mary barton ap lit essay how to write a paper on an article well written paragraph examples why are you here essay

Kunci Hidup, Sadar Irama

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PB PGRI)

Pagi-pagi Saya sudah menerima “kuliah 2 SKS” dari seorang sahabat pejuang PGRI. Ia seorang perempuan namun spiritnya melintasi mentalitas pria. Ia pejuang perempuan yang wow dan luar biasa. Melalui telephon Ia menyampaikan beberapa hal cukup penting untuk Saya refleksi. Tak disangka sosok Hj. Esih dari Tasikmalaya memiliki pemikiran yang wow.

Beberapa hal yang masih Saya ingat apa yang Beliau sampaikan adalah sebagai berikut, ini kunci hidup katanya. Bila kita masih muda, punya keberanian dan semangat yang baik teruslah menguatkan pengetahuan dan keterampilan. Bila kita merasa tersekat oleh sebuah ruang atau organisasi lakukan “lompat pagar”.

Menurutnya seorang generasi muda melakukan “lompat pagar” tidaklah mengapa bila di dalam pagar merasa terbatasi dan banyak hal yang malah membuatnya sulit untuk tumbuh dan berkembang. Boleh lompat pagar bila gembok pagar tidak terbuka dan kelamaan bila harus membuka atau menghancurkan gembok.

Lompat pagar, terjatuh, sedikit lecet atau pakain ada yang agak sobek wajar saja. Generasi muda boleh terjatuh dan bahkan terluka. Itu sebuah proses. Selama jatuh dan terluka itu bagian dari sebuah ikhtiar menuju kehidupan yang lebih baik dan menantang. Generasi muda potensial jangan diam dan ikut antri terlalu lama. Habis waktu dan habis umur.

Kisah sejarah yang cukup getir tatkala seorang penguasa senior terlalu lama menggembok pagar. Awalnya nama penguasa itu sangat harum. Begitu memesona. Guanteng, smart dan wow. Namun kegantengan dan wow itu tidak abadi. Ada saatnya meredup dan harus tahu diri. Setiap orang harus punya kecerdasan self control. Ini penting. Bila tidak bahaya.

Sesuatu yang awalnya harum bisa busuk di ujung. Ingat sunatullahnya. Setiap bunga itu ada masa puncak kemekaran dan keharuman yang luar biasa. Selanjutnya akan mulai melayu, berkurang keharuman dan bahkan bisa tanggal. Ujungnya bisa membusuk menimbulkan bau. Bunga pun bisa hilang harumnya. Apalagi manusia.

Sejarah mencatat betapa hebatnya Sang Proklamator Bung Karno. Jutaan orang mengelu-elukan. Ia bagai Dewa penyelamat bangsa. Ia Proklamator dan Sang Pemimpin Besar Revolusi. Begitu pun Suharto. Ia The Smailing Jenderal dan Bapak Pembangunan yang wow. Namun apa yang terjadi diujung kehidupannya?

Sunguh getir. Bung Karno dan Bung Harto terjerembab dalam kubangan revolusi sosial. Ia awalnya sangat harum namun karena terlalu lama berkuasa maka hukum sunatullah menghampiri. Tidak ada pesona dan harum yang abadi. Zaman pun berganti. Generasi baru pun muncul. Publik pengagum pun mulai berkurang berganti zaman.

Kesalahan kita sebagai manusia adalah selalu ingin menjadi penguasa seumur hidup. Ingin selamanya menjadi raja. Raja selamanya. Selamanya raja. Bung Karno ingin disebut Paduka Yang Mulia Pemimpin Besar Revolusi, Presiden Seumur Hidup. Ia lupa. Itu adalah sanjungan tak sesuai kebathinan rakyat semuanya. Begitu pun Suharto Ia ingin menjadi Presiden penguasa orde baru seumur hidup.

Dua tokoh hebat dan luar biasa ini harus “terjungkal” di ujung hayatnya. Bagimana menderitanya Bung Karno saat Regim Suharo mengucilkannya. Bagaimana terhinanya Suharto diujung zaman reformasi. Bahkan hujatan sampai saat ini masih melekat padanya. Butuh puluhan tahun stigma sejarah itu untuk kadaluarsa, bagai plastik sulit diurai. Itulah kehidupan. Ada saatnya jaya ada saatnya meredup dan habis.

