Peduli Anak Yatim, DPK GMNI FPIK, Rencanakan Acara Bukber Dan Santunan

Pewarta : Fitri

Koran SINAR PAGI, Kab.Garut,- Dewan Pengurus Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI) Kabupaten Garut Fakultas Pendidikan Islam dan Keguruan, jelang akhir Ramadan nanti berencana menggelar acara buka bersama serta santunan bagi anak-anak yatim yang ada di lingkungan kabupaten Garut.

Acara yang akan digelar hari ke 23 Ramadan nanti, merupakan serangkaian acara yang pada umunya sudah lazim digelar oleh komunitas, organisasi maupun instansi. Akan tetapi, uniknya kegiatan ini, bagi jajaran Dewan Pengurus Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI) Kabupaten Garut Fakultas Pendidikan Islam dan Keguruan merupakan testimoni sederhana kalangan mahasiswa untuk menilai serta mengevaluasi kadar moral serta jiwa sosial kalangan pejabat pemerintah daerah yang ada dilingkungan kabupaten Garut.

“Acara yang akan kita gelar, sebetulnya acara biasa, hanya saja kita mencoba mencari jawaban sendiri jika melihat kenakalan oknum-oknum pejabat di lingkungan kabupaten Garut, yang gemar bermain anggaran daerah, apakah dengan ajuan sederhana seperti ini mereka berantusias atau tidak.” Ucap Ketua DPK GmnI FPIK, M. Sehabudin, Jumat (10/5/19).

Menurut Sehabudin, kadang dirinya merasa lucu, donasi dengan anggaran yang tidak seberapa besarnya, masih berat dilakukan, berbeda dengan perilaku ‘titip- menitip’ yang kadang ternilai bukan biaya kecil hanya untuk memuaskan kepentingan meskipun kadang berujung tindak pidana.

Lanjut Sehab, ” untuk membuktikan asumsi ini, sebagai bagian dari organisasi elit di kancah nasional, kita melakukan testimoni sederhana dengan gelaran acara bukber serta santunan bagi anak yatim, metode penggalangan dana ini, di prioritaskan diajukan secara subjektif terhadap pribadi pejabat, kita tidak terpokus terhadap realiasi anggaran dari APBD.”

Menyikapi hal ini, pengurus cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI) Kabupaten Garut, Raden Irfan NP mengatakan Pertanyaan itu harus ada jawaban. Dan apa yang menjadi pertanyaan dari kawan-kawan komisariat, akan mereka temukan sendiri. Berbicara soal cara, ada banyak cara, salah satunya iya dengan testimoni yang mereka lakukan. Dan pada akhirnya, mereka sendiri yang akan menilai.

Menurut Raden, salah satu unsur daripada kaderisasi adalah rasa keingin tahuan dalam mencari kebenaran, rasa itu adalah awal dari tegaknya keadilan meskipun harus dengan jalan perlawanan. Bagi Raden, dirinya kadang merasa geli, melihat kasus-kasus dugaan korupsi di kabupaten Garut yang tidak sedikit berujung buntu tanpa kejelasan. Ia berkeyakinan GmnI akan tetap melahirkan kader- kader yang konsisten, kritis dan tajam.

(7)