UR Dalam Bidikan

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh : Dimasmul Prajekan
(Sekretaris PGRI Kab.Bondowoso)

Saat duduk sambil menikmati lezatnya menu hotel,tiba tiba saya ditodong sebuah pertanyaan, “Kok lama tidak muncul tulisannya Mas?” Kata salah seorang peserta Konkerprov V di Hotel Dafam Pasific Surabaya, “He…Kemarin saya cooling down dulu, biasa efek Pemilu.” Jawab saya diplomatis.

Itulah sebuah prolog dan pertanyaan ringan yang tak terduga muncul mengawali pertemuan dengan para kader PGRI.

Memang, menjelang Pemilu dan Pilpres saya tidak terlalu banyak ‘coment’ tentang hiruk pikuk dan gonjang ganjing politik menjelang pemilu dan pilpres. Saya hanya bermaksud menjaga kedekatan yang sama terhadap saudara – saudara kita yang berbeda selera yang tersebar di banyak partai politik. Saya hanya ingin perahu PGRI bisa selamat dari amuk badai pertarungan dua kekuatan yang sama – sama mengklaim memperjuangkan nasib guru dan tetek bengek tentang iming – iming propaganda tentang Indonesia Maju dan Indonesia Menang. He……

Dalam proses penghitungan suara yang belum jua selesai, PGRI Jatim menyelenggarakan Konferensi Kerja Provinsi V tanggal 26 – 28 April 2019.Bertempat di Hotel Dafam Pasific Caesar Surabaya.

Kegiatan ini merupakan konferensi terakhir dalam kepemimpinan yang dikomandani Ikhwan Sumadi. Sebab sekitar bulan Desember 2019 akan dilangsungkan Konferensi Provinsi yang salah satu agendanya adalah memilih nakhoda baru.

Sepertinya para peserta sedikit beranjak dari hingar bingar perhitungan suara dan kritik keras masyarakat terhadap KPU yang dinilai lambat.

Di Konkerprov Jatim kali ini para peserta mencoba memasuki dunia lain. Para peserta secara personal lebih menggigit bicara persiapan non teknis pelaksanaan Kongres PGRI tahun 2019.

Kita tahu salah satu agenda yang amat mahal dalam Kongres adalah pemilihan Ketua PB PGRI baru, sebab mati hidupnya PGRI, peran sentral Sang Komandan akan sangat menentukan.Di otak Sang Ketua, strategi briliant dan inovasi berorganisasi sangat diharapkan.

Saat breakfast, sekelompok paserta dengan santai mendiskusikan tentang sosok yang dianggap mampu mengantar PGRI pada serambi perubahan, Revolusi Industri 4.0. Inilah era yang setiap orang harus memiliki kemampuan berlebih. Apalagi sosok ketua. Kalau tidak, dampaknya, PGRI akan menjadi sampah zaman.

Salah satu nama yang mulai dibedah adalah UR. Dibedah plus minusnya, dibongkar kesejatiannya, dibongkar keikhlasannya. Inilah Konferprov yang berasa Kongres. Wow…

UR adalah Ketua Umum PB PGRI saat ini yang dianggap memiliki skill dan potensi leadership yang pas dengan watak zamannya. Era yang mengedepankan proresionalisme, semangat mau berubah, dan responsif terhadap geliat perjuangan guru dan tidak meninggalkan cara – cara santun dan beretika dalam membangun komunikasi dengan pengambil kebijakan.

Selama UR memimpin, karakter seorang Ibu seorang sangat mewarnai dalam menakhodai PB PGRI. Sosok seorang ibu yang lebih mengedepankan dialog dan lobby dibanding membangun mimbar jalanan dan pendekatan unjuk rasa. Betapa banyak agenda UR dengan Dirjen, Menteri, bahkan RI 1, semua dilakukan dengan diskusi yang bermartabat.

Semua itu dilakukan untuk kepentingan PGRI. UR mulai meninggalkan cara – cara ‘teriak’ dan bakar emosi. Ia lebih membangun suasana kooperatif, ketimbang kontrapoduktif. Tentu tak semua orang suka dengan jalan sunyi yang ditempuhnya. Semua terus dilakoninya dengan cantik dan elegant.

Dalam Konkerprov kali ini bukan sebatas diskusi dan bisik – bisik, dalam sesi tanya jawab, dengan gaya Jawa Timuran, Arief Susanto, Ketua PGRI Gresik secara terang benderang menyebut UR sebagai sosok yang kapabel menakhodai PGRI lima tahun ke depan.

Gayung bersambut, statement Arief menjadi bola liar yang diamini dan mengalir kemana mana. Saya menyaksikan, riuh rendah, berisi dukungan kepada UR mulai mengalir deras. Di pojok – pojok ruang, di saat ‘coffe break’, temanya idem, membongkar sosok Sang Srikandi.

Membedah sosok UR, salah satunya adalah keberhasilannya dalam memperluas pergaulan yang multi kultur,di kancah internasional.Radius pergaulan yang mengglobal ternyata sosok UR memiliki magnet yang kuat sekali.

Hal ini terbukti, saat pemilihan Komite untuk Asia Pasifik dibawah payung International Education, nama UR mampu menggeser kompetitor dari negara lain. Magnet kepemimpinan UR sudah tidak diragukan lagi. UR, go internasional.

Dengan dikukuhkannya UR sebagai Guru Besar di Universitas Negeri Jakarta, menjadi kredit point bagi dirinya bahwa kapabilitasnya tak perlu diragukan lagi. Lantas,apakah benar – benar suara Arief Susanto seirama dengan Pengurus PGRI kabupaten kota ? Kongres PGRI nanti yang menjadi jawabannya.

Selamat kepada Prof.Dr.Unifah Rosyidi.

Pos terkait

banner 468x60