Prof.Surya Dan “Warisannya” Untuk Guru

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PB PGRI)

Saya adalah diantara orang yang paling beruntung. Mengapa? Karena Saya mengenal para pejuang guru yang luar biasa. Ada Prof.Unifah Rosyidi, Prof.Surya dan Dr.Sulistiyo. Ketiga tokoh luar biasa ini sudah saya jabat hangat tangannya bahkan Prof.Surya dan Prof.Unifah Saya cium tangannya sebagai bentuk kekaguman pada mereka.

Tulisan berikut mencoba mengingat sosok yang sudah tiada tetapi “warisannya” masih terasa jleb dalam hati dan pikiran. Beliau adalah Prof.Dr.H.Mohamad Surya,M.Pd, sosok luar biasa diatara tokoh pejuang guru di atas. Beberapa hal yang pernah terlontar dan menjadi buah pikiran beliau layak Saya kutip.

Tentu saja kutipan berikut tidak persis dengan aslinya. Namun substansinya insyaallah tidak jauh berbeda. Kutipan yang menjadi “warisan” bagi kami para guru dan pejuang di organisasi PGRI. Apa yang “diwariskan” dari sosok Prof. Surya sebagai pahlawan sertifikasi dan bapaknya para guru? Tentu warisan dari beliau bukan hanya TPG yang didapatkan para guru. Warisan non finansial.

Diantaranya, pertama para guru harus banggga menjadi guru. Harus sangat bangga memilih profesi sebagai guru. Menjadi guru adalah kehormatan luar biasa yang sangat-sangat istimewa. Prof. Surya telah memberi contoh tentang betapa mulianya menjadi seorang guru. Ia menulis buku bertema, “Sekali menjadi guru, selamanya bangga menjadi guru”.

Kedua, para guru harus terus menjadi pembelajar. Menjadi guru itu akan bisa dipertanggung jawabkan bila kita terus belajar. Jangan ketinggalan pengetahuan dan tetap harus menjadi yang paling tahu diantara orang lain. Jangan sampai di zaman ini anak didik lebih pintar dari kita sebagai gurunya. Guru adalah pembelajar sepanjang hayat.

Ketiga, guru harus menulis. Prof. Surya menyitir para guru jangan seperti pohon pisang. Hanya satu kali berbuah. Kita para guru jangan hanya satu kali “berbuah” membuat tulisan saat menyusun skripsi saja. Skripsi bukan tulisan terahir melainkan awal kita menulis. Teruslah menulis. Menulis itu menembus ruang dan waktu.

Keempat, hindari zona nyaman. Ia mengatakan, “Jadilah binatang jalang, jangan jadi binatang peliharaan”. Hidup bagai di hutan belantara, “rambahlah” cari pengalaman terbaik. Binatang atau burung peliharaan yang disiapkan makanan dalam sangkar emas tidak akan bebas terbang. Binatang peliharaan “terpasung” dalam ruan sempit. Jadilah binatang jalang.

Kelima, lakukan kolaborasi. Ia menyarankan para guru terutama pengurus organisasi PGRI membangun komunikasi dengan pihak-pihak eksternal. PGRI harus mampu mencapai tujuan organisasi dengan memanfaatkan potensi eksternal. PGRI harus bermitra dan dikenal oleh pihak lain yang akan kontributif pada akselerasi visi misi organisasi.

Keenam, semangat mengajar. Prof. Surya adalah orang yang tidak bisa hidup tanpa mengajar. Ia sangat bahagia bila berbagi pengetahuan, pengalaman dan mengajar. Dalam kondisi sakit pun Beliau selalu memaksakan diri untuk mengajar. Termasuk menjadi pengajar dan narasumber di berbagai tempat. Justru beliau akan sakit bila tidak mengajar. Berbagi pengetahuan baginya bukan sekedar amal melainkan menyehatkan bathinnya.

Ketujuh, sayangi keluarga. Terutama jangan coba-soba menyakiti perempuan (istri atau Ibu kandung). Baginya perempuan dalam wujud istri dan Ibu kandung adalah sosok sakral yang sangat terkait dengan kesuksesan hidup. Perempuan adalah sosok istimewa dalam kehidupan manusia. Dari rahimnya lahir manusia para penghuni muka bumi. Perempuan adalah “Ibu Pertiwi” bagi semua pria khususnya.

Kedelapan, sebaiknya para guru tidak merokok. Merokok itu tidaklah baik bagi kesehatan dan citra guru. Pendidik harus memperlihatkan keteladanan dan hidup sehat terutama dihadapan anak didik. Termasuk di dalam keluarga, seorang pria dilarang merokok. Merokok tidak ada kaitannya dengan kejantanan atau kelelakian. Stop merokok! Jadi guru harus sehat dan terlihat sehat.

Kesembilan, yakin pada Allah. Setiap diri kita sudah ada takdirnya. Berikhtiarlah maksimal, Allah tidak tidur. Ikhtiar maksimal adalah ibadah yang sangat baik. Hasil urusan Allah. Menjadi orang yang bermanfaat sesuai dengan profesinya sangatlah baik. Apalagi profesi guru. Jadilah guru yang bekerja ikhlas karena Allah. Keberkahan akan didapatkan. Pasti!

Kalau kita bedah, sejumlah “warisan” dari Prof. Surya, terutama untuk para guru tentulah banyak. Setidaknya sembilan warisan di atas mampu menjadi “pembekalan” bagi kita dari sosok Prof. Surya.

Sungguh Allah maha pemberi. Ia telah “memberikan” sosok guru besar bagi semua guru di Indonesia dalam sosok Prof. Surya. Ia bagai matahari bagi perjuangan dan kehidupan guru. Subahanallah.

(36)