paper review example business writer jobs problem solution essay prompts resignation letter due to stressful environment

Geliat Persutraan Di Kabupaten Sukabumi

Study Kasus pada Kelompok Tani Hutan “Bina Mandiri” Desa Sukamaju Kecamatan Kadudampit Kab.Sukabumi.

Disusun oleh : Ir.Sugama, Penyuluh Kehutanan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah III, Sukabumi, Jawa Barat.

Adalah seorang Petani bernama Haji Edy Yusuf, yang pada Bulan Agustus 2019 lalu menerima penghargaan Innovation Award Tahun 2019 dari Menteri LHKRI dan sederet penghargaan lainnya termasuk dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, yang dengan gigih dan tanpa kenal menyerah mengembangkan Usaha Budidaya Ulat Sutra di Sukabumi.

Perjalanan Edy Yusuf dalam mengembangkan Budidaya Ulat Sutra (Bombyx mori L.) ini dimulai pada Tahun 2003, saat baru saja keluar dari tempatnya bekerja di PT Indo Jado (Perusahaan Ulat Sutra di Sukabumi), karena perusahaanya Gulung tikar.

Dengan alasan sudah terlanjur jatuh hati pada Ulat Sutra, ditambah bekal pengalaman serta keahlian, dia berusaha untuk tetap dapat mengembangkan Budidaya Ulat Sutra.

Lokasi Kadudampit yang dipilih karena selain dirinya berasal dari tempat tersebut juga karena terdapat beberapa orang yang dulunya menjadi petani mitra kerja PT. Indo Jado.

Tekadnya bertambah bulat setelah bertemu dengan mantan customer di tempatnya bekerja dulu yang menyatakan bersedia bermitra kerja. Selain itu dia juga menjalin kerja sama dengan petani mantan mitra PT Indo Jado di Cikidang, Kabandungan, Gegerbitung dan Nyalindung.

Untuk memperkuat usahanya, pada Tahun 2006 dia membentuk wadah berupa kelompok tani, yang diberi nama “Kelompok Tani Bina Mandiri”, dan mitra kerja pun semakin bertambah, pada Tahun 2010 kelompok ini mendapat SK dari Desa Sukamaju dan pada tahun itu juga Kelompok Tani Bina Mandiri mendapat bantuan dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sukabumi, berupa Rumah Ulat dengan ukuran 6 m x 8 m dan pembangunan kebun tanaman Murbey seluas 0,5 ha, (setengan hektar).

Dengan Jarak Tanam 1,2 x 0,4 m jumlah tanaman dalam kebun Murbey tersebut terdapat sekitar 10,400 batang, dengan potensi panen daun sebanyak 7-8 ton, daur panen daun selama 2,5 s/d 3 bulan.

Siklus Hidup Ulat Sutra (Bombyx mori L.)

Dalam perkembangan menjadi ulat, sebutir telur ulat sutera butuh waktu 10 hari agar menetas. Setelah telur tersebut menetas dan menjadi ulat, maka akan terbentuk kepompong mentah.

Kepompong itulah yang nantinya dipintal menjadi benang sutera yang panjangnya bisa mencapai 300 meter hingga 900 meter dengan diamater 10 mikrometer.

Dalam Siklus hidup Ulat Sutera terjadi empat fase ganti kulit. Ketika warna kulit ulat Sutera telah kekuningan dan lebih ketat, maka ini menandakan bahwa ulat Sutera tersebut akan segera membungkus diri dan berubah menjadi kepompong.

Rumah Ulat

Ulat sutra adalah binatang yang spesial di dunia peternakan. Pembuatan kandang untuk ulat ini dipastikan harus aman; jauh dari binatang, kalau bisa dekat dengan pohon murbey. Sebaiknya pintu dan jendela menghadap ke utara dan selatan untuk menghindari paparan sinar matahari.

Hal terpenting yang harus diwaspadai oleh petani budidaya ulat sutra adalah perawatan. Hal ini meliputi proses desinfeksi. Sterilkan ruangan kandang dengan larutan kaporit atau bisa juga dengan formalin.

Kadar yang direkomendasikan adalah 0,5% (kaporit) dan 3% (formalin). Kemudian tutup ruangan agar patogen (hama penyakit) mati, dan buka kembali 24 jam sebelum pengandangan ulat dimulai. Rumah Ulat terdiri dari dua rumah, yaitu untuk Rumah Ulat kecil (Instar I sd. III3) dan Rumah Ulat Besar Untuk instar IV sd. V.

Rak Ulat Sutra

Dalam Rumah Ulat tersebut dibuatkan rak susun untuk menampung ulat sutra. Bentuknya kotak persegi panjang. Rak bisa dibuat tiga sampai empat susun, dibuat sebanyak mungkin kotak ulat untuk menampung ulat sutra tetapi upayakan tetap nyaman untuk bekerja dan cukup ruang untuk aliran udara.

Pembibitan Ulat Sutera

Masa inkubasi (penetasan) ini dalam suhu ruangan sekitar 25°C dengan kelembapan 80% – 85%. Ulat akan menetas dalam rentang waktu 10-12 hari. Waktu bibit ulat sutra ini menetas, ambil bayi ulat dengan hati-hati dan pindahkan ke kotak yang sudah dilapisi kertas parafin atau koran bekas lalu diletakkan daun murbery muda segar yang telah dicacah.

