Guru Honorer Wafat di Ruang Kelas

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)

Wafatnya Ibu guru Eti Maryati (49) di ruang kelas adalah bagian dari kisah pengabdian seorang guru honorer. Guru Pendidikan Agama Islam itu sedang menderita sakit, namun tetap pergi mengajar di SDN 4 Sukahurip, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis. Ibu Eti adalah guru honorer yang dedikatif dan memiliki semangat mengajar yang baik.

Dalam UURI No 14 Tahun 2005 pasal 36 ayat 2) diamanahkan bahwa “Guru yang gugur dalam melaksanakan tugas di daerah khusus memperoleh penghargaan dari pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat. Ibu Eti memang tidak bertugas di daerah khusus tetapi Ia pun bekerja di sekolah khusus yang kekurangan guru PNS.

Selanjutnya dalam Pasal 39 para guru perlu dilindungi. Ayat (2) menjelaskan bahwa “Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum, perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. Bu Eti selama ini sudahkah mendapatkan perlindungan dan keselamatan kerja dari pemerintah sesuai amanah undang-undang?

Tulisan ini bukan hendak menyalahkan pemerintah pusat, daerah, organisasi profesi dan masyarakat, namun sebagai catatan bahwa profesi guru pun ternyata belum terlindungi secara utuh dari keselamatan dan kesehatan kerja. Bu Eti adalah guru honorer yang merawat anak didik. Apakah pemerintah pun sudah merawat kesehatan dan kesejahteraan Ibu Eti?

Saran Saya kepada pemerintah pusat dalam hal ini Mas Nadiem berikanlah sebuah “tanda belasungkawa” mewakili pemerintah kepada setiap guru yang meninggal sa’at melaksanakan tugas negara. Tanda belasungkawa itu sebagai wujud pada publik dan keluarga bahwa negara dan pemerintah hadir. Kehadiran guru honorer sangat menguntungkan pemerintah, hargai sa’at mereka wafat!

Bapak Mendikbud sangat afirmatif. Tunjangan khusus bagi yang terdampak banjir pun diberikan. Akan lebih afirmatif bila pada guru yang meninggal dalam melaksanakan tugas pun diberi “suatu” kompensasi. Ini bukan masalah nominal melainkan masalah adab dan kemanusiaan dari pemerintah bagi pendidik abdi negara.

Saran kedua kepada Bupati Ciamis, Bapak Herdiat Sunarya mohon Bapak pun memberikan “tanda belasungkawa” kepada almarhumah. Semoga Bupati Ciamis dapat menjadi contoh terbaik bagaimana menghargai pejuang pendidikan Sang Guru Honorer yang wafat disa’at melaksanakan tugas. Saya percaya Bapak Bupati Hediat Sunarya akan terpilih kembali menjadi Bupati di periode ke dua.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Bu Eti adalah guru honorer pahlawan pendidikan. Ia tidak berperang dengan Belanda atau Jepang, Ia berperang melawan keterbatasan finansial sebagai guru honorer dan melawan sakit yang dideritanya.

Sekali pun sakit Ia tetap mengajar. Itulah panggilan negara pada Sang Guru honorer yang dedikatif. Mengapa pemerintah perlu menghargai dan mengormati almarhum Ibu Eti? Sebagai preseden baik bahwa pemerintah Kemdikbud, Bupati, Disdik, organisasi profesi memiliki adab terimasih pada guru.

Kita berharap semoga semua orang yang berkhidmat serius untuk negara dan bangsa diberi kesehatan dan keberkahan bersama keluarganya. Bagi abdi negara yang asal kerja dan pejabat yang kerja asal semoga diberi hidayah agar berubah lebih baik.

Adab kolektif suantu bangsa dapat dilihat dari bagaimana memperlakukan warga negaranya. Tertama kepada para pendidik honorer! Selamat jalan Ibu Eti, surga menantimu karena jihadmu! Engkau wafat di hari Jum’at, saat melaksankan tugas negara dan sa’at sakit yang mengugurkan dosa-dosa.

(58)