Kasus Sengketa kavling Pondok Dustira, PN Bale Bandung Sidang Ditempat !

Pewarta : Lipsus

Koran SINAR PAGI, Kabupaten Bandung Barat,- Kasus sengketa kavling perumahan Pondok Dustira Indah yang terletak di Desa Gado Bangkong,  Kec. Ngamprah, antara tergugat Anggelia dan pengugat Asep Saepudin selaku Direksi PT. Euntrep Endah Mandiri kembali bergulir, kali ini pihak PN Bale Bandung melakukan Sidang di tempat lokasi. Jumat (18/10) kemarin.

Hadir dalam sidang,  Hakim kukuh kalinggo yuwono, SH. MH, Siti Hamidah, SH, MH, Panitera yeyen, SH, dari BPN Kab. Bandung Barat, Joko bersama Hartini, perwakilan dari PT. KCIC serta Wakapolsek dan Danramil Padalarang.

Menurut pengakuan tergugat, angelina bahwa dirinya sudah membeli kavling tersebut sejak tahun 2013 dengan bukti yang syah dan terlampir sesuai aturan.

” Kavling ini sebanyak 16 unit ini kita beli sesuai prosedur, bahkan sudah ada akta jual belinya, sppt dan kuitansi pembelian, semua lengkap, ” keluhnya.

Anggelia bersikukuh, bahwa tanah tersebut mutlak milik dia dan sampai kapanpun tetap dipertahankannya.

” Saya akan lawan,  ini uang saya dengan susah payah untuk ngumpulin, bahkan asep seenak rampas pohon tebang kayu jati dilokasi tanah itu, saya kan yang tanam, mana letak keadilan.!, kalau perlu saya menghadap presiden.. ,” tandas angelia dengan emosi.

Hal itu, dibenarkan pengacara tergugat, Frederikcus YD, SH, MH, menurutnya,  keabsahan kelengkapan tergugat sudah sesuai legalitas formal.

” Saya rasa semua persyaratan angelia sudah sesuai bukti kepemilikan, justru banyak ketimpangan yang perlu dipertanyakan publik tentang penggugat, seperti ada rekayasa,” pungkasnya.

Sementara korban lain tergugat, Dede mengaku sangat kecewa atas prilaku pengunggat yang dinilai tidak rasional.

” Saya juga tergugat,  bahkan saya dulu developernya, saya juga beli kapling disitu sebagai pembeli,  kok aneh masa pembeli digugat oleh penjual,  dan hakim memperbolehkan, ada apa dengan aparat penegak hukum ini? ” Cetus Dede.

Situasi Sidang kasus kavling pondus, jumat (18/10) kemarin. 

Untuk itu, Dede berkeinginan, kasus ini akan diajukan ke MA, bahkan sampai presiden.

” Saya cape,  lapor polisi kurang respon, bahkan keluar SP3,  makanya saya buat surat untuk mabes polri, makamah Agung,  bahkan presiden.” Katanya.

Sementara, istri pengugat Juwita Ruswayanti mengkaui jumlah 15 sertifikat tersebut masih milik PT. Euntreup Endah Mandiri.

” Saya akui betul, 1 (satu) sertifikat telah menjadi kepemilikan angelia, namun sisanya tetap milik kita, ” elaknya.**

(212)