Jalan Berdebu Dan Berlubang, Warga Ancam Lakukan Aksi

Pewarta : Heri Kusnadi

Koran SINAR PAGI, Ogan Ilir,- Kondisi ruas jalan Tanjung Raja dan sekitarnya yang berdebu dan berlubang diduga akibat lalu lalang truk berukuran besar pengangkut tanah dan pasir milik PT Waskita untuk pembangunan jalan tol dan PT milik salah satu perusahaan dari Thailand yang sedang dalam pembangunan di Desa Tanjung Serian dan Desa Santapan menimbulkan keresahan warga, pasalnya tanah yang diangkut kendaraan super besar tersebut kerapkali berjatuhan, akibatnya debu yang mencemari udara pun menjadi pemandangan biasa diwilayah ini.

Selain kondisi lingkungan menjadi kotor, warga juga mengaku khawatir, bila kondisi ini dibiarkan berlarut – larut akan menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat, terutama pada gangguan pernafasan.

Yang lebih parah, untuk memperbanyak tripnya, para supir truk yang mengangkut tanah dan pasir tersebut, kerap uga-ugalan, mereka saling adu cepat tanpa menghiraukan keselamatan pengguna jalan lain.

Keluhan masyarakat Tanjung Raja terkait kondisi tersebut sudah sering kali diungkapkan melalui sosial media dan pemberitaan diberbagai media baik cetak maupun elektronik, namun hingga saat ini tak satu pun pejabat terkait baik ditingkat daerah maupun provinsi yang tergerak untuk menindaklanjuti keluhan tersebut.

Sikap berdiam diri para pejabat Pemkab OI dan Provinsi Sumatera Selatan ini menimbulkan dugaan masyarakat bahwa pemerintah ingin membunuh dan menyiksa masyarakat Ogan Ilir secara perlahan-lahan melalui debu-debunya, “Mereka yang menikmati hasilnya, warga Tanjung Raja dan sekitarnya yang menerima dampak buruknya,” ucap Azhuar salah satu warga Ogan Ilir didampingi LSM Ampera, Senin (08/10/18).

Azhuar salah satu warga Ogan Ilir dari LSM Ampera

Herannya kata dia, bukannya mencari solusi mengatasi hal ini, para pejabat terlihat cendrung lebih banyak melakukan pencitraan diri ketimbang memperhatikan kepentingan masyarakat.

“Keselamatan dan kesehatan masyarakat Tanjung Raja dan sekitarnya terancam, sudah banyak warga baik tua, dan anak-anak yang terjangkit penyakit seperti sesak napas, batuk dan sakit mata, terutama anak-anak Keselama mereka terancam, karena setiap hari melintasi jalan utama ketika pulang dan pergi ke sekolah sambil menikmati debu-debu jalanan dan polusi udara kenalpot kendaraan,” tuturnya.

Dia mengaku tidak bermaksud untuk menghentikan kegiatan itu, tapi paling tidak lanjutnya, Pemerintah Ogan Ilir dan pemerintah kota Sumsel dapat mengigatkan pengusaha agar mencari solusi terkait keluhan masyarakat ini, “Siapa saya, kalau untuk menghentikan kegiatan ini, paling tidak pihak – pihak yang bersangkutan dalam masalah ini mendengar dan mencari solusi mengatasi apa yang menjadi keluhan masyarakat, jalan berdebunya disiram air lah, sopir juga jangan kebut – kebutan, karena itu yang membuat kami cemas saat berkendara,” katanya lagi.

Namun, lanjutnya, Kalau Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir dan pemerintah Sumatera Selatan tidak menghiruakan keluh kesah warga masyarakat Tanjung Raja dan sekitarnya dalam kurun waktu satu minggu ini, maka warga akan melakukan aksi turun ke jalan (demo) menghentikan mobil-mobil tersebut beroperasi, tambahnya.

Dia mengaku aneh, dimana-mana jalan raya itu warnanya hitam, makanya disebutlah Aspal hitam, namun di jalan raya Tanjung Raja ini beda, jalannys menguning penuh dengan tanah hingga debunya beterbangan dan paling parahnya lagi ini sudah berlangsung lama namun tidak ada pihak yang berkopenten yang memperhatikannya.

“Ada dugaan mereka yang bertugas dibidang itu, sudah kekenyangan hingga tidak dapat lagi bergerak melihat kenyataan yang terjadi dilapangan dan ujung-ujungnya selalu masyarakatlah yang menjadi korbannya,” pungkas Azhuar,SH.

(44)