“Kentang Udara” Jenis Tanaman Hutan Yang Punya Potensi Besar Sebagai Pangan Alternatif

Oleh : Sugama (Penyuluh Kehutanan/IPKINDO DPW JABAR)

“Air Potato” atau Kentang Udara (Dioscorea Bulbifera) adalah tumbuhan mirip kentang yang banyak tumbuh di dalam Hutan Tropis, seperti di Asia dan Afrika. Penyebutan kentang udara, karena umbi kentang yang biasanya berada di dalam tanah, kali ini berada merambat di udara, dan buahnya keluar dari ketiak daun (bulbil).

Kentang udara ini sebenarnya bukanlah dari keluarga kentang, Suku Solanaceae, melainkan dari keluarga umbi-umbian jenis gadung, Suku Dioscoreceae. Di daerah Jawa kentang jenis ini, yang dapat dikonsumsi, disebut Gembolo.

Tanaman Gembolo atau Kentang udara adalah tumbuhan perdu semusim yang merambat, searah jarum jam, yang dapat mencapai ketinggian 3-10 m. Tumbuhan ini juga dapat menghasilkan umbi dari batang yang ada di permukaan.

Umbi ini disebut “umbi udara” atau “katibung”, umbi ini dapat dikonsumsi, dan dapat dijadikan sebagai pangan alternatif. Umbi udara juga dapat digunakan sebagai bahan perbanyakan vegetatif.

Tanaman Kentang udara ini juga terdapat umbi di bagian bawahnya, dalam tanah, tetapi ukurannya tidak berkembang menjadi besar. Pada musim kemarau umbi ini mengalami masa dorman, dan pada awal musim hujan, dari umbi dalam tanah tersebut akan tumbuh tunas baru yang dapat tumbuh membesar menjadi tanaman dewasa.

Umbi Kentang udara dapat berkembang sangat besar seperti ukuran bola tenis, umumnya ukuran umbi sebesar telur bebek. Daun tanaman ini adalah daun tunggal berbentuk jantung, umbi berbentuk bulat lonjong, dengan rambut akar yang pendek dan kasar. Daging umbi sangat bergetah namun lunak, berwarna kekuningan dan keras. Tanaman ini tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 1.800 m. dpl.

Ada 4 (empat) varietas kentang udara,

Pertama yang berkulit halus berwarna cokelat seperti kentang, daging umbinya berwarna putih kekuningan dan enak dimakan,

Kedua juga berkulit halus berwarna cokelat seperti kentang, dengan daging umbi berwarna putih kekuningan, tetapi rasanya pahit dan beracun,

Ketiga yang berkulit kasar, bertotol-totol, dan berwarna ungu gelap, daging umbinya juga berwarna ungu gelap, dan enak dimakan, dan

Keempat, juga berkulit kasar, bertotol-totol, dan berwarna ungu gelap, daging umbinya berwarna ungu gelap, tetapi pahit dan baracun. Varietas yang beracun dan tidak beracun, memang sulit dibedakan penampilannya, kecuali dari rasanya (pahit dan tidak pahit).

Sehingga umbi kentang yang dapat dikonsumsi adalah yang berkulit putih kekuningan dan berdaging putih kekuningan layaknya kentang yang ada di pasaran. Selain itu kentang udara yang enak dimakan adalah yang berkulit gelap, bertotol totol dan warna dagingngya juga berdaging berwarna ungu. Semua umbi yang dapat dimakan adalah yang rasanya tidak pahit.

Kentang udara dapat dijadikan sebagai pengkayaan komoditas pangan bagi masyarakat. Walaupun rasanya tidak seenak seperti kentang yang sudah biasa dikonsumsi, namun kentang udara dapat menjadi pangan pilihan masyarakat dalam bagian diversifikasi atau penganekaragaman konsumsi pangan.

Masyarakat pada umum nya mengkonsumsi Umbi kentang udara dengan cara direbus terlebih dahulu, atau dikukus. Umbi yang berukuran besar, harus dipotong-potong, agar masak dengan merata. Baik umbi putih maupun umbi ungu yang tidak beracun, sama-sama bisa dikonsumsi dengan aman.

Umbi Kentang udara ini juga dapat diolah untuk industri rumahan seperti kripik kentang ataupun kue yang berbahan dasar kentang.

Selain itu juga dapat diolah menjadi tepung, bahkan dibeberapa negara tepung kentang ini dapat diajdikan sebagai bahan dasar untuk mie. Dari rasanya hampir sama enaknya dengan kentang biasa.

Selain untuk konsumsi umbi jenis tanaman ini memiliki khasiat sebagai obat herbal. Dalam tradisi pengobatan kuno, Kentang udara dimanfaatkan untuk obat disentri, diare, penyakit-penyakit ringan, hingga radang mata.

Buku Rangkuman Fungsi dan Khasiat Tanaman Obat tulisan Sidik Raharjo yang diterbitkan Merapi Farma Herbal menyebutkan bahwa umbi kentang udara ini dapat untuk mengobati luka bengkak.

Di wilayah Floria, Amerika Serikat, menurut penelitian Center for Aquatic and Invasive Plants, University of Florida, Institute of Food and Agricultural Sciences, Jenis tanaman Kentang udara dikategorikan sebagai tumbuhan gulma yang invasif karena kecepatan pertumbuhannya yang cepat.

Pertumbuhan batangnya yang saling membelit, mengganggu pertumbuhan tanaman di sekitarnya, membentuk jalinan lapisan batang yang tebal. Jika tumbuhan ini dimatikan, umbi yang menggantung dapat tetap bertahan hidup, dan dapat membentuk tunas baru.

Budidaya tanaman Kentang Udara sangatlah mudah, tidak sesulit seperti halnya budidaya tanaman kentang biasa. Karena tergolong tanaman gulma, tanaman ini mudah diperbanyak dan pertumbuhannya sangat cepat, pemeliharaannya pun mudah, serta produksi nya juga tinggi.

Karena potensinya yang besar sebagai pangan alternatif dan beberapa manfaat umbi lainnya, Jenis tanaman hutan yang banyak ditemukan di Wilayah Hutan Pulau Kalimantan ini mulai dikembangkan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) Pemda Provinsi Kalimantan Timur. (Suluh Manuntung, Samarinda, Kamis, (17/9/2019).

Mudah-mudahan setelah banyaknya informasi dan publikasi hasil penelitian tentang tanaman kentang udara ini, banyak lembaga atau pemerintah daerah yang mengembangkan pangan alternatif ini, termasuk Pemda Provinsi Jawa Barat, dan diharapkan dapat memperkuat Ketahanan pangan nasional.

(198)