Ustadz Ruslan Ajak Umat Bangun Keluarga Sakinah Mawaddah Warohmah

Pewarta: Dwi Arifin S.Pd

Koran Sinar Pagi ( Kabupaten Bandung)-, Safari dakwah Ustadz Ruslan Gunawan minggu 27 januari 2019 berlangsung di masjid At-Takwa Cicukang Kopo Margahayu dan Al-Amanah Gading Junti Asri Katapang. Ustadz Ruslan Gunawan didampingi oleh para pencari ilmu majelis Syubbanul Uluum. Isi safari dakwahnya tentang rumah tangga yang menggapai sakinah mawadah warrohmah.

Dalam prolog dakwahnya Ustadz Ruslan Gunawan menyampaikan “sungguh luar biasa, saat kita berkumpul di masjid lalu membahas dan memahami kitabulloh dan as-sunah diwaktu ahad ini”

Dan silahturami ini merupakan bentuk kebahagian dengan kita sesama muslim melihat saudara kita seiman bersama-sama memahami dan mengamalkan agama. Ada keistimewaan dari pengajian akbar ini, karena didukung dan dilaksanakan oleh generasi muda dan orang tua ahir zaman. Ini diantara bentuk ketaatan kepada Alloh dan rosul-Nya.

Ingatlah barang siapa yang memperhatikan mementingkan urusan Alloh dan Rosul-Nya. Maka Alloh akan mengurusi mencukupi urusan – urusannya. Sebagai mana dijelaskan Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu}. (At Thalaq 2-3)

Maka ambilah apa yang saya sampaikan dari sumber Al-Quran dan As-sunah.

Kalau menurut udangan dari masjid ini temanya adalah rumah tanggamu ibadahmu. Kalau bicara rumah tangga disini, bukan bicara seberapa banyak udangan saat pernikahan dan siapa orang kaya yang diundangnya. Atau gedung mewah saat nikah hingga rumah mewah setelah berkeluarga. Tapi kita akan bicara tentang rumah tangga yang dicontohkan rosululloh.

Nabi Muhammad mengajarkan bahwa dasar untuk berumah tangga ialah konsep ibadah. Dan menurut Ibnu Taimiyah ibadah setiap apa yang Alloh ridhoi dan cintai, baik dalam ucapan atau perbuatan yang nampak atau tidak nampak.

Maka bawalah pernikahan ini ke makna ibadah. Bukan niat menikah karena malu karena ucapan tetangga sehingga malu menjadi dasar pernikahan. Tapi dasari pernikahan itu karena Alloh dan Rosul-Nya. Dengan meneladani apa yang diajarkan oleh nabi Muhammad. Dan ingatlah nikah dan membangun keluarga tidak cukup modal cinta. Perlu modal ilmu agama dan iman.

Dalam kitabulloh dijelaskan diantara tujuan menikah “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum [30]: 21)

Jadi kalau banyak orang yang menikah tapi tidak tentram. Berarti ada yang salah saat proses pernikahan atau pedoman dalam berkeluarganya. Banyak orang menginginkan kebahagian, tapi mereka tidak menempuh jalannya. Ingatlah perahu atau bahtera tidak akan berlayar di daratan.

Harus ada kesepakatan diawal antara suami dan istri untuk komitmen ibadah dan jihad bersama-sama. Mencarai nafkah yang halal merupakan jihad. Ini diantara berjihadnya suami mencari nafkah dan ilmu untuk keluarga. Sang istri berjihad dengan mengurus mendidik anak- anak dan merawat rumahnya hingga memenuhi kebutuhan suaminya.

Ustadz Ruslan juga mengingatkan agar para orang tua tidak salah menikahkan anaknya yang telah dewasa. “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur : 32)

Dan pada kesempatan lain di masjid Al-amanah Katapang Ustadz Ruslan Gunawan memaparkan tentang  dasar dasar pernikahan “Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.”

Wahai saudaraku, ini bukan berarti bahwa kecantikan itu tidak diperlukan. Tetapi yang dimaksud ialah jangan membatasi pada kecantikan, karena itu bukan prinsip bagi kita dalam memilih isteri. Pilihlah karena agamanya; dan jika tidak, maka engkau tidak akan bahagia. Yakni, berlumuran dengan tanah berupa aib yang bakal terjadi padamu setelah itu disebabkan isteri tidak mempunyai agama.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr secara marfu’, ia mengatakan: “Jangan menikahi wanita karena kecantikannya, karena bisa jadi kecantikannya itu akan memburukkannya; dan jangan menikahi wanita karena hartanya, bisa jadi hartanya membuatnya melampui batas. Tetapi, nikahilah wanita atas perkara agamanya.

Selanjutnya Ustadz Ruslan berbagai tentang 3 dasar agar pernikahan mendatangkan sakinah, mawadah warrohmah.

  1. Pernikahan harus didasari jihad.
  2. Harus ada kelemah lembutan dari suami dan istri
  3. Sikap saling memaafkan.

Saat diahir dakwahnya Ustadz Ruslan bercerita tentang Asma’ binti Yazid al-Anshariyyah,  (Juru Bicara Kaum Wanita). Dia datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau berada di tengah-tengah Sahabatnya seraya mengatakan: Sesungguhnya Allah mengutusmu dengan kebenaran kepada kaum pria dan wanita, lalu kami beriman kepadamu dan kepada Rabb-mu yang mengutusmu.

Kami kaum wanita dibatasi; tinggal di rumah-rumah kalian, tempat pelampiasan syahwat kalian, dan mengandung anak-anak kalian. Sementara kalian, kaum pria, dilebihkan atas kami dengan shalat Jum’at dan berjama’ah, men-jenguk orang sakit, menyaksikan jenazah, haji demi haji, dan lebih utama dari itu ialah jihad fii sabiilillaah. Jika seorang pria dari kalian keluar untuk berhaji, berumrah atau berjihad, maka kami memelihara harta kalian, membersihkan pakaian kalian, dan merawat anak-anak kalian.

Lalu apa yang bisa membuat kami mendapatkan pahala seperti apa yang kalian dapatkan, wahai Rasulullah?” Mendengar hal itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh kepada para Sahabatnya, kemudian bertanya: “Apakah kalian pernah mendengar perkataan seorang wanita yang lebih baik daripada wanita ini dalam pertanyaannya tentang urusan agamanya?”

Mereka menjawab: “Wahai Rasulullah, kami tidak menyangka ada seorang wanita yang men-dapat petunjuk seperti ini.” Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh kepadanya seraya berkata kepadanya: “Pergilah wahai wanita, dan beritahukan kepada kaum wanita di belakangmu bahwa apabila salah seorang dari kalian berbuat baik kepada suaminya, mencari ridhanya dan menyelarasinya, maka pahalanya menyerupai semua itu.” Kemudian wanita ini berpaling dengan bertahlil dan bertakbir karena gembira dengan apa yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

(113)