Kertas ini berguna untuk menjaga kelembapan daun murbery agar tetap segar. Kalau khawatir ulat terluka, gunakan bulu ayam atau angsa untuk memindahkan ulat dari tempat penetasan.

Cara Pemeliharaan Ulat Sutra

Ada beberapa tahapan perawatan yang membutuhkan treatment berbeda, penting untuk diperhatikan: Pemeliharaan ulat kecil (Instar I-III). Ulat yang baru menetas kelihatan kecil kehitaman atau coklat gelap dengan kepala besar, badannya masih tertutup rambut.

Pada fase ini ulat sudah diberi makan irisan tipis daun murbey muda. Pada hari kedua, tubuhnya menjadi gemuk, warnanya kehijauan dan rambutnya mulai rontok. Setelah itu, ulat akan berhenti makan untuk memasuki masa istirahat dan diakhiri dengan pergantian kulit, disebut fase instar I.

Setelah berganti kulit, larva ulat mulai memasuki instar II dan selanjutnya memasuki instar III yang biasanya didahului masa istirahat dan berganti kulit. Lama tiap instar tidak sama, pada umumnya masa yang terpendek ialah instar II, I dan III dengan masa istirahat lebih kurang satu hari. Peralihan tiap instar ditandai dengan berhentinya makan (ulat istirahat) dan terjadinya pergantian kulit. Pada fase pemeliharaan ulat kecil ini pada umumnya selama 12 hari.

Pemeliharaan ulat besar (Instar III-V). Ulat bertambah besar, irisan daun murbey semakin besar dan kebutuhan pakan semakin banyak. Pada instar IV umur ulat 4-5 hari, sedangkan pada instar V umur ulat 6-7 hari. Pada akhir instar V sudah tidak terjadi pergantian kulit, tubuh ulat terlihat transparan dan ulat berhenti makan.

Pada fase ini ulat sudah mulai mengeluarkan serat sutera dan memasuki fase pengokonan (ulat sudah matang). Lama fase pemeliharaan ulat besar ini pada umumnya selama 13 hari. Namun, pada lokasi dengan kelembaban rendah membuat umur ulat relative panjang.

Proses pengokonan

Periode hidup mulai dari telur menetas sampai proses pengokonan kurang lebih satu bulan. Setelah akhir instar V, ulat mulai proses pengokonan dengan mengeluarkan serat sutera yang dihasilkan oleh kelenjar sutera (silk gland) yang berada di mulut larva ulat.

Selanjutnya, ulat akan berubah menjadi pupa didalam kokon selama 2-3 hari dan akan berubah menjadi kupu setelah 8-9 hari. Pemanenan kokon ulat sutera dilakukan sebelum kupu keluar dari ujung kepompong.


Hubungan Kerja Kelompok

Hubungan kerja dalam kelompok berdasarakan cara kerja antara Inti dan Plasma, dimana ketua kelompok bertindak sebagai inti dan para anggota kelompok sebagai plasmanya. Inti mempunyai tugas mengadakan telur ulat dan menetaskannya menjadi ulat yang seterusnya memeliharanya pada fase ulat kecil (instar I sd. III). Fase ini merupakan fase yang paling kritis, memerlukan penangan yang intensif dan memerlukan keahlian khusus.

Kelompok Tani Mandiri telah mempunyai indukan yang unggul, dengan kode PS. 01. Dalam satu box (satu amplop) terdapat 25.000 telur ulat. Kelompok Tani Bina Mandir telah mampu menetaskan telur ulat dengan persentase keberhasilan sebesar 97 %.

Selanjutnya fase Instar IV dan V, pemeliharaan ulat sutra diserahkan pada anggota kelompok. Pihak inti memberikan ulat secara Cuma Cuma berikut transfortasinya juga memberikan pendampingan dan sarana penunjang, berupa pemberian obat-obatan, kapur dan kertas koran.

Anggota tinggal menyediakan rumah ulat dan kebun murbeynya. Bila ada kekurangan pakan pada salah satu anggota maka akan dibantu dari fihak minti dan anggota lainnya. Dalam satu periode budidaya ulat dibutuhkan pakan daun murbey sebanyak 800 – 1.000 Kg daun.

Setelah pengokonan selesai dan kokon dipanen, kokon tersebut dibeli kembali oleh fihak inti. Dari satu box telur yang berjumlah 25.000 butir telur akan menghasilkan kokon sebanyak 40 Kg. Kokon.

Kokon dibeli dalam keadaan tanpa disortir atau masih campuran.

Permasalahan

Pada saat ini kapasitas mesin pintal yang dimiliki sebesar 1.000 Kg. Kokon per bulannya. Sedangkan pasokan kokon baru dapat mencapai sekitar 300 Kg. saja, sekitar 30 % dari kapasitas mesin yang dimiliki.

Kendala lain yang dihadapi adalah pada musim kemarau, dimana kebun kebun yang tadah hujan (tanpa pengairan) mengalami kekeringan, mengakibatkan produksi daun murbey menjadi berkurang.

Upaya-upaya yang dilakukan dalam meningkatkan bahan baku diharapakan adanya bantuan dibagian hulunya berupa peningkatan kapasitas produksi petani dan adanya penambahan mitra tani (anggota Kelompok).

Optimalisasi mitra yang ada melalui intensifikasi dan peremajaan tanaman. Sedangkan untuk penambahan anggota perlu bantuan pembangunan rumah ulat dan pembangunan kebun murbey baru. Demikian makalah ini disusun semoga bermanfaat.

(46)