Ustadz Ruslan Gunawan Bahas Jalan Beragama Yang Benar

Pewarta: Dwi Arifin S.Pd

Koran SINAR PAGI (Bandung)-, Banyaknya amal yang mengatas namakan agama, namun tidak dicontohkan rosululloh dan para sahabat menjadi bahasan khusus dalam kajian ilmu setelah sholat tarawih yang diselenggarakan Madrasah Ramadhan Syubbaanul Uluum . Malam ramadhan ke 9 tahun 1440 Hijriah, Ustadz Ruslan Gunawan menyampaikan tentang jalan yang harus ditempuh dalam beramal agar terhindar dari kesesatan.

Dalam awal interaktif dakwahnya Ustadz Ruslan Gunawan menyampaikan tentang pentingnya dorongan klarifikasi dalam beragama. Kerena telah terbukti pada zaman ini terjadi banyak orang yang berdusta dengan membawakan hadist yang kalian tidak pernah dengar dan tidak didengar juga oleh bapak-bapak kalian. Mereka berdusta mengatas namakan agama. Mereka menyesatkan dan memfitnah kalian. Dan orang yang seperti itu akan mendapatkan bahaya kelak di ahiratnya.

Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian berdusta atas namaku, karena sesungguhnya siapa yang berdusta atas namaku maka ia akan masuk neraka”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Zaman seperti ini telah diprediksi oleh sahabat nabi, Abdulloh bin Abbas, sahabat nabi yang langsung  Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam mendoakannya agar diberi ke pahaman yang  kuat dalam beragama,  “Ya Allah berilah ia (Abdulloh bin Abbas) pengertian dalam bidang agama dan berilah ia pengetahuan takwil (tafsir)”. Dan Allah mengabulkan doa Nabi-nya, sehingga Ibnu Abbas terkenal dengan penguasaan ilmunya yang luas dan pengetahuan fikihnya yang mendalam , menjadikannya orang yang dicari untuk di mintai fatwa penting. Dalam perkataannya Abdulloh bin Abbas menyampaikan “akan datang seseorang yang membawa sesuatu yang baru, dengan mendatangkan bidah untuk mematikan sunnah”

Maka dalam menjalankan agama penting untuk klarifikasi menelusuri kebenaran tentang hadist dan dalilnya sebelum beramal. Seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an: “Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting tentang agama, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian. [al-Hujurât/49:6].

Ustadz Ruslanpun memberikan langkah-langkah dalam klarifikasi menelusuri tentang kebenaran hadist atau dalil yang menjadi pedoman untuk beramal. Langkah pertama ialah dengan menayakan sesuatu kepada yang ahlinya (orang yang berilmu atau ulama yang takut kepada Alloh) hal ini merupakan perintah Alloh dalam firmannya : maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (An-Nahl: 43)

Sebagian santri Syubbaanul Uluum saat berbagi ilmu yang dibahas Ustadz Ruslan Gunawan di Masjid Mujahidin Gandasari Katapang Kabupaten Bandung

Ayat ini berlaku umum dalam segala urusan, baik urusan dunia maupun urusan agama. Konsekuensinya, kita harus mengetahui perbedaan antara urusan agama dan urusan dunia. Lalu, kepada siapa kita harus bertanya? Ayat di atas mengarahkan agar urusan agama ditanyakan kepada ulama (orang yang berilmu dalam hal agama), dan urusan dunia ditanyakan kepada ahlinya.

Selanjutnya langkah ke 2 ialah dengan dengan melihat kepada kehidupan atau amal sholeh sahabat nabi. Jika para sahabat nabi tidak mengamalkan dan mengajarkannya, maka amal tersebut belum tentu amal sholeh yang diamalkan dan diajarkan nabi Muhammad S.A.W. Jadi baik dalam mengamalkan hadist atau dalil, kita perlu melihat dan mempelajari bagaimana sahabat nabi memahami dan mengamalkannya.

Dan langkah ke 3 ialah mengembalikan semua permasalahan dengan kembalikan kepada Al-qur’an dan hadist. Misalnya jika ada permasalahan dalam pendidikan untuk perbaikan umat. Maka lihatlah bagaimana nabi Muhammad mendidik umatnya. Jangan cari cara lain yang sampai kapanpun tidak akan mendatangkan perbaikan umat, jika tidak mengikuti pendidikan yang nabi ajarkan kepada umatnya. Jadi penting kalau ada bimbingan teknis atau pelatihan dalam dunia pendidikan, jangan hanya dihadirkan akademisi atau profesor saja. Hadirkan ulama juga karena mereka lebih mengerti untuk kebaikan manusia di dunia hingga ahiratnya.

Pada ahir interaktif bersama santri madrasah ramadhan Syubbaanul Uluum, Ustadz Ruslan menayakan tentang sejauh mana kita mengenal ulama sunah saat ini dan siapa ulama tersebut. Agar dengan mengenalnya kita dapat mengikuti jejaknya dalam menjalankan sunnah nabi.

(12)