example of an apa essay how to write a college level introductory paragraph bs md, essay how to star an essay

Ustadz Ruslan Hafidzahullah: Pentingnya Bersama Orang Sholeh

Pewarta: Dwi Arifin S.Pd

Koran SINAR PAGI (Kabupaten Bandung)-, Majelis Syubaanul Uluum berupaya hadir untuk perbaikan setiap manusia yang berhati sakit atau kotor menjadikan celah rusaknya umat ahir zaman. Dalam langkahnya Majelis Syubbanul Uluum menyelenggarakan kajian tazkiahtun nafs untuk masyarakat umum yang rutin diselenggarakan di Masjid Mujahidin Gandasari Kecamatan Katapang. Acara berlangsung setiap malam jum’at pukul 19:40-21:10wib.

Pada kesempatan malam jum’at yang lalu, Ustadz Ruslan Gunawan hafidzahullahmembahas tentang pentingnya menyertai atau bersama orang-orang yang sholeh. Pada awal dakwahnya Ustadz Ruslan menyampaikan kepada para pencari ilmu yang hadir. “mencari ilmu seperti ini merupakan jalan membuka pintu kebaikan. Semoga dalam proses pencarian ilmu ini, Alloh SWT tolong dan bimbing kita untuk sempurna dalam mencarinya, menghafal hingga memahaminya dan sampai mengamalkannya. Karena banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi mereka tidak menempuhnya dengan ilmu” ungkapnya kepada jam’ah (18-7-2019)

Lebih lanjut Ustadz Ruslan menyampaikan hari ini kita aka membahas tentang pesan ulama syehk Abdul Rojak perihal pentingnya muroqobah terhadap kehidupan ahirat dengan cara menyertai atau bersama orang-orang yang sholeh.

Merupakan jalan yang ditempuh orang-orang terdahulu dalam memperoleh kebaikan dengan menyertai atau bersama orang-orang sholeh. Dalam surat At-Taubah ayat ke 119

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”

Ayat ini berpesan agar manusia selalu berupaya bersama orang-orang saleh, baik dan jujur merupakan jalan pendidikan bagi manusia agar terjauhkan dari jalan yang menyimpang dan sesat.

Dalam sebuah teoritis hadist melalui perumpaan tentang manusia yang ada di majelis orang-orang sholeh dan orang yang jelek. Disampaikan Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu hadiah minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim)

Banyak faedah dalam bersama orang-orang yang sholeh. Orang yang awalnya tidak menginginkan kebaikan, dia akan menginginkannya. Yang awalnya tidak merasakan kebaikan, dia akan merasakannya. Dan ahirnya yang menjauhi kebaikan, karena bersama orang sholeh dia akan cenderung mengikutinya.

Dengan menyertainya kita akan mengambil ilmu darinya. Menemukan keteladanan dalam ucapan dan ahlak. Misalnya mencintai sikap yang lembut, kejujuran dan keadilaan.  Dan di majelis orang-orang sholeh kita akan menemukan dan dibimbing untuk membaca qur’an yang benar hingga ibadah yang benar. Kita sering menyadari kalau kita bersama mereka, mereka menjadi cermin tentang prilaku kita yang perlu ditinggalkan.

Lebih lanjut Ustadz Ruslan memaparkan sedangkan jika bersama orang-orang yang jelek, kita akan menemukan sifat orang munafik, sombong, prilaku bebas dengan lawan jenis baik secara langsung saat mereka bertemu atau melalui chaat washapp yang dianggap wajar. Padahal sangat bertentangan dengan agama.

Kita akan menemukan sifat-sifat yang buruk. Imam Al-Gzozali membahas tentang karakteristik manusia yang jelek. Dilihat dari karaktaristiknya, menurut Imam al-Ghazali (Ihya ‘Ulum al-Din), manusia memiliki empat macam karakter, yaitu:

1. Al-Rubu’iyah yaitu sifat “ketuhanan” yang terdapat pada diri manusia yang apabila telah menguasai diri manusia maka ia ingin menguasai, menduduki jabatan yang tinggi, menguasai ilmu apa saja, suka memaksa orang lain dan tak mau direndahkan, maunya hanya dipuji dan tidak mau mengalah.

2. Al-Syaithaniyah yaitu sifat “kesetanan” yang ada pada diri manusia yang apabila telah menguasai dirinya ia akan suka merekayasa dengan tipu daya dan meraih segala sesuatu dengan cara-cara yang jahat. Di sini mansia suka mengajak pada perbuatan bid’ah, kemunafikan dan berbagai kesesatan lainnya. Manusia ini suka menyesatkan orang lain.

3. Al-Bahimiyah yaitu sifat manusia berupa “kehewanan” ia akan rakus, tamak, suka mencuri, makan berlebihan, tidur berlebihan dan bersetubuh berlebihan, suka berzina dengan siapa yang dia mau. Sehingga orang yang memiliki sifat seperti ini sering disebut di masyarakat misalnya “srigala berbulu domba atau buaya darat”. Karena sifat kehewanan ada pada dirinya.

4. Al-Sabu’iyah yaitu sifat “kebuasan” ia akan suka bermusuhan, berkelahi, suka marah, suka menyerang, suka memaki, dan anarkis.

Ustadz Ruslan pada ahir dawahnya juga menganalogikan  orang bergaul dengan pemabuk atau pemakai narkoba. Jika orang yang sedang dekat dengan mereka. Dan saat itu mereka dalam masalah hukum, bisa saja kita awalnya jadi saksi, lalu jadi tersangka, lanjut terdakwa hingga ahirnya terpidana.

Maka lihatlah siapa yang ada disekitar kita? Karena mereka secara tidak langsung akan bisa mempengaruhi cara berpikir hingga bersikap kita. Misalnya kita memang tidak diajarkan memalak, memukul, mencaci atau membentak, tapi karena kita sering melihat itu dan ahirnya kita mengikutinya. Pada dasarnya lingkungan mereka mempolarisasi manusia disekitarnya.

 

(49)