essay on chemistry where to buy cheap paper absenteeism at workplace writing a biliography how to write a sociology paper

Jadilah Guru GILA!

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)

Sejak zaman Ranggawarsita dalam “Serat Kalatidhanya” ada istilah edan. Zaman makin edan atau gila. Tidak ikut gila di zaman gila menjadi serba salah. Ketika semuanya gila maka yang tidak gila menjadi sendirian dan gila sendiri. Serba salah hidup di zaman serba gila atau edan.

Konon katanya seribu orang gila teriak bahwa A itu sebuah kebenaran maka A seolah menjadi benar. Namun saat satu orang mengatakan yang benar itu adalah B sekali pun benar maka menjadi salah. Kebenaran ditentukan suara terbanyak. Kebenaran ditentukan bagaimana ramenya publik. Itulah zaman gila!

Orang yang pragmatis, hedonis dan melankolis akan segera ikut gila menyesuaikan dengan kegilaan sosial. Ilmu sosial seolah membenarkan adaptasi sosial. Ikuti bagaimana riak masyarakat dan keinginan masyarakat. A sosial itu bila tidak ikut edan atau gila bersama masyarakat yang gila. Faktanya bisa demikian!

Bukankah kejujuran saat ini menjadi barang langka. Orang jujur bisa dianggap gila. Orang planga-plongo jujur, masuk got, blusukan bisa dibuli. Orang munafik, ngaler ngidul, abu-abu, jual agama dengan politik identitas dan tergantung sikon bisa dianggap lebih baik. Kejujuran menjadi ajur dan ketidakjujuran menjadi lebih aman. Ini zaman gila. Haruskah kita ikut gila dan “melacurkan diri” dalam zaman gila?

Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan pentingnya para guru untuk menjadi pribadi merdeka. Pribadi penggerak dan pembelajar yang tangguh. Bagi Nadiem sekali pun zaman gila jangan kebawa gila dan edan. Justru kita harus jadi guru-guru penggerak yang “mendestroyer” hal-hal gila dalam realitas sosial kita.

Guru harus awas, waras dan tegas dalam menempatkan diri. Ia harus merdeka dari zaman gila, ia harus menjadi penggerak melawan semua kegilaan. Pepatah bijak mengatakan, “Sakit karena cinta hanya bisa disembuhkan dengan cinta.” “Orang kuat hanya bisa dikalahkan oleh orang kuat lagi” “Pasukan militer hanya bisa dikalahkan dengan pasukan militer lagi”.

Bila pepatah bijak di atas diberlakukan terkait dunia yang gila maka bisa diungkapkan sebagai berikut, “Dunia orang gila hanya bisa diselesaikan oleh orang-orang gila” Saya jadi ingin memberikan terapi gila dalam gila yang berbeda. Zaman ini membutuhkan guru penggerak menurut Nadiem Makarim. Siapa guru penggerak di zaman gila? Tiada lain adalah guru-guru gila.

Siapa guru-guru gila itu? Guru-guru gila adalah guru-guru yang gesit, inovatif, literatif dan adaptif (GILA). Hanya guru yang gesit mampu berkelit dari gilanya zaman ini. Hanya guru-guru yang gesit Ia mampu bergerak lincah menjawab tantangan zaman. Ia tidak diam, menunggu dan malas-malas. Ia guru yang lompat-lompat melakukan manuver terhadap tantangan perubahan. Guru milenial cenderung gesit. Guru tua?

Selanjutnya guru inovatif adalah guru yang selalu memunculkan kebaruan. Sebagai guru Ia punya hal-hal baru, ide-ide baru dan karya baru yang mampu menjawab tantangan kekinian bahkan mengantispasi apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Guru inovatif menurut Nadiem adalah guru yang tidak terpasung oleh rigidnya birokrasi dan iklim dimana Ia bekerja. Sang Inovator selalu punya jalan tikus atau alternatif kebaruan. Tidak menunggu aba-aba.

Hal penting lainnya adalah hadirnya guru literatif. Guru yang literatif adalah guru yang punya wawasan luas dan jauh ke depan. Ia sudah membaca, mengetahui, mempelajari dan melakukan hal-hal terbaru karena Ia belajar tiada henti. Ia makhluk guru yang tidak berhenti belajar. Learning, larning dan leraning. Improve, improve dan improve. Literasi digital, big data, komputer, engineering, coding, sistem aplikasi menjadi keseharian dari guru literatif.

Terakhir guru adaptif. Bahkan Nadiem menyebut betapa penting menjadi orang yang proaktif bukan reaktif atau nyinyir menghadapi sesuatu. Guru adaptif adalah guru yang berusaha menyesuaikan diri lebih cepat dengan tantangan perubahan. Berusaha menjawab tuntutan masa depan dan masa kini. Guru adapatif adalah guru yang akan selamat dari gempuran tuntutan perubahan karena Ia segera “menyesuaikan” diri.

Guru GILA (Gesit, Inovatif, Lieteratif dan Adaptif) adalah guru-guru gila yang dibutuhkan saat ini. Guru loyo, lambat, asal kerja dan tidak suka menerima tantangan sangat bahaya bagi kemajuan dunia pendidikan kita. Nadiem berpesan betapa pentingnya guru penggerak.

Guru penggerak adalah guru-guru GILA yang mampu mengantisipasi segala tuntutan perubahan kemudian melakukan gerakan, menggerakan dan terus bergerak bergerak terus, sendiri atau berkelompok untuk menaklukan zaman.

Menghimpun guru-guru GILA nampaknya menjadi sebuah kebutuhan. Meng-engineering guru-guru GILA adalah sebuah tuntutan. Jangan sampai terbalik! Guru biasa-biasa saja yang calm, adem ayem, manut penurut dianggap baik. Guru manut-manut tutut (keong) dianggap baik. Saat ini justru dibutuhkan guru-guru GILA yang tidak manut pada gilanya zaman. Ia harus kritis, taktis namun tetap humanis dalam menjawab tantang perubahan. Gurunyang melawan alam gila.

Jadilah guru GILA di zaman edan! Jangan jadi guru biasa-biasa saja. Guru biasa hanya datang ke sekolah untuk bekerja mengajar. Menggugurkan tugas dan mendapatkan upah atau gaji. Guru luar biasa adalah guru GILA yang memiliki keberbedaan dan keunikan yang proaktif menaklukan tuntutan perubahan. Guru GILA tidak akan kalah sama anak didik yang milenial sekali pun. Guru-guru gila tak dapat digantikan oleh mesin, google dan robot.

Jangan jadi guru biasa! Jadilah guru GILA. Guru profesional dan kompeten saat ini adalah guru yang punya sertifikasi sosial Guru GILA. Bukan produk protofolio, PLPG dan PPG semata melainkan produk tantangan alam realitas yang makin gila. Mari bergerak terus, terus bergerak menjadi guru GILA! Bangga menjadi guru GILA!

(82)