Masyarakat Palabuhanratu Gelar Pesta Adat Nelayan “Labuh Saji”

  • Whatsapp
banner 468x60

Pewarta : Ajid

Koran SINAR PAGI, Kab.Sukabumi,- Masyarakat Palabuhanratu nampak antusias mengikuti upacara adat Pesta Nelayan “Labuh Saji” yang digelar di alun – alun Palabuhanratu didepan Kantor Pemda.Kab.Sukabumi, Sabtu (06/04/19) sekaligus memperingati hari Nelayan yang diikuti ratusan peserta, baik dari masyarakat dan pelajar serta berbagai elemen masyarakat lainnya.

Kegiatan yang biasa disebut “Labuh Saji” ini merupakan tradisi turun-temurun nelayan Palabuhanratu yang telah dilakukan sejak abad ke 15 sebagai penghormatan kepada seorang putri yang bernama Nyi Putri Mayangsagara atas perhatiannya terhadap kesejahteraan nelayan.

Upacara Adat “Labuh Saji” Nelayan Palabuhanratu, Kab.Sukabumi

Mayangsagara melakukan labuh saji untuk memberikan bingkisan kepada Nyi Roro Kidul yang waktu itu dipercaya sebagai penguasa laut selatan agar rakyatnya mendapat kesejahteraan dari pekerjaan mereka sebagai nelayan.

Labuh Saji sendiri memiliki arti, melabuh/menjatuhkan sesajen ke laut dengan harapan agar hasil tangkapan berlimpah setiap tahun serta memelihara hubungan baik dengan penguasa Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul.

Upacara adat Labuh Saji dilepas oleh Bupati Sukabumi, H.Marwan Hamami dan dihadiri Ketua DPRD Kab.Sukabumi, H.M.Agus Mulyadi, anggota DPR-RI dari Fraksi PPP, Hj.Reni Marlinawati, Kapolres Sukabumi AKBP.H.Nasriadi, Dandim 0622, Letkol.Inf.Haris Sukarman, Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Ketua DPC HNSI Kab.Sukabumi, Ketua DPD HNSI Jawa Barat beserta tamu undangan lainya.

Ketua DPC HNSI, Kab.Sukabumi H.Dede Ola mengatakan, masyarakat nelayan Palabuhanratu merupakan nelayan kecil dengan bobot tonase kapal yang kecil dan alat tangkap yang sederhana,bsehingga hasil tangkapannya pun sangat minim dan tidak maksimal.

“Masyarakat nelayan Palabuhanratu tidak pernah menggunakan Bom dan alat tangkap pukat harimau, artinya potensi sumber daya laut di teluk Palabuhanrtu masih terjaga kelestarian dan ekosistemnya,” lanjutnya.

H.Dede Ola mengajak seluruh stakeholder dan masyarakat yang peduli terhadap nelayan untuk bersama-sama membantu nelayan dan lautnya, “Berikan kenyamanan bagi nelayan yang beroprasi dengan menerbitkan payung hukum yang berpihak terhadap nelayan,” ucapnya.

Sementara menurut Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Kab.Sukabumi, Iwan Kusdian, dengan adanya transformasi sosial budaya akibat derasnya globalisasi berdampak terhadap rendahnya apresiasi masyarakat pada budaya sendiri.

Hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kurangnya pengetahuan tentang makna, nilai dan pesan moral yang terkandung dalam keseluruhan budaya, “Dengan dibuatnya sejarah singkat verdiringa Palabuhanratu diharap dapat mengenalkan aspek – kebudayaan dan perdaban para leluhur kita dalam memelihara lingkungan,” ujar Iwan.

Iwan mengucapkan terimakasih kepada tim penulis, nara sumber, editor serta pihak lain yang berupaya untuk dibuatnya sejarah singkat Palabuhanratu tersebut.

Pos terkait

banner 468x60