Idianto “Robin Hood” SMAN 12 Bekasi

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Menarik melihat tulisan yang dibawa anak didik SMAN 12 Bekasi yang “berdemo” mendukung Pak Idianto dan memberikan dukungan moril padanya. Mereka membawa tulisan berbunyi, “Pak Idi Tak Bersalah”. Ini sebuah kode keras dari kebathinan anak didik dalam menyikapi video viral di SMAN 12 Bekasi. Ahaa, ada dinamika lain.

Sahabat pembaca kita semua harus sepakat dan sepaket bahwa kekerasan di sekolah sangat terlarang, fisik maupun phsikologis. Sekolah Ranah Anak (SRA) dan merdeka belajar harus menjadi agenda dunia pendidikan kita. Disisi lain dunia pendidikan adalah dunia yang tak henti-hentinya selalu ada “sensasi”.

Sebagai praktisi pendidikan, narasumber motivasi kesiswaan dan mantan kesiswaan di sebuah sekolah besar, Saya sangat memahami dunia siswa dan kesiswaan. Melihat video viral Sang Guru Idiyanto menampari siswa sungguh ngeri, kaget melihatnya. Zaman SRA dan era merdeka belajar kekerasan sudah jadul dan simbol bahwa di sekolah itu masih ada hal yang ortodok.

Namun tunggu dulu sahabat pembaca! Mengapa Saya beri judul dan julukan Idianto Robin Hood SMAN12 Bekasi? Dalam memvonis segala sesuatu kita mesti bijak, holistik dan mendalam sedalam-dalamnya. Ingat, Tuhan itu maha pengampun. Minimal kita semua, pejabat dan masyarakat mesti membawa sifat Tuhan untuk mema’afkan setiap manusia yang melakukan kebodohan. Asal bukan kebohongan!

Dalam ajaran agama disepakati segala sesuatu yang banyak mudharatnya masuk kategori haram. Segala sesuatu yang banyak man’faatnya adalah halal. Melihat gelombang anak didik yang menangis, membawa spanduk dan mencintai Pak Idianto, Saya merenung dan memahami kebathinan anak didik. Pak Idianto nampaknya lebih banyak memberi manfa’at perlindungan bagi anak baik.

Kita pernah lihat induk ayam begitu galak menyerang sa’at ia bersama anak-anaknya? Kita pernah lihat monyet begitu agresif melindungi anaknya? Ahaa, sebagai mantan kesiswaan Saya membaca jiwa sayang dan cinta pada anak didik dari Pak Idianto sangat besar. Konon kalau Ia mengajar katanya sangat motivatif, penuh semangat dan menyenangkan.

Tindakan keras, tegas dan galak yang dilakukan Pak Idianto bagaikan induk ayam yang ingin melindungi anak-anaknya. Ia berpikir sederhana. Apa pun bentuk ketidakdisiplinan dan kenakalan anak didiknya tidak boleh “menular” pada yang lainnya. Ia ingin memperlihatkan bahwa salah dan nakal itu mesti mendapatkan sanksi.

Kita ingat Robin Hood, Ia adalah perampok yang merugikan saudagar-saudagar kaya, Ia membuat trauma para bangsawan. Namun di sisi lain Ia pun sangat dirindukan oleh rakyat miskin dan penduduk yang kekurangan. Di Indonesia sosok semacam ini mirip Jhony Indo, spesialis perampok toko emas. Hasil rampokannya Ia bagikan pada rakyat miskin.

Kembali pada Idiyanto. Ada sisi Robin Hood dalam jiwa Idianto yang cinta pada publik anak didik namun disisi lain Ia benci pada anak didik bermasalah. Sebagai Wakasek Kesiswaan tentu Ia punya otoritas menegakan disiplin. Ia beratanggung jawab memberi apresasi pada yang berprestasi dan memberi sanksi pada yang bermasalah.

Tindakannya Pak Idianto andaikan dilakukan 30 tahun lalu, mungkin tidak masalah, malah baik. Bung Karno mengatakan, “Bangsa Indonesia ini kalau ingin maju terkadang harus dipaksa, dikerasin”. Mental melenghoy, santai, sebagaimana ajakan lagu Rhoma Irama, yo kita santaiii … dan manja sangat kuat dalam jiwa bangsa kita. Maklum kita hidup di negeri “Tanah Surga” versi Koes Ploes.

Idiyanto adalah Guru Robin Hood yang bertindak salah, namun Ia bertindak bukan atas dasar kebencian murni, melainkan atas dasar ingin melindungi siswa yang lain. Fakta dukungan anak didik pada Robin Hood Idiyanto adalah buah kinerjanya. Ingat!!! Mayoritas anak didik di setiap sekolahan tidak suka pada anak bandel dan bermasalah. Ketegasan dan keberanian seorang guru untuk menindak anak bandel mewakili perasaan anak didik.

Sebuah pepatah mengatakan, “Nila setitik, rusak susu sebelanga” menimpa Idianto. Segala kebaikan Idiyanto bertahun-tahun rusak oleh video sedetik. Mari kita semua belajar pada setiap dinamika kontekstual dan memahami tuntutan zamannya. Sanksi pada Idianto layak diberikan namun perlu dicatat Ia adalah Robin Hood. Ia kelepasan memukul karena misi mendidik. Berikan sanksi yang adil dan proporsional!

Era kriminalisasi guru harus berakhir seiring berakhirnya era kekerasan pada anak didik. Era SRA dan merdeka belajar harus lebih mengemuka. Di zaman edan ini kadang kita butuh guru-gurun tegas dan keras di sa’at para orangtua dan sejumlah guru apatis dan melenghoy geboy. Keras, tegas, disiplin sulit ditegakan sekarang. Edukasi yang melenghoy asoy lebih aman! Anak-anak manja setiap tahun ratusan terlahir dari proses pendidikan melenghoy. Quo Vadis pendidikan kita?

(11)