Indahnya Menyambut Kedatangan Ramadhan Dari Jarak Jauh

“Dulu para sahabat nabi, enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.” (dikutip dari kitab Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)

Satu harapan yang terucap melalui. Karena mereka menilai, Ramadhan adalah tamu yang sangat istimewa. Sehingga sahabat nabi merindukan kedatangan ramadhan.

Al-Hafidz Ibnu Rajab menyebutkan satu contoh doa yang mereka lantunkan. Diriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir – seorang ulama tabi’in , bahwa beliau mengatakan. Diantara doa sebagian sahabat ketika datang Ramadhan,

“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)

Lalu seperti apa kondisi keimanan kita sekarang saat ramadhan beberapa hari lagi akan datang?…

Menurut kalender masehi bulan april tahun ini bulan Ramadhan dalam waktu dekat Insya Allah akan segera tiba dengan limpahan kemuliaannya. Sangat disayangkan apabila tidak bisa memanfaatkan momentum berkah ini dengan baik. Ramadhan hanya akan istimewa, bila kita benar-benar bertekad dan bersungguh-sungguh dalam upaya mengistimewakannya dengan persiapan iman.

Ingatlah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni.” [HR. Ahmad,

Kedatangan Ramadhan dengan aura ukhrowi, sehingga hanya hati dengan penuh keimanan saja yang akan mampu bergetar dan merasakan akan kehadirannya.

Saat ramadhan akan datang. Apabila yang awal terbanyang dengan lemasnya shaum & banyaknya rakaat saat tarawih atau kewajiban tadarus di pagi hari hingga itiqaf dimalam hari yang akan dijalani. Hati menjadi sesak, jenuh, dan tidak tentram saat menjelang Ramadhan dan merasa seperti akan bertemu dengan kondisi yang merepotkan, berarti tingkat keimanan kita berada di posisi paling dasar atau bahkan iman sedang menjauh dari diri kita. Kondisi ini disebut dhalimun linafsihi (aniaya terhadap diri sendiri). “Diperlukan pertobatan khusus jika kita berada dalam kondisi ini,”

Sedangkan apabila keadaan hati saat menjelang Ramadhan masih biasa dan tenang-tenang saja, berarti masih ada pemahaman kita yang salah terhadap Ramadhan, kita belum mampu dengan benar-benar memahami dan mengimani keutamaan-keutamaan ramadhan yang telah Allah siapkan untuk kita. Maka, kita perlu mengulang, belajar dan memahami lagi tentang keistimewaan bulan Ramadhan. Agar keimanan kita sudah naik sebelum ramadhan datang sehingga ramadhan terrasa lebih khusyu dan indah jika dibandingkan tahun lalu.

Setelah bermuhasabah dan menyiapkan hati, persiapan pendukung yang perlu dilakukan adalah melakukan latihan dan pembiasaan amal-amal prioritas dalam ramadhan, seperti puasa, infak, tadabur qur’an, berbakti pada orang tua dan shalat berjamaah. Agar nantinya amalan tersebut dapat maksimal dan istimewa saat Ramadhan berlangsung.

Hal pendukung yang terakhir untuk melakukan persiapan Ramadhan adalah melakukan antisipasi. Kita perlu mengantisipasi setiap kondisi yang mungkin saja terjadi saat Ramadhan. Misalnya adalah tugas pekerjaan yang memungkinkan untuk diselesaikan sebelum Ramadhan, sebaiknya segera diselesaiakan agar tidak mengganggu Ibadah kita di bulan Ramadhan. “Hal-hal yang juga perlu dilakukan antisipasi sebagai kesungguhan menyambut ramadhan adalah kesiapan terkait keilmuan, fisik, dan harta”

Persiapan ilmu dapat dilakukan dengan mendalami ilmu berkaitan dengan ibadah di Bulan Ramadhan. Semua ini kita lakukan agar ketika menjalani ibadah di Bulan Ramadhan dapat kita lakukan secara optimal dan meraih hasil yang maksimal. Kemudian aspek persiapan jasadiyah dapat dilakukan dengan menjaga kesehatan tubuh agar momentum datangnya Ramadhan tidak terganggu karena kondisi tubuh yang tidak prima/siap.

Aspek maaliyah juga tak kalah penting. Salah satu ibadah dalam agama islam pada aspek harta dan bertepatan juga dengan momentum ramadhan adalah zakat. Seorang Muslim harus termotivasi untuk mampu berbagi dari segi harta kepada sesama yang membutuhkan. Banyak pula instrumen ibadah dari segi harta yang dapat dimaksimalkan oleh seorang muslim seperti infaq, sedekah dan wakaf di bulan ramadhan. Karena amal sholeh dibulan ramadhan dilipat gandakan pahalanya

Dan selanjutnya persiapan keimanan, persiapan pendukung berupa pembiasaan amal ibadah dari sekarang. “Berapa banyak kita lihat orang yang gagal tidak memperoleh apa-apa dan hilang kesempatan, karena mereka tidak memiliki persiapan yang matang dari jarak jauh”

Semoga dengan persiapan dari sekarang pada saatnya nanti ayat perintah shaum dibulan ramadhan kita mampu lebih siap melaksanakannya dan mencapai tujuan dari perintah shaum menjadi hamba yang bertakwa.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

(Penulis: Dwi Arifin/Jurnalis Media Cetak & Online)

(30)