU, M.Ps
(Psikolog dan Praktisi Pendidikan)

Kabar tentang dihapuskannya UN mendapat sambutan meriah dari sebagian besar siswa dan sebagian guru. Bahkan tidak sedikit orang tua siswa yang juga menyambut gembira pengahpusan UN tahun ini. Ini berarti dipercepat dari rencana sebelumnya yaitu tahun depan.

Pasti teman-teman guru sudah membaca atau minimal tahu kebijakan apa yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengganti UN.

Ujian Nasional (UN) diganti dengan assesment kompetensi minimum dalam kemampuan literasi dan numerasi. Kemampuan literasi yang dimaksudkan tidak hanya kemampuan membaca tetapi lebih pada kemampuan untuk dapat menganalisa bacaan, memahami konsep di balik tulisan.

Sedangkan kemampuan numerasi yang dimaksud adalah kemampuan menganalisis dengan menggunakan angka-angka, mengaplikasikan konsep bilangan dan keterampilan operasi hitung di dalam kehidupan sehari-hari.

Assesment tersebut bertujuan mengukur kemampuan murid-murid untuk bisa menggunakan high order thinking, contextual thinking baik dalam berliterasi maupun numerasi.

Nantinya semua jenis assesment dilakukan di tengah jenjang semester bukan di akhir semester seperti sebelumnya. Tujuannya adalah untuk memberikan waktu kepada sekolah dan guru-guru mengadakan perbaikan.

Alat assement yang digunakan berbentuk tes formatif yang bukan merupakan alat seleksi sehingga tidak menyebabkan stres pada peserta didik.

Penyusunan alat assesment nantinya akan dibantu oleh berbagai organisasi agar kualitasnya sangat baik yaitu memenuhi internasional tetapi dengan muatan lokal seperti misalnya gotong royong. Selain tes kemampuan di bidang literasi dan numerasi ada survey karakter yang akan dilakukan sebagai pengganti Ujian Nasional.

Nantinya, survey karakter akan menjadi panduan bagi sekolah, dinas pendidikan, kementerian pendidikan dan kebudayaan serta akan menjadi tolok ukur untuk memberikan umpan balik terutama kepada sekolah.

Harapannya sekolah akan melakukan perubahan sistem pembelajaran yang akan menciptakan peserta didik yang bahagia, gemar belajar dan mampu menginternalisasi azas-azas Pancasila di dalam lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun survey karakter dilakukan antara lain untuk mengetahui apakah azas-azas Pancasila dirasakan dalam ekosistem sekolah, bagaimana implementasi gotong royong, level toleransi di sekolah, tingkat well being siswa, adakah bullying kepada siswa.

Hasil yang diharapkan dari adanya survey karakter antara lain adalah peserta didik yang berakhlak mulia, berkeadilan sosial, spiritualitas atau kecintaan terhadap agama.

Selain itu tujuan dilakukannya survey karakter dilakukan adalah untuk melihat adanya kreatifitas yaitu kemampuan menciptakan inovasi secara proaktif dan independent, kemampuan berkolaborasi, bergotong royong dengan sesama peserta didik dan sesama manusia.

Tak hanya itu saja, kebhinekaan global yaitu perasaan menghormati keberagaman dan perbedaan tanpa menghakimi dan merasa lebih baik di tingkat Indonesia dan dunia merupakan kemampuan lain yang diukur dalam survey karakter.

Kemampuan bernalar kritis yaitu menganalisa, memecahkan masalah-masalah riil, mengambil keputusan serta kemandirian juga merupakan komponen yang akan di survey. Kemandirian yang dimaksudkan adalah kemampuan melakukan internal motivation dan growth mindset untuk menjadi lebih baik dan terus berusaha.

Apakah tahun ini assesment literasi dan numerasi juga survey karakter akan dilaksakan dan bagaimana teknisnya. Kita tunggu saja kabar baiknya !!

(73)