Divonis 1 Tahun Penjara, Pegawai KUA Medan Belawan Tersenyum

Pewarta : Ester

Koran, SINAR PAGI, Kota Medan,– Nurma, PNS Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Belawan yang diringkus dalam operasi tangkap tangan (OTT) Subdit III/Tipikor Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Poldasu Februari 2018 lalu terkait kasus kutipan biaya penerbitan Buku Nikah pasangan pengantin baru, tersenyum dan tampak santai saat majelis hakim mengganjarnya dengan vonis 1 tahun penjara dan denda Rp.50 juta subsider 1 bulan kurungan.

Ketua majelis hakim dalam amar putusannya menyatakan terdakwa dinyatakan bersalah telah melakukan korupsi melanggar Pasal 12 huruf e UU No. 20 tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 65 ayat (1) KUH Pidana.

“Menyatakan terdakwa bersalah melakukan korupsi pemungutan biaya penerbitan Buku Nikah pasangan pengantin baru.” ucap ketua majelis hakim Syafril Batubara dihadapan terdakwa dan penuntut di Ruang Cakra VI PN Medan, Senin (03/09) sore.

Menyikapi putusan ini, terdakwa dan penuntut umum menyatakan pikir-pikir. Sebelumnya diketahui JPU Akbar Pramadhana, menuntut terdakwa dengan hukuman 1 tahun 2 bulan penjara dengan denda Rp.50 juta subsider 2 bulan kurungan.

Diketahui adanya praktek pungli ini berawal saat saksi Dedek Sumarna dan Juliani pada tanggal 05 Februari 2018 di kantor KUA Kecamatan Medan Belawan bertemu dengan terdakwa dengan tujuan kedatangan tersebut untuk mengurus penerbitan Buku Nikah atas nama adiknya yang bernama Suryani yang sudah melaksanakan pernikahan siri pada tanggal 29 Januari 2018 dengan Faisal.

Keduanya menanyakan berapa biaya pernikahan jika pasangan gadis dan bujangan, dan dijawab oleh terdakwa biaya nikah dan penerbitan buku nikah sebesar Rp.700 ribu.

Kemudian kedua saksi memberitahukan kepada terdakwa bahwa adiknya yang bernama Suryani dan suaminya (Faisal) masing masing telah pernah menikah dengan orang lain dan sudah bercerai dibawah tangan.

Bahkan dalam pertemuan itu saksi Dede dan Istrinya juga memberitahukan bahwa keduanya yaitu Suryani dan Faisal telah menikah siri pada tanggal 29 Januari 2009.

Lalu kedua saksi memohon kepada terdakwa agar terdakwa dapat memproses akad nikah atas nama Suryani dan faisal di KUA serta menerbitkan surat nikah dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Medan Belawan.
Atas permohonan tersebut terdakwa bersedia membantu asalkan saksi Dedek Sumarna dan Juliani menyiapkan uang tunai Rp.2 juta.

Sempat terjadi tawar menawar harga, namun terdakwa tidak mau jika biaya tersebut diturunkan lagi mengingat pasangan ini berstatus Janda dan Duda.

Permintaan uang sebesar Rp.2 juta tersebut oleh terdakwa dikabulkan, asalkan terdakwa bisa mengurus proses Akad Nikah di KUA dan penerbitan surat/Buku Nikah, mengingat bahwa pasangan (Suryani dan Faisal) berstatus Janda dan Duda cerai maka seharusnya keduanya menunjukkan dan melampirkan bukti Surat Cerai yang diterbitkan oleh Kantor Pengadilan Agama setempat.

Akhirnya saksi Dede Sumarna dan Juliani terpaksa menyetujui permintaan terdakwa atas biaya sebesar Rp.2 juta dan disepakati untuk proses akad nikah di KUA Kec. Medan Belawan dan penyerahan buku nikah direncanakan pada Hari Kamis tanggal 08 Februari 2018
Kemudian saksi kembali datang menemui terdakwa di kantor KUA Kecamatan Medan Belawan dan menyerahkan dokumen persyaratan akad nikah dan penerbitan buku nikah.

Sesaat setelah menerima dokumen persyaratan tersebut, terdakwa menuliskan status jejaka pada nama Faisal di Kartu Keluarganya dan menuliskan status perawan pada nama Suryani di kartu Keluarganya, hal ini dilakukan oleh terdakwa agar membuat seolah olah pasangan tersebut adalah Jejaka dan Perawan, karena jika dituliskan Duda dan Janda maka diperlukan adanya bukti surat Cerai dari Kantor Pengadilan Agama setempat.

Selanjutnya pada Rabu tanggal 14 Februari 2018 sekitar pukul 11.00 Wib, saksi Dedek Sumarna dan Juliani mendatangi terdakwa di kantor Urusan Agama kecamatan Medan Belawan sambil membawa amplop berisikan uang Rp. 2 juta setelah bertemu dengan terdakwa, saksi Juliani menyerahkan uang tersebut kepada terdakwa Nurma namun tiba-tiba datang petugas Kepolisian dan menangkap terdakwa berikut mengamankan barang bukti uang Rp.2 juta.

Bahwa setelah dilakukan pemeriksaan dan penggeladahan ditemukan uang sebesar Rp.4.2 juta di laci meja terdakwa yang ternyata sebelumnya terdakwajuga telah meminta dengan paksa dan menerima sejumlah uang dari para calon mempelai atau orang tua dari calon mempelai dalam pengurusan pernikahan.

Sementara informasi diproleh, diringkusnya terdakwa dalam operasi tangkap tangan (OTT) Subdit III/Tipikor Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Poldasu pada Februari 2018 lalu diduga adanya kerjasama antara saksi Dedek Sumarna dan Juliani dengan polisi Poldasu.

“Itu Dedek dan istrinya Juliani sengaja menjebak terdakwa. Kalau istilah pasaran Dedek dan Juliani itu diduga kibus atau rusa,” kata seorang pengunjung usai sidang digelar di PN Medan.

(11)