Butir Soal Ke-9 Soal USBN Bahasa Indonesia Tingkat SMP, Dinilai Sarat Unsur Ideologis

Pewarta : Fitri

Koran SINAR PAGI, Kab.Garut,- Persoalan teks Ujian Sekolah Berstandar Nasional atau USBN pada mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk tingkat SMP yang memuat salah satu soal ujian mengenai contoh penarikan kesimpulan dari media pewartaan terkait kasus pembakaran bendera yang bertuliskan lafadz _La Ilaha Ilallah_ di Limbangan Kabupaten Garut oleh oknum Banser menjadi polemik nasional. Substansi soal yang dianggap telah mendiskreditkan salah satu organisasi besar di Republik Indonesia itu, tidak hanya telah menyinggung kalangan organsiasi Banser yang ada dibawah naungan Nahdatul Ulama, melainkan memantik respon keras pengurus cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI) Kabupaten Garut.

Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan GmnI Kabupaten Garut, Raden Irfan NP menyoroti kasus ini dari segi prespektif intervensi yang bersipat ideologis.

Menurut Raden, sangat menyesalkan atas kejadian soal itu, pada dasarnya untuk kepentingan ilmu pengetahuan hal seperti itu bukan masalah, akan tetapi jika dilihat dari substansinya, soal tersebut saya rasa tidak memiliki integritas akademik. Itu lebih terkesan politis yang ditujukan untuk menggiring asumsi siswa yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama bahwa Banser seolah-olah adalah organisasi radikal yang harus di bubarkan. Kita semua tahu bahwa jika dilihat dari latar belakang kasus pembakaran bendera, itu tidak terlepas dari persoalan ideologi. Tentunya Ideologi bangsa yang sedang kita pertahankan sampai saat ini dari rongrongan dan ancaman gerakan ideologis yang berhaluan lain dengan Pancasila.

“Tadi siang Kepala Dinas pendidikannya Pak Totong ada nelpon ke saya, beliau menyampaikan permohonan maafnya atas keteledoran dari adanya bentuk soal seperti itu. Dan pihaknya sudah melakukan tindakan terkait keteledoran dari pihaknya tersebut.” Ujar Raden, Kamis (11/4/19).

Menurut Raden, dengan melihat beberapa indikator dari isi butir soal ke-9 tersebut, pihaknya menduga bahwa sebagian pihak dari Aparatur Sipil Negara yang berkaitan dengan perumusan naskah soal tersebut dirasa telah luntur keyakinannya terhadap ideologi Pancasila, bahkan jika dikaitkan dengan kondisi atmosfer eskalasi politik kita yang sebentar lagi akan menghadapi pemilu, Raden mengindikasikan bahwa ASN yang terlibat dalam hal itu sudah tidak netral lagi.

“Naskah soal itukan tidak serta merta lahir dengan sendirinya, soal itu dirumuskan dan disesuaikan standarnya, kemudian disusun dan di lay out secara teliti agar tidak ada kesalahan dalam penulisannya. Penyusunan soal USBN sebagaimana yang disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut kepada saya bahwa 20% oleh Kemendikbud dan sisanya 80% oleh daerah dan kewenangannya ada di MGMP Garut, menurut hemat saya kok, bentuk soal itu bisa lolos menjadi salah satu butir dari naskah soal Bahasa Indonesia yang pada akhirnya menjadi polemik. Ini ada apa?” Pungkasnya.

(15)