Forum Santri Gayeng Jadi Ajang Santri Berpolitik & Bersyiar

Pewarta: Dwi Arifin

Koran SINAR PAGI (Semarang)-, Kepemimpinan dalam pemerintahan itu bukan berarti mengganti atau mengubah, tetapi meneruskan dan menyempurnakan apa yang sudah dilakukan pemimpin terdahulu. Model kepemimpinan seperti itulah yang belum jelas terlihat dalam dunia politik di Indonesia.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen saat menjadi pembicara dalam pengajian Santri Gayeng di Rumah Dinas Wakil Gubernur, Jalan Rinjani Nomor 1, Semarang, Kamis (30/1/2020) malam. Menurutnya, para santri yang masuk ke pemerintahan atau dunia politik harus bisa menumbuhkan model kesinambungan tersebut seperti yang dilakukan para khalifah.

“Itu yang penting sekarang karena belum ada dalam pemerintahan atau politik sekarang ini. Masih ada yang tidak meneruskan tetapi mengganti atau mengubah. Ini menjadi tugas kita para santri yang masuk ke pemerintahan untuk meneruskan dan menyempurnakan, seperti yang dilakukan para khalifah. Pemimpin ini ada kesinambungan,” katanya.

Selain itu, Gus Yasin juga menyampaikan bahwa masih banyak hal yang harus ditata di pemerintahan dan masyarakat. Penataan tersebut tentunya tidak dapat dilakukan dengan cepat, misalnya dalam waktu lima tahun. Namun dalam waktu itu paling tidak ada kemajuan positif yang dilakukan oleh para pemimpin.

Perbaikan tatanan tersebut, kata dia, tentunya memerlukan keterlibatan dari banyak pihak untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada. Hal itulah yang dilakukan Gus Yasin melalui forum Santri Gayeng yang digagasnya.

“Santri Gayeng ini media berpolitik para santri. Santri yang dimaksud bukan saja yang alumni pesantren atau satu almamater saja tetapi keseluruhan. Forum ini juga untuk menggali permasalahan yang ada di masyarakat untuk kemudian dibahas sehingga mendapatkan ide dan solusi,” ungkap Gus Yasin.

Ia pun meminta, santri gayeng benar-benar memperlihatkan santri yang tidak meninggalkan politik. Karena, santri gayeng tidak hanya berpolitik, tetapi menurut Gus Yasin, juga sebagai syiar.

(Sumber : Humas Jateng)

(6)