Bung Karno dan Bung Harto adalah dua sosok yang harus menjadi profile project bagi para pemimpin dinegeri ini. Cermin bagi kita semua. Termasuk dalam kepemimpinan di organisasi profesi guru sejenis PGRI. Kita harus mereformasi lebih baik. Kita harus merevitalisasi dengan sangat efektif dan berorientasi pada kejayaan PGRI. Bukan pada kepentingan kelompok atau perorangan.

PGRI mesti memiliki militansi perubahan. Bukan hanya militansi perlawanan atau perjuangan melawan ketidakadilan dan kekuasaan yang korup terkait pendidikan. PGRI harus mereformasi diri dari segala kejumudan internal. Jangan-jangan ada ketidakadilan internal yang jumud dan ortodok. Ini harus kita perbaiki bersama. Niat memperbaiki organisasi bukan niat berkuasa atas organisasi.

Perbaikan PGRI bisa dimulai dari mana? Pertama dari para guru muda. Apakah guru-guru muda punya nyali di organisasi? Apakah guru-guru muda punya “kemuliaan” untuk membesarkan organisasi? Apakah guru-guru muda mayoritas waras berorganisasi? Apakah guru-guru muda hanya berpikir picik pribadi atau berpikir startegik untuk organisasi? Potensi guru muda adalah modal awal pengubah organisasi.

Kedua dari para pengurus. Para pengurus PGRI harus lebih cepat “membuka gembok” agar sejumlah generasi muda masuk dengan leluasa mengurus PGRI. Bahkan bila perlu periode kepemimpinan di PGRI tidak harus dua periode. Bila perlu cukup satu periode. Artinya cukup lima tahun. Era disrupsi menuntut perubahan cepat dan periode menjadi pendek.

Hadirnya guru-guru muda berkualitas dan bangga menjadi pengurus PGRI dan dibukanya pintu kepengurusan lebih lebar dari para pengurus senior adalah solusi. Bila keduanya bermasalah bahaya, sangat bahaya bagi keberlangsungan organisasi. Guru muda apatis, manja, lembek, meloy melenghoy dan melow. Plus pengurus senior di organisasi bermental status quo dan tak mau pergi membuka pintu. Bahaya.

The Endnya atau rusaknya sebuah organisasi lebih kepada masalah internal bukan tantangan eksternal semata. Jujur saja! Apakah setiap struktur pengurus PGRI mulai tingkat cabang, kokab, provinsi dan PB tidak ada konflik internal? Bung Karno mengatakan, ”Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri.”

Ungkapan Bung Karno sangat logis. Ini sangat subtantif! Melawan apa pun diluar PGRI dengan jumlah 3 juta lebih aggota dan semuanya sarjana. Tidaklah terlalu berat. Tapi melawan status quo dan kepentingan pribadi dan kelompok dalam tubuh PGRI tidaklah mudah. Faktanya sangat-sangatlah sulit.

Dinamika dan masalah internal organisasi ini ada di semua organisasi. Tidak hanya di PGRI. Bahkan di partai politik jauh bisa lebih ekstrim. Mengapa? Karena lebih pragmatis. Lebih duniawi dan berbau kekuasaan. PGRI walau pun bukan organisasi profit dan tidak menjanjikan “masa depan” namun tak kekurangan konflik kepentingan. Mengapa? Karena organisasi perjuangan PGRI bisa disimpangkan menjadi organisasi mencari penghormatan. Sejumlah person bisa mencari kursi kehormatan bukan kursi kerja!

Kunci hidup dan berorganisasi adalah sadar diri, waras, awas pada keadaan dan ikhlas membuka pintu pada perubahan. Tau kapan saatnya berjuang hidup mati dan sadar kapan saatnya hidup akan mati. Jangan lompat pagar saat usia tua. Jangan diam saat muda. Lompat pagar saat muda. Buka pintu pagar saat menua. Itu lebih baik. Generasi muda bergerak tanpa batas. Generasi tua segera bukakan pintu karena waktu terbatas.

Tragedi Bung Karno, Bung Harto dan sejumlah pemimpin bermasalah di ujung adalah buah lupa diri. Buah dari ketidakserasian antara pemimpin dengan kebathinan yang dipimpin. Ibarat penari jaipong dengan irama gendang. Saat gendang sudah berhenti berbunyi jangan menari dan terus menghentak-hentakan badan. Penonton akan tertawa dan menertawakan. Selanjutnya penonton akan berteriak, turuuun! Turuuuun! Sadarlah!

(8)