Jokowi “Bebaskan” Cicilan Satu Tahun!

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan memberikan relaksasi kepada pelaku usaha mikro dan kecil berupa penundaan pembayaran cicilan selama satu tahun ke depan. Tidak cuma itu, Jokowi juga menurunkan bunga kredit bagi usaha mikro di tengah tekanan usaha akibat pandemi virus corona.

Negara yang baik adalah negara yang melindungi segenap rakyatnya. Terutama rakyat “mustadhafin” atau rakyat wong cilik. Jokowi mengatakan, “Ada keluhan dari usaha mikro, kecil. Saya sudah bicarakan dengan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) akan beri relaksasi kredit di bawah Rp10 miliar, diberikan penundaan cicilan sampai satu tahun dan penurunan bunga.”

Jokowi pun menegaskan akan memberikan keleluasaan terkait pembayaran kredit kendaraan bermotor bagi para pekerja moda transportasi dengan tenggat waktu sampai setahun. Misalnya, ojek online. Semoaga apa yang dijanjikan Jokowi akan segera diesksekusi. Ini adalah sebuah langkah afirmatif bagi masyarakat yang sedang kesulitan karena wabah.

Selanjutnya Jokowi mengatakan, “Keluhan saya dengar juga dari tukang ojek, supir taksi, yang sedang memiliki kredit motor dan mobil atau pun nelayan yang sedang kredit perahu. Saya kira juga perlu disampaikan jangan khawatir karena pembayaran bunga dan angsuran diberikan relaksasi selama satu tahun”.

Padahal sebelumnya Saya sudah menulis cicilan para guru kepada BJB dipotong dua bulan. Pak Jokowi malah ngasih lebih, pending satu tahun. Why not gichu? Semoga dengan kebijakan ini masyarakat merasa dirangkul hangat oleh pemerintah saat “kedinginan” finansial. Dapat dibayangkan wong cilik yang makan saja susah harus setor ke bank tertentu.

Saya yakin Pak Jokowi adalah tipe pemimpin Jawa yang memiliki filosofi gede rumoso. Apalagi Ia berasal dari rakyat kecil juga. Ia anak seorang lurah. Pemimpin tipe ini biasanya lebih peka pada derita rakyat karena pengalaman masa lalun dirinya. Bila kita harus cari orang yang paling menderita hari ini pasti Jokowi.

Mengapa Jokowi paling menderita? Ia adalah pemimpin yang harus bertanggung jawab atas 270 juta lebih penduduk Indonesia dalam menghadapi Covid -19. Leiden is lijden, memimpin adalah menderita. Itu bagi pemimpin yang amanah. Bagi pemimpin yang lalim, “Memimpin adalah pesta pora”. Itulah pemimpin korup.

Menarik apa yang disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan, “Perbankan diharapkan dapat proaktif dalam mengidentifikasi debitur-debiturnya yang terkena dampak penyebaran Covid-19 dan segera menerapkan POJK stimulus dimaksud”. Ini sangat baik untuk menggeliatkan perekonomian kita.

Nah bukankah para ASN kebanyakan punya utang dibawah 10 milyar? Dapat penundaan satu tahun dong. Ahaa, para guru bisa menunda satu tahunkah ke bank BJB? Kalau ditunda satu tahun berarti setiap ASN tidak dipotong oleh BJB. Bisakah para ANS diantaranya para guru tidak dipotong satu tahun, sesuai kata Jokowi ada penundaan satu tahun?

Dalam tulisan sebelunya Saya hanya mengaspirasikan potongan satu atau dua bulan. Bila Jokowi meminta penundaan satu tahun. Why not? Terutama bagi para guru yang punya anak sekolah dan kuliah. Apalagi anaknya lebih dari lima, ahaa. Di rumah bagaikan lebaran. Pengeluaran sangat luar biasa. Banyak anak banyak rezeki yang harus keluar!

Semoga Pak Jokowi berpihak pada para guru dan masyarakat kecil. Pemimpin yang baik tidak tidur saat rakyatnya belum tidur. Bila rakyat saat ini “tidak tidur” karena Covid-19 maka dapat diapastikan Pak Jokowi hakekatnya Ia tidak bisa tidur. Derita yang luar biasa. Derita kita derita Jokowi, derita Jokowi bukan derita kita. Maaf Bapak, itulah risiko pemimpin. Itu aja bedanya. Derita Pak Jokowi akan lebih ringan bila “cicilan” wong cilik dan ASN guru ditunda satu tahun!

(